Pendakian Arjuno – Welirang, Dua Puncak Satu Perjalanan

Panorama puncak Gunung Arjuno yang memperlihatkan bukit dan gunung di sekitarnya, Kamis (27-06). (Kamal)

Mendaki gunung telah menjadi kegiatan populer dewasa ini. Sekarang tidak hanya pendaki profesional saja yang melakukannya, mulai mahasiswa, karyawan, atlet, bahkan siswa sekolah menengah pun turut melakukan kegiatan ini, tak terkecuali penulis sendiri. Mengisi libur semester perkuliahan, kami melakukan pendakian di kawasan gunung tertinggi ketiga di Jawa Timur, yaitu Gunung Arjuno – Welirang.

Gunung Arjuno, secara administratif terletak di perbatasan Kota Batu, Kabupaten Malang, dan Kabupaten Pasuruan. Gunung dengan ketinggian mencapai 3.339 meter di atas permukaan laut (mdpl) ini berada di bawah pengelolaan Taman Hutan Raya Raden Soerjo (Tahura R. Soerjo). Puncak Gunung Arjuno terletak pada satu punggungan yang sama dengan puncak Gunung Welirang, sehingga pendaki sering menyebut kompleks ini sebagai Arjuno – Welirang.

Pendakian Gunung Arjuno – Welirang hanya dapat dilakukan melalui jalur Tretes. Jalur ini berlokasi di Desa Tretes, Kecamatan Pandaan, Kabupaten Pasuruan. Waktu yang diperlukan untuk mencapai kedua puncak Gunung Arjuno – Welirang sekitar tiga hari dua malam. Berikut adalah pos – pos yang harus dilalui untuk mencapai kedua puncak tersebut:

Basecamp Tretes

Akses menuju basecamp pendakian Tretes bisa ditempuh menggunakan bus dari arah Surabaya atau Malang menuju Pandaan. Sesampainya di Terminal Pandaan, dapat dilanjutkan menggunakan angkot atau ojek menuju basecamp yang tepat berada di depan Tanjung Plaza Hotel Tretes. Di basecamp, pendaki akan diarahkan untuk mengurus administrasi surat masuk Tahura R Soerjo. Adapun biaya administrasi dikenakan tarif sebesar Rp5.000,00 per orang.

Basecamp Tretes – Pet Bocor

Lama waktu yang dibutuhkan menuju pos satu atau Pet Bocor dari basecamp Tretes sekitar 30 menit perjalanan. Awal perjalanan menuju pos satu berupa jalan makadam yang cukup menanjak lalu berlanjut jalanan paving. Di Pet Bocor, pendaki biasanya mengurus perizinan untuk pendakian. Biaya perizinan dikenakan tarif sebesar Rp10.500,00 per hari untuk satu orang. Di sini juga terdapat sumber air serta warung yang dapat digunakan untuk beristirahat dan makan.

Pet Bocor – Kokopan

Menuju pos dua, yaitu Kokopan membutuhkan waktu  sekitar tiga hingga empat jam perjalanan dari Pet Bocor. Jalan menuju Kokopan adalah jalan berbatu yang panjang, menanjak dan berliku. Jalur ini biasanya digunakan untuk kendaraan Hardtop pembawa belerang. Di sini, pendaki dapat menyewa Hardtop sebagai kendaraan menuju pos tiga yaitu Pondokan. Penyewaan Hardtop diperlukan biaya yang cukup mahal. Untuk sekali pemberangkatan dengan berat maksimal dua ton, bertarif sekitar Rp600.000,00 namun masih bisa dinego.

Di Kokopan pendaki akan menemui tanah lapang yang luas untuk mendirikan tenda. Selain itu juga terdapat sumber air dan warung yang biasanya dibuka pada akhir pekan atau hari libur saja. Sembari beristirahat, di sini pendaki juga bisa menyaksikan pemandangan lautan awan yang sangat indah.

Suasana Kokopan dengan pemandangan lautan awan yang sangat indah, Selasa (25-06). (Arya)

Kokopan – Pondokan

Dari Kokopan menuju pos tiga yaitu Pondokan, diperlukan waktu sekitar tiga hingga empat jam. Di jalan menuju Pondokan, pendaki akan menemui Tanjakan Asu yang terjal dan melelahkan. Setelah melewati tanjakan, pendaki akan memasuki kawasan Alas Lali Jiwo dengan ciri pepohonan rimbun menjulang. Setelah itu pendaki akan sampai di Pondokan, yang biasanya digunakan sebagai tempat bersiap-siap melakukan pendakian menuju puncak Welirang. Di pos ini terdapat banyak lahan untuk mendirikan tenda. Selain itu, juga terdapat warung dan sumber air.  Lokasi sumber air berada agak turun ke bawah dengan kondisi tempat yang cukup kotor.

Peta pendakian Gunung Arjuno – Welirang via Tretes

(Sumber: InfoPendaki.com)

Pondokan – Puncak Welirang

Perjalanan menuju puncak Welirang dimulai dari Pondokan dengan estimasi waktu berkisar tiga hingga empat jam. Jalur awal menuju puncak Welirang berupa jalanan berbatu yang bercampur tanah. Jalan akan berubah menjadi bebatuan kering dan putih ketika mendekati puncak. Puncak Welirang ditandai dengan keberadaan bendera merah putih yang berkibar. Kondisi puncak Welirang cukup gersang dan penuh bebatuan. Di sini pendaki disarankan tetap berhati-hati dengan asap dan bau belerang yang menusuk hidung. Namun, kondisi tersebut cukup terbayar dengan pemandangan Gunung Arjuno, Gunung Kembar, dan Gunung Penanggungan yang terlihat jelas.

Penulis dan rekan berfoto di puncak Welirang, Rabu (26-06). (Bagus)

Pondokan – Lembah Kidang

Waktu yang dibutuhkan dari Pondokan untuk sampai di Lembah Kidang sekitar 20 menit perjalanan. Lembah Kidang terbagi menjadi Lembah Kidang satu dan dua. Pertama, pendaki akan melewati Lembah Kidang satu dengan tanah lapang yang tidak luas namun cocok untuk berkemah. Di sini, terdapat sumber air yang berjarak beberapa langkah dari tempat berkemah. Dari Lembah Kidang satu, setelah berjalan sekitar 15 menit, pendaki akan menemui Lembah Kidang dua. Tempat ini merupakan sabana yang sangat luas dan indah. Pendaki biasanya mendirikan tenda di sini untuk bersiap menuju puncak. Namun, suhu di sabana bisa sangat ekstrem saat malam hari. Di Lembah Kidang dua juga terdapat sumber air namun bisa surut saat musim kemarau.

 Lembah Kidang – Puncak Arjuno 

Dibutuhkan waktu sekitar lima hingga enam jam dari Lembah Kidang  menuju puncak Arjuno. Jalur pendakian menuju puncak merupakan trek terberat dibanding trek lainnya. Trek ini berupa tanjakan tanah dan batu dengan kemiringan yang sangat curam hingga puncak. Dari Lembah Kidang, melewati Alas Lali Jiwo, pendaki harus teliti dan waspada akan markah jalan yang berbentuk pita putih atau plang bertuliskan “Puncak”. Karena di area ini seringkali pendaki tersesat menuju puncak, terutama pada malam hari. Pendakian hampir selesai ketika sudah sampai di atas bukit kembar.

Mencapai puncak, semua rasa lelah seakan terbayar ketika melihat panorama lautan awan dan sunrise. Puncak ini dinamakan puncak Ogal-Agil, karena sekilas terlihat seperti bebatuan yang akan jatuh tertiup angin atau bahasa jawanya “ogal-agil”. Di puncak terdapat bendera merah putih dan plang bertuliskan “Gunung Arjuno”. Tidak ada aturan waktu tertentu untuk mendaki puncak Gunung Arjuno. Pendaki bebas melakukan pendakian, baik saat tengah malam, pagi, maupun siang.

Akhir cerita, mendaki memang bermanfaat untuk melatih mental, pengalaman dan kekuatan fisik.  Namun, di sisi lain kegiatan ini termasuk kegiatan yang cukup ekstrem. Saran  bagi para pendaki yang ingin mendaki di kawasan Gunung Arjuno – Welirang, agar tetap membekali diri dengan logistik dan peralatan yang cukup. Mendaki juga menjadi hal yang sia-sia jika pendaki tidak dapat menjaga alamnya. Mari jaga kelestarian kawasan Gunung Arjuno – Welirang dengan tetap membawa kembali semua sampah saat turun dari gunung. Sehingga, dengan keadaan alam yang tetap lestari,  diharapkan menggugah minat para pendaki untuk terus menilik keindahan di kawasan Gunung Arjuno – Welirang.

(Arya Putra H.Y)

Related Posts