January 22, 2020

Setiap Kamis, Mereka Menagih Janji Manis

4 min read

Tiga belas tahun Aksi Kamisan di Jakarta

Sumber: tirto.id

Hidup Korban! Jangan Diam! LAWAN!!!

Setiap jargon dikumandangkan sambil mengepalkan tangan kiri, orang-orang akan berkumpul dengan atribut serba hitam ditambah payung dan poster-poster seakan menyuarakan tuntutan mereka yang ditinggalkan. Tanggal 13–15 Mei 1998 adalah hari-hari kelam bagi Bangsa Indonesia. Dikenal sebagai peristiwa Kerusuhan Mei 1998, Jakarta, Medan, Surakarta, dan kota-kota besar lainnya di Indonesia diterpa isu-isu terkait dengan suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA). Gesekan langsung antara aparat dan masyarakat sipil semakin gencar terjadi. Di bawah kekuasaan rezim Orde Baru, reformasi meletup akibat banyaknya kasus pelanggaran berat terkait Hak Asasi Manusia (HAM).

Widji Widodo atau lebih dikenal sebagai Widji Thukul merupakan salah satu aktivis HAM sekaligus sastrawan yang ikut melawan penindasan rezim Orde Baru. Pada akhir tahun 1998, dirinya dinyatakan hilang. Tak pernah diketahui keberadaannya hingga hari ini sejak terakhir terlihat di Utan Kayu, Matraman, Jakarta Timur. Masih banyak aktivis HAM yang hilang dan tidak diketahui keberadaannya. Kejelasan tentang hidup atau mati mereka tidak pernah terungkap. Para aktivis ini hanya dinyatakan hilang dengan dugaan diculik oleh militer. Dilansir dari mojok.co, kawan seperjuangan Widji Thukul yang juga dinyatakan hilang di antaranya adalah:

  1. Dedy Umar Hamdun, hilang pada 29 Mei Ia terakhir terlihat di Tebet, Jakarta Selatan
  2. Herman Hendrawan, hilang pada 12 Maret 1998. Ia terakhir terlihat  di gedung Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia  (YLBHI)
  3. Hendra Hambali, hilang  pada 14 Mei 1998. Ia terakhir terlihat  di Glodok Plaza, Jakarta Pusat
  4. Ismail, hilang  pada 29 Mei 1997. Ia terakhir terlihat  di Tebet, Jakarta Selatan
  5. Yusuf, hilang  pada 7 Mei 1997. Ia terakhir terlihat  di Tebet, Jakarta Selatan
  6. Nova Al Katiri, hilang pada 7 Mei 1997. Ia terakhir terlihat  di Jakarta
  7. Petrus Bima Anugrah, hilang  pada 1 April 1998. Ia terakhir terlihat  di Grogol, Jakarta Barat
  8. Sony, hilang pada 26 April 1997. Ia terakhir terlihat  di Kelapa Gading,  Jakarta Utara
  9. Suyat, hilang pada 13 Februari 1998. Ia terakhir terlihat  di Solo, Jawa Tengah
  10. Ucok Munandar Siahaan, hilang pada 14 Mei 1998. Ia terakhir terlihat  di Ciputat, Tangerang SelatanYani
  11. Afri, ia hilang  pada 26 April 1997. Ia terakhir terlihat  di Kelapa Gading,  Jakarta Utara
  12. Yadin Muhidin, ia hilang  pada 14 Mei 1998. Ia terakhir terlihat  di Sunter Agung,  Jakarta Utara.

Sejarah kelam tentang pelanggaran HAM di Indonesia juga tampak pada tragedi Semanggi I, Semanggi II, Trisakti, Tamansari, Tanjung Priok dan Tragedi 1965. Setelah belasan tahun berlalu, penyelesaian secara yudisial tidak pernah dilakukan terhadap pihak-pihak yang menjadi dalang kerusuhan tersebut. Lebih miris lagi ketika isu-isu tersebut akhirnya bisa hangat diperbincangkan, namun sebatas menjadi komoditas politik kelompok tertentu. Merasa tidak ada langkah konkret oleh birokrat, korban yang selamat dan keluarga korban pelanggaran HAM bersama-sama melakukan gerakan menuntut pemerintah untuk segera menyelesaikan kasus-kasus tersebut.

Aksi Kamisan, demikian gerakan tersebut dikenal. Berlangsung setiap Kamis pukul 16.00-17.00 WIB sejak 18 Januari 2007, mereka berdiri dan diam di seberang Istana Negara. Mereka juga mengirimkan surat kepada presiden, menggelar spanduk, foto korban, dan membagikan selebaran untuk para pengguna jalan. Tuntutan mereka selalu sama, yaitu penyelesaian kasus-kasus pelanggaran HAM yang hingga kini masih terhambat di Kejaksaan Agung.

Maria Catarina Sumarsih, ibunda Benardinus Realino Norma Irawan, mahasiswa Universitas Atma Jaya yang menjadi korban peristiwa Semanggi I

Sumber: cnnindonesia.com

Tepat 18 Januari 2020, Aksi Kamisan genap berusia tiga belas tahun. Tidak ada yang menyangka aksi ini akan berlangsung selama ini. Mulai dari puisi hingga surat kritikan terhadap pembentukan komite tim gabungan penyelesaian HAM berat, pernah mereka kirimkan kepada Susilo Bambang Yudhoyono dan Joko Widodo di era kepemimpinannya masing-masing. Menurut Maria Catarina Sumarsih sudah ada 30 kota yang menggelar Aksi Kamisan. Meskipun di beberapa kota Aksi Kamisan dilarang, bahkan di Bogor dan Bukittinggi massa aksi dituduh bagian dari Partai Komunis Indonesia (PKI). Miris saat mengetahui fakta bahwa peserta Aksi Kamisan hanya berhasil sekali bertemu dengan pemimpin negeri ini. Tanggal 31 Mei 2018, setelah 11 tahun aksi ini digelar untuk pertama kalinya Presiden Joko Widodo bertemu dengan massa aksi. Mereka kembali menyampaikan tuntutan agar Joko Widodo mengakui kasus pelanggaran HAM yang sudah masuk dalam tahap penyelidikan di Komisi Nasional HAM. Setelah adanya pengakuan dari negara, mereka juga menuntut agar kasus-kasus tersebut segera diproses Kejaksaan Agung. Lepas dari itu, peserta Aksi Kamisan kembali diguncang  kado spesial tepat di usia tiga belas tahun aksinya. Kado tersebut adalah pernyataan Jaksa Agung ST Burhanuddin bahwa kasus Semanggi I dan Semanggi II bukanlah pelanggaran HAM berat. Sebagaimana dilansir dari tirto.id, pernyataan yang menambah daftar janji kosong Joko Widodo dalam menuntaskan kasus HAM berat ini, disampaikan dalam rapat kerja bersama Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia.

Memakai atribut hitam, diam dan berdiri sudah menjadi identitas peserta Aksi Kamisan. Bagi mereka hitam bukanlah lambang duka cita, melainkan lambang keteguhan dalam cinta. Diam, menunjukkan bahwa peserta Aksi Kamisan adalah warga negara yang patuh dan bisa diatur. Mereka bukan perusuh tetapi penuntut pemerintah untuk tidak diam. Berdiri, melambangkan mereka bisa dan mampu berdiri di atas kakinya sendiri untuk memperjuangkan hak-hak korban pelanggaran HAM berat yang tidak dipedulikan oleh birokrat.

“Ketika perjuangan untuk menegakkan supremasi hukum dan HAM itu sulit, ya nanti akan ada yang melanjutkan, dan saya percaya harus menang, harus berhasil,” ujar Sumarsih.

Fadzillah

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.