Tinjau Ulang Hasil DIPAM 2018

Yogi Sulistyo dari D4 Teknik Elektro, menanyakan mengenai pelayanan parkir, dalam kegiatan Dialog Pimpinan dan Mahasiswa Politeknik Negeri Malang tahun 2018 (Nia)

Dialog Pimpinan dan Mahasiswa atau sering disebut Dipam adalah salah satu sarana bagi seluruh mahasiswa Politeknik Negeri Malang (Polinema) untuk menyampaikan aspirasi mereka mengenai kampus biru. Dipam rutin diadakan sekali setahun untuk menampung dan memantau masalah-masalah yang ada. Mahasiswa diberikan kebebasan untuk langsung bertanya kepada Direktur dan Pembantu Direktur sesuai bidang yang ditangani. Mulai dari bidang akademik, sarana prasarana, kemahasiswaan, hingga bidang kemitraan. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) ini hasilnya akan terus di follow up hingga Dipam di tahun selanjutnya. Setiap tahunnya pertanyaan yang muncul semakin beragam dan menarik untuk terus diikuti perkembangannya. Namun tetap ada saja masalah yang dirasa belum terselesaikan hingga Dipam tahun berikutnya diselenggarakan. Lalu apa saja pertanyaan yang muncul dan mampu mewakili keluh kesah beberapa mahasiswa lain di Dipam 2018?

Persoalan pertama yang sepertinya tetap mendominasi di setiap tahun adalah kondisi parkiran di Polinema. Seperti Yogi Sulistyo, D4 Teknik Elektronika, yang mengaku mendapatkan perlakuan kurang menyenangkan dari petugas parkir. Yogi menganggap bahwa perlakuan tersebut akibat penumpukan mahasiswa yang akan memarkir motor. Bapak Halid Hasan selaku Pudir 2, menjelaskan bahwa penumpukan parkiran disebabkan oleh tempat parkir basement Graha Polinema (Grapol) yang dialihfungsikan menjadi Laboratorium Elektronika. Sehingga penumpukan kendaraan terdapat di seluruh tempat parkir yang ada. Untuk mengatasi hal tersebut, pihak Polinema melakukan perluasan lahan parkir di sekitar gedung Teknik Kimia, dengan kapasitas sekitar 400 motor. Selain itu, Polinema juga mulai bekerja sama dengan beberapa mitra kerja untuk menambahkan parkir bertingkat dengan tetap mempertimbangkan sisi estetika.

Selain pertanyaan Yogi, salah satu mahasiswa Teknik Sipil, Jonathan, memberikan saran mengenai permasalahan parkir yang semakin tahun semakin menjadi. Jonathan berasumsi apabila permasalahan parkir di Polinema dapat dikurangi dengan adanya akomodasi dari kampus, misalnya bis untuk mahasiswa. Namun Bapak Halid memberikan pertimbangan bahwa nantinya dalam masterplan Polinema akan dibuat pemusatan parkir hanya pada satu tempat. Sehingga  akan diberikan kendaraan internal kampus berupa sepeda. Selain itu, Direktur Polinema Bapak Awan Setiawan juga menambahkan bahwa pada tahun 2019 rencananya akan dibangun asrama mahasiswa Polinema.

Tidak hanya mengenai parkiran, bidang dua mengenai sarana prasarana juga digencar dengan permasalahan UKT. Syariful Ulum mahasiswa D3 Teknik Listrik menanyakan mengenai prosedur dan kejelasan keringanan Uang Kuliah Tunggal (UKT). Bapak Halid menjelaskan bahwa sudah sejak bulan Juli sudah dicantumkan untuk mahasiswa yang meminta keringanan UKT bisa mengurus disertai berkas yang valid dan mendukung. Beliau menambahkan bahwa bagi mahasiswa yang diberikan kesempatan untuk menunda pembayaran UKT harus mampu memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Karena apabila terlambat terlalu jauh maka mahasiswa tidak akan terdaftar sebagai mahasiswa Polinema. Keringanan UKT menurut Bapak Halid dapat dilakukan dalam beberapa kesempatan, namun untuk periode awal memang sulit dilakukan karena pembayaran UKT pertama kali sudah ditetapkan sejak awal.

Pertanyaan yang tak kalah menarik dari isu parkiran dan keuangan UKT adalah mengenai tata cara komunikasi yang baik antara mahasiswa dan dosen. Terdapat beberapa mahasiswa yang mengeluh dengan tanggapan beberapa dosen ketika berkomunikasi via telepon. Bapak Supriyatna selaku Pudir 1 menyarankan jika berkenaan dengan masalah perkuliahan akan lebih baik dibicarakan dengan tatap muka langsung di kampus. Menurut beliau cara tersebut dinilai jauh lebih efektif karena komunikaasi lisan bisa diinterpretasikan dengan mudah. Beliau juga menambahkan bahwa kemampuan softskill seorang mahasiswa dapat diukur dari kemampuannya berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang lain. Selain itu, menurut beliau etika dalam berkomunikasi harus tetap dijaga agar tidak timbul kesalahpahaman antar dosen dan mahasiswa.

Tidak berhenti disitu, bidang sarana prasarana kembali menjadi sorotan mahasiswa ketika mahasiswa merasa kebijakan kompensasi di Polinema kurang jelas. Dimas Dwi Prasetyo, mahasiswa D3 Teknik Listrik ini menanyakan mengenai kejelasan kebijakan kompensasi yang berbeda setiap jurusan. Bapak Awan menjelaskan bahwa apapun jurusannya, berapapun jumlah jamnya, kompensasi tidak boleh dibayar menggunakan uang dan harus dibayar dengan melakukan perkerjaan. Bapak Awan menjelaskan bahwa mahasiswa yang boleh mengganti kompensasi dengan membayar hanya mahasiswa tingkat akhir. Seharusnya mahasiswa bisa bijaksana melakukan kompensasi dengan bekerja bukan dengan uang untuk alasan apapun. Karena menurut Direktur, dana perbaikan fasilitas dan penambahan alat penunjang perkuliahan sudah ada anggaran tersendiri tanpa harus mengambil dana kompensasi. Untuk menanggulangi mahasiswa yang terus membandel dengan mengganti kompensasi dengan uang, maka Direktur memutuskan untuk membuat nota dinas yang akan diserahkan kepada seluruh jurusan. Nota dinas yang dimaksud adalah penggantian kompensasi harus dengan bekerja bukan dengan uang, berapapun jumlah jam kompensasi yang dimiliki.

Masalah kemitraan yang cukup sering diperbincangkan adalah mahasiswa merasa kegiatannya terganggu karena Aula Pertamina ataupun Grapol digunakan oleh mitra kampus. M. Adhe salah satu mahasiswa Teknik Sipil mengaku kurang nyaman dengan adanya acara resepsi saat Pra Stud berlangsung. Bapak Awan kembali menjelaskan bahwa Polinema memaksimalkan pendapatan diluar UKT. Sehingga bekerja sama dengan mitra merupakan salah satu langkah efektif bagi Polinema. “Mari kita membuat perencanaan sebaik baiknya terkait kegiatan organisasi yang akan dilaksanakan tahun depan, sehingga idol capacity bisa lebih dimaksimalkan”, ujar Pak Awan. Beliau juga menambahkan bahwa booking pemakaian Aula Pertamina ataupun Grapol sudah dilakukan minimal 3 bulan sebelum hari-H. Sedangkan tanggal pasti dari Pra Studi baru ditetapkan lebih dekat dengan hari-H Namun Ade juga memberikan masukan agar adanya skala prioritas agar tidak mengubah jadwal Pra Studi jurusan, karena ini juga menyangkut kegiatan penerimaan mahasiswa baru.

Dari sekian banyak aspirasi, pertanyaan diatas dirasa mewakili sebagian besar pertanyaan seluruh mahasiswa Polinema. Tidak berhenti di Dipam saja, seharusnya hasil dari berdialog antara mahasiswa dan pimpinan dapat terlaksana sebagaimana mestinya. Selain itu, mahasiswa juga harus ikut andil dan membantu pihak kampus agar dapat mewujudkan solusi-solusi yang sudah dijanjikan diatas. Sinergi seluruh warga Polinema sangat dibutuhkan dalam pembangunan menuju Polinema yang lebih baik.

(Nia)

Related Posts