March 13, 2020

Meningkatkan Wawasan Pendidikan Karakter bersama Cak Nun

4 min read

Suasana Panggung Acara Kenduri Kebudayaan Polinema 2020, Jumat (06-03). (Adit)

Politeknik Negeri Malang (Polinema) menggelar acara Kenduri Kebudayaan yang bertema “Menuju Generasi yang Bermartabat dan Berdaulat” di Lapangan Mini Soccer Polinema dan berlangsung pukul 20.00-02.30 WIB, Jumat (06-03). Kenduri Kebudayaan tahun 2020 merupakan serangkaian acara wajib penerimaan mahasiswa baru (maba), selain itu acara ini juga sebagai bentuk peringatan Dies Natalis Polinema yang ke-38. Tujuan utama dari diadakannya Kenduri Kebudayaan tahun ini agar mahasiswa Polinema memiliki wawasan berperilaku baik dan bermartabat. Hal ini dilatarbelakangi dengan keresahan mengenai mahasiswa yang kurang memiliki kesadaran tentang adat istiadat dan berperilaku baik, ”Diharapkan dengan acara ini mahasiswa baru bisa memberikan contoh berperilaku baik khususnya di dalam kampus dan di luar kampus,” tutur Mukhlisin selaku Ketua Pelaksana.

Acara ini diadakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Polinema yang dibantu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Kerohanian Polinema, yaitu UKM Kerohanian Islam Polinema (Rispol), UKM Kerohanian Talita Kum, UKM Kerohanian Keluarga Mahasiswa Katolik (KMK). Selain itu, acara ini juga dibantu oleh Komunitas Mahasiswa Hindu Polinema (Mahima) dan Komunitas Mahasiswa Agama Budha Polinema. Selain itu, Kenduri Kebudayaan ini dihadiri oleh Ketua Umum UKM Kerohanian, Komunitas Mahima, semua Ketua Jurusan (Kajur), dan Dr. Eng. Anggit Murdani, S.T., M.Eng., selaku Pembantu Direktur (Pudir) 3. Sasaran dari kegiatan ini adalah mahasiswa baru yang diwajibkan hadir, seluruh civitas academica polinema dan masyarakat umum.

Budayawan sekaligus tokoh intelektual Muslim Indonesia Emha Ainun Nadjib atau biasa dikenal Cak Nun kembali menjadi pembicara utama dalam acara ini. Sebelum acara dimulai, hujan mengguyur lokasi acara, namun hal itu tidak menyurutkan antusias peserta untuk mendengarkan materi yang dibawa Cak Nun. Hal itu terbukti dengan ramainya peserta di lokasi acara hingga mencapai 3000 peserta lebih. Kegiatan ini dibuka dengan tarian dari delegasi UKM Seni Theatrisic dan lantunan musik dari kelompok gamelan Kiai Kanjeng. Lalu dilanjutkan sambutan dari Direktur Polinema yang diwakili oleh Pudir 3. Kemudian masuk pada acara inti yaitu talkshow yang disampaikan oleh Cak Nun.

Dalam talkshow-nya, Cak Nun menyampaikan “Lima karakter manusia yang harus dimiliki oleh generasi Indonesia saat ini”. Ia menjelaskan yang pertama adalah, al-Mutaqaddimun (para perintis, pelopor, peng-ide). Kedua, al-Muassisun (para pendiri, pembuat, pembangun). Ketiga, al-Muhafidhun (para perawat, pemelihara, pelestari). Keempat, al-Mubaddilun (para pengubah). Kelima, al-Muqallidun (para pengikut). Cak Nun menyampaikan kepada para peserta agar lulusan dari Polinema memiliki lima karakter yang telah disampaikan tadi. Ia juga menuturkan harapan beliau bahwa mahasiswa sebagai penerus bangsa sudah harus memiliki tujuan untuk sepuluh tahun kedepan, “Sepuluh tahun ke depan kalian harus nandur apa? Koe seng dek kene iku penerus Bangsa Indonesia,” tutur Cak Nun.

Selain materi dari Cak Nun sendiri, ia juga memberikan kesempatan kepada salah satu Waria malang yang sukses dalam bidang wirausaha yaitu Mirelle. Ia memberikan nasihat kepada penonton tentang wirausaha berdasarkan pengalamannya dengan gaya bercanda. Mirelle mengatakan bahwa jika kalian menjadi seorang wirausaha tidak boleh baper saat menghadapi konsumen, ”Lek koe Baper, gabakal seneng koe ngejalanno wirausaha seng ono malah mangkel,” tutur Mirelle.

Cak Nun saat menyampaikan materi kepada audiensi, Jumat (06-03). (Adit)

Kenduri Kebudayaan tahun ini mengalami perubahan jadwal sebanyak dua kali. Pada awalnya direncanakan pada tanggal 22 November 2019, kemudian diubah ke tanggal 20 Desember 2019 karena Cak Nun dalam kondisi kurang sehat. Namun, acara dimundurkan lagi hingga tanggal 06 Maret 2020 karena permasalahan teknis mengenai perubahan jadwal yang diajukan pihak Cak Nun bertabrakan dengan libur semester, “Dikarenakan dari pihak BEM saat Januari sudah libur semester, ditakutkan mahasiswa baru kurang bisa berpartisipasi dalam acara, jadi dimundurkan lagi ke bulan Maret,” tutur Mukhlisin.

Sejak tahun 2012 hingga sekarang, Cak Nun selalu menjadi pemateri utama pada acara Kenduri Kebudayaan. Menanggapi hal itu, Mukhlisin menjelaskan bahwa alasan kenapa selalu Cak Nun adalah karena materi yang disampaikan mudah dipahami, tidak memihak satu agama melainkan membahas sesuatu secara umum dan Cak Nun dihormati oleh berbagai kalangan.  Hal itu didukung oleh komentar dari Muhammad Aminudin A, selaku mahasiswa UMM yang menghadiri acara ini, “Saat Cak Nun menyampaikan, materi yang mudah ditangkap oleh generasi milenial,” tutur Muhammad.

Mengenai Kenduri Kebudayaan selanjutnya, panitia merencanakan adanya konsep yang baru untuk tahun depan yaitu penggunaan konsep indoor, “Rencananya tahun depan akan ditempatkan di indoor dan ditargetkan khusus mahasiswa baru, agar lebih tepat sasaran dan mudah pengondisiannya. Kemungkinan untuk pemateri tambahan akan mengundang Gus Mus,” tutur Mukhlisin. Hal ini didukung dengan pernyataan dari salah satu penonton Muhammad Aminuddin, Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), “Dari segi pemateri Cak Nun sudah bagus tetapi bisa ditambahi pemateri lain seperti Najwa Shihab.” Ide untuk mendatangkan pembicara baru ini merupakan angin segar. Setiap tahun komentar mengenai inovasi ini selalu ada namun kenyataanya konsep acara tidak jauh berbeda. Hal itu juga diungkapkan oleh Hayyu Hanifah, Mahasiswa Polinema Jurusan Teknik Elektro program studi D3 Teknik Telekomunikasi, “Pematerinya kalau bisa dirubah agar tidak bosan atau ditambah Sudjiwo Tejo agar lebih menarik.”

 

(Adit, Resa, Syahbil)

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.