May 19, 2020

Mengkaji Kesiapan Pangan Indonesia di Tengah Pandemi

4 min read

Beras sebagai pangan utama dalam menghadapi krisis di tengah pandemi. (Agam)

“Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan”. Kalimat ini tercantum dalam Pasal 27 Ayat 2 Undang-Undang Dasar (UUD) 1945. Maksud dari ayat tersebut adalah menjamin bahwa seluruh rakyat Indonesia berhak mendapatkan kehidupan yang layak, termasuk kebutuhan pangan mereka. Menanggapi itu, Unit Kegiatan Pers Mahasiswa (UKPM) Civitas Universitas Merdeka Malang mengadakan diskusi Cangkruk Online yang diadakan mulai pukul 20.00—22.00 WIB melalui aplikasi Zoom pada Sabtu (09-05). Diskusi bertajuk “Antara Nasi, Roti, dan Indomie untuk Ketahanan Pangan Berkelanjutan” adalah diskusi series-2 yang membahas tentang keberlanjutan pangan di tengah pandemi COVID-19 melalui penjelasan tiga narasumber. Mereka adalah Dewi Rochmawati, S.Sos, Msi., Endy Jalu Agustianto, dan Herry Sudaryanto, SH. Diskusi ini juga diarahkan oleh Fairuz Zabady, Praktisi Social Distancing sebagai moderator.

Diskusi dimulai dengan pemaparan dari narasumber pertama, yaitu Herry Sudaryanto, SH., Founder Serikat Tani Independent. Ia menjelaskan bahwa Indonesia kekurangan stok beras dan menjadi sangat rawan pada masa pandemi ini. “Pada bulan November–Desember, Indonesia memasuki musim tanam pertama dan dilanjutkan musim panen hingga bulan Mei saat ini,” ungkapnya. Menurutnya, musim kemarau akan terjadi dalam waktu dekat sehingga akan menambah rawannya kondisi pangan di Indonesia. Tidak hanya itu, ia juga menambahkan bahwa di tahun-tahun normal saja Indonesia sudah kekurangan, dan jumlah konsumsi sekitar 2,5 juta ton yang bertolak belakang dengan produksi padi sekitar 700.000 ton.

Selanjutnya Henry membahas tentang impor beras semasa pandemi ini. Indonesia biasanya mengimpor beras dari Thailand, Vietnam, dan India. Namun, sejak ketiga negara tersebut mendeklarasikan untuk menghentikan ekspor beras, maka kebutuhan impor beras Indonesia pun ikut berhenti. Menurut Herry, penting sekali untuk melobby tiga negara tersebut agar mengekspor beras ke Indonesia untuk mempertahankan keberlanjutan pangan.

Hal itu dikarenakan di masa pandemi ini, sangat sulit mengharapkan petani untuk bisa sejahtera. Ketika stok beras kurang, harga jual beras akan dipermainkan oleh harga pasar. Lonjakan dari harga pasar tersebut menyebabkan petani mengalami kerugian. Sehubungan dengan hal itu, Herry mengusulkan tindakan yang mestinya dilakukan untuk membantu petani, seperti pembentukan badan khusus yang menyewakan lahan tanah bagi para petani ketika mereka tidak mempunyai lahan.

“Selain itu, pengadaan pupuk untuk lahan yang disewa juga akan terjamin, serta waktu tanam hingga panen tiba. Di samping langkah pembentukan badan khusus dan melakukan penyewaan lahan, adanya teknologi akan mendukung kelanjutan pangan dalam masa pandemi ini,” tutur Herry.

Diskusi kemudian dilanjutkan dengan penjelasan dari Dewi Rochmawati, S.Sos, yang sekarang tergabung dalam Fatayat NU Bidang Ekonomi. Terkait penjelasan dari Herry, ia kurang setuju jika Indonesia harus melobby tiga negara besar tersebut. Menurutnya, pengoptimalan Sumber Daya Manusia (SDM) dirasa lebih penting untuk menunjang ketahanan ekonomi. Pengoptimalan SDM yang dimaksud adalah perempuan. Ia percaya bahwa perempuan mempunyai peran besar dalam konteks keberlanjutan pangan dengan menitikberakan terhadap penguasaan berbagai macam teknologi. Dewi mencontohkan dengan perempuan pedesaan yang dapat diedukasi, tentang pelestarian hingga penjualan produk wirausaha dalam masa pandemi.

“Mengedukasi perempuan itu lebih penting. Saya yakin perempuan pedesaan mampu menguasai teknologi. Mereka akan saya edukasi mengenai pelestarian berwirausaha hingga penjualan produk dalam masa pandemi ini,” tuturnya.

Berbeda dengan Herry dan Dewi, Endy Jalu Agustianto atau akrab dipanggil bang Jalu sebagai Praktisi Aplikasi Pertanian Alternatif, menjelaskan bahwa terjaminnya akses pangan tergantung dengan kesiapan personal masing-masing. Menurutnya, kesiapan personal sangat penting untuk menunjang ketahanan ekonomi. Ia juga menambahkan bahwa pemikiran kritis dan rasa optimisme tiap personal dirasa mampu untuk mengimbangi kondisi krisis seperti ini

Menanggapi penjelasan dari narasumber, Hery, salah satu partisipan dalam diskusi tersebut mengungkapkan jika tidak semua kondisi di Indonesia berbicara tentang pertanian. Ia menilai bahwa keberlanjutan ketahanan pangan tidak hanya dalam perspektif pangan, tetapi juga kondisi geografis di Indonesia. Ia mencontohkan hal tersebut dengan dirinya sendiri. Saat ini ia tinggal di luar pulau Jawa. Baginya, ia sangat sulit mendapatkan bahan pangan yang asli dari Indonesia. Justru ia malah dipenuhi dengan impor pangan. Sedangkan saat ini, Indonesia tidak mengimpor beras dari tiga negara pengekspor beras tersebut.

Sementara itu, Herry menuturkan jika kedaulatan pangan menjadi problem utama. Menurutnya, masalah pertanian bagaikan hulu ke hilir, terdapat berbagai masalah mulai produksi yang kacau balau, manipulasi data pertanian, produksi yang tiap tahun meningkat namun bertolak belakang dengan luas lahan yang semakin menurun dan perubahan tanam yang tidak berubah. “Yang paling bisa survive ya desa. Saya sepakat bahwa teknologi yang hari ini terjadi itu seolah-olah justru malah membunuh pekerja daerah,” ujar Herry.

Di penghujung diskusi, Fairuz Zabaddy selaku moderator menyimpulkan bahwa terdapat lima poin penting dari diskusi ini, yaitu tata kelola lahan, persamaan gender, ketersediaan lahan bagi para petani, teknologi pertanian, dan letak geografi. Di sisi lain, Dewi mengimbau masyarakat Indonesia harus bisa mengerem pangan, dalam artian harus bisa menjaga ketersediaan pangan agar tetap ada selama masa pandemi ini. Tidak hanya masyarakat, namun Pemerintah harus menjaga stok pangan agar masyarakat dapat bertahan untuk ketahanan pangan.  Hal itu dapat didukung dengan pemberdayaan desa, karena desa juga lah yang mampu menghasilkan lumbung padi untuk menjaga stok beras selama masa pandemi di Indonesia. “Jika Pemerintah tidak bisa menjaga stok pangan, maka masyarakat tidak bisa bertahan. Pandemi masih ada, dan sahabat-sahabat semua harus bisa menjaga stok pangan,” pungkasnya.

 

(Rinda Mahendra)

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.