June 9, 2020

Mahasiswa Protes UKT Turun 50% saat Kuliah Daring, PUDIR II: UKT Dialokasikan ke Hal yang Lain

3 min read

Salah satu cuitan di Twitter mengenai keluh kesah pembayaran UKT.

(Sumber: Twitter @Cindiccn2)

Dalam mempersiapkan new normal, Politeknik Negeri Malang (Polinema) telah mengeluarkan Surat Edaran nomor 46/DIR/TU/2020 poin B nomor 1 yang menjelaskan bahwa pembelajaran semester ganjil masih menggunakan sistem daring pada Senin, (01-06). Seiring dengan diperpanjangnya kuliah daring, muncul juga berbagai protes untuk penurunan biaya Uang Kuliah Tunggal (UKT). Hal ini bisa dilihat dari kolom komentar postingan @polinema_campus yang membahas mengenai new normal. Banyak mahasiswa menginginkan adanya penurunan atau keringanan UKT hingga 50% untuk semester selanjutnya dengan alasan tidak adanya perkuliahan tatap muka di kampus, sehingga fasilitas tidak terpakai dan adanya dampak ekonomi akibat pandemi yang dirasakan oleh para orang tua mahasiswa.

Komentar mahasiswa terkait UKT di Instagram @polinema_campus. (Laura)

Di Twitter, isu tuntutan keringanan UKT oleh para mahasiswa dari berbagai kampus di Indonesia terus mencuat hingga menjadi trending dengan tagar #NadiemKemanaMahasiswaMerana. Mereka menuntut kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) untuk membebaskan atau meringankan biaya UKT secara setara. Seiring dengan itu, muncul juga akun Twitter dengan nama Polinema Menggugat yang aktif menyuarakan protes turunnya UKT di Polinema.

Salah satu cuitan di Twitter dengan tagar #NadiemManaMahasiswaMerana.

(Sumber: Twitter Polinema Menggugat)

Salah satu mahasiswa dari Program Studi (Prodi) D4 Manajemen Rekaya Konstruksi, Faris Hasbi, menyuarakan protesnya di Twitter terkait dengan penurunan UKT. Ia berujar jika UKT perlu diringankan karena di masa kuliah daring ini kampus tidak mengeluarkan biaya operasional untuk mahasiswa dan fasilitas tidak digunakan seluruhnya. “Masak, kita kuliah tetap daring, nggak nggunain fasilitas kampus tapi UKT masih full,” keluh Faris.

Protes mengenai keringanan UKT ini menurutnya adalah bentuk solidaritas bagi para orang tua mahasiswa yang terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) atau bangkrut karena dampak ekonomi akibat pandemi. “Saya pikir bantuan subsidi terhadap UKT adalah kewajiban kampus mengingat pendidikan adalah hak. Bukannya kita nggak bakal rela kalau semester depan teman kita nggak bisa lanjut kuliah gara-gara bayar UKT?” ujar Faris saat diwawancarai melalui WhatsApp, Jumat (05-06).

Sama halnya dengan Faris, Nafa Putri Maharani, mahasiswa Prodi D4 Manajemen Pemasaran mengungkapakan kekecewaannya karena belum adanya kejelasan tentang pembayaran UKT. Ia berharap adanya penurunan UKT, sehingga dana yang digunakan untuk membayar UKT dapat digunakan untuk membeli keperluan lainnya.

“Kos saya yang tidak ditempati sejak April sampai Agustus tetap harus dibayar. Jika ada keringanan atau UKT digratiskan sangat bisa membantu dan meringankan,” ujar Nafa saat diwawancarai melalui WhatsApp, Jumat (05-06).

Nafa mengungkapkan bahwa tidak semua orang tua mampu membayar UKT secara full di tengah pandemi. Ia mencontohkan adanya buruh pabrik yang dirumahkan atau jam pekerja yang dikurangi karena pandemi COVID-19. “Ayah saya yang bertepatan bekerja di Surabaya terkena dampaknya. Jam kerjanya dikurangi, bahkan sering diliburkan,” ujar Nafa.

Menanggapi protes mahasiswa agar UKT diturunkan hingga 50% di beberapa media sosial, Drs. Halid Hasan, MSTRATHRM selaku Pembantu Direktur (Pudir) II mengungkapkan jika mahasiswa memiliki hak untuk mengajukan keringanan atau perubahan UKT secara prosedural dengan alasan perubahan kemampuan ekonomi keluarga, contoh orang tua yang tiba-tiba tidak bekerja karena mengalami PHK.

“Silakan mengajukan keringanan, kami akan memperhatikan keadaan dan kondisi mahasiswa. Prinsip UKT itu salah satunya berdasarkan kemampuan orang tua yang saya maksud ‘ekonomi’,” ujar PUDIR II saat kami wawancarai via Whatsapp pada Jumat, (05-06).

Beliau mengungkapkan jika ada pengeluaran UKT yang tak terpakai secara maksimal maka akan dimanfaatkan untuk kebutuhan lain, seperti peremajaan alat praktik dan laboratorium, pengembangan gedung, serta hal-hal yang mendukung peningkatan kualitas pendidikan di kampus. “Polinema juga akan mengambil kebijakan terkait pandemi seperti pemberian bantuan kuota pulsa dan bantuan bahan makanan kepada mahasiswa,” ujar beliau.

 

(Adinda N, Laura, Sherly)

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.