Mahameru, Surganya Sunrise di Atap Pulau Jawa

Keindahan sunrise di Puncak Mahameru, Rabu (01-08). (Mery)

Pulau Jawa memiliki banyak gunung yang menjadi destinasi para pendaki, salah satunya adalah Gunung Semeru yang terletak di antara Kabupaten Malang dan Kabupaten Lumajang Provinsi Jawa Timur. Gunung Semeru merupakan gunung berapi tertinggi di Pulau Jawa dengan ketinggian 3676 meter di atas permukaan laut (mdpl). Gunung yang memiliki puncak bernama Mahameru ini merupakan bagian dari Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TN BTS). Kata Mahameru sendiri berasal dari mitos agama Hindu-Buddha yang berarti puncak abadi para dewa.

 

Waktu yang diperlukan untuk mencapai puncak Mahameru sekitar empat hari tiga malam. Terdapat dua rute utama untuk mencapai desa Ranu Pani, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang yang merupakan desa terakhir di lereng Gunung Semeru. Rute pertama dari Kabupaten Malang, perjalanan bisa dimulai dari Kota Malang, Tumpang, Poncokusumo, Gubuk Klakah, Ngadas, dan Ranu Pani. Rute ini merupakan jalur yang sering dilewati para pendaki Gunung Semeru. Waktu tempuh  untuk melewati jalur ini kurang lebih tiga hingga empat jam. Sementara rute kedua dari Lumajang, Senduro, dan Ranu Pani hanya memakan waktu tempuh satu hingga dua jam. Namun jalur ini kurang populer di kalangan pendaki, karena medannya yang curam. Dari Ranu Pani, ada beberapa tahapan rute pendakian menuju puncak Mahameru, di antaranya:

1. Ranu Pani – Ranu Kumbolo

Ada dua jalur pendakian yang biasa dilalui para pendaki, yaitu jalur Ayek-Ayek  dan Watu Rejeng. Untuk jalur Ayek-Ayek, meskipun waktu tempuh tergolong singkat, jalur ini memiliki medan yang sangat curam sehingga tidak begitu populer di kalangan pendaki. Sedangkan jalur Watu Rejeng lebih bersahabat bagi para pendaki dan sudah dikembangkan untuk kepentingan wisata pendakian. Waktu tempuh untuk jalur Watu Rejeng sekitar empat hingga lima jam. Selama pendakian dari Ranu Pani ke Ranu Kumbolo, ada empat pos dimana terdapat penjual makanan dan buah-buahan yang juga digunakan sebagai tempat beristirahat sejenak guna menambah stamina selama pendakian.

2. Ranu Kumbolo – Kalimati

Jalur ini melewati Tanjakan Cinta, Oro-oro Ombo, Cemoro Kandang, dan Jambangan. Waktu tempuh sekitar kurang lebih tiga jam dari Ranu Kumbolo. Kalimati adalah batas terakhir pendakian Gunung Semeru, dimana saat para pendaki melanggar batas tersebut pihak TN BTS tidak bertanggung jawab terhadap kejadian yang tidak diharapkan. Di Kalimati terdapat sumber air yang bernama Sumber Mani yang bisa ditempuh selama 30 menit dari basecamp Kalimati.

3. Kalimati – Arcopodo

Arcopodo merupakan tanah datar yang cukup untuk mendirikan tenda, namun tempat ini tidak dianjurkan oleh pihak TN BTS karena di Arcopodo sering terjadi badai. Para pendaki disarankan untuk mendirikan tenda di Kalimati dan memulai summit attack (menapaki trek menuju puncak) dari basecamp Kalimati pukul 23.00 – 01.00 WIB, agar bisa melihat sunrise pada pagi harinya di puncak Mahameru.

4. Arcopodo – Mahameru

Jalur pendakian dari Arcopodo menuju Puncak Mahameru merupakan trek terberat dibandingkan trek pendakian sebelum-sebelumnya. Jalur ini penuh dengan pasir dan kerikil yang sangat menyulitkan pergerakan kaki. Waktu tempuh dari Arcopodo ke puncak Mahameru sekitar empat hingga enam jam tergantung kekuatan fisik masing-masing pendaki.

Foto bersama rombongan pendaki di puncak Mahameru 3676 mdpl, Rabu (01-08). (Fajar)

Saat sampai puncak, para pendaki akan melihat pemandangan yang luar biasa menakjubkan. Rasa lelah saat proses pendakian seakan terbayar ketika melihat indahnya pemandangan sunrise di puncak tertinggi Pulau Jawa. Namun, sangat disayangkan para pendaki tidak boleh berlama-lama di puncak karena pihak TN BTS membatasi waktu hingga pukul 10.00 WIB. Dimana pada batas waktu tersebut pendaki harus turun dari puncak, dikarenakan munculnya abu vulkanik yang sangat beracun (wedus gembel) setiap 20 menit sekali dari kawah Jonggring Saloko.

Saat turun dari puncak, para pendaki juga dianjurkan tetap waspada untuk menghindari masuknya pendaki ke dalam zona blank 75 atau biasa disebut jalur tengkorak. Kebanyakan kasus masuknya pendaki ke kawasan ini saat turun dari puncak Mahameru, mereka kurang hati-hati dan mengalami disorientasi jalur yang langsung mengarah ke zona blank 75. Medan ketika turun dari puncak Mahameru adalah berpasir dan berbatu. Berbeda dengan waktu untuk meraih puncak yang ditempuh selama kurang lebih delapan hingga sembilan jam, waktu tempuh untuk menuruni puncak hanya sekitar dua jam dengan jalur yang sama.

Jalur pendakian menuju Puncak Mahameru membutuhkan stamina yang fit. Oleh karena itu, bagi para pendaki disarankan untuk membawa perbekalan yang cukup, baik perlengkapan logistik, perlengkapan mendaki yang mumpuni, serta kesehatan fisik. Proses pendakian lebih dianjurkan saat musim kemarau, karena selama musim hujan selalu terjadi badai. Semakin hari para pendaki Gunung Semeru semakin meningkat, baik dari wisatawan lokal maupun mancanegara. Agar tetap tersohonya keindahan Mahameru, sudah selayaknya para pendaki turut andil menjaga kebersihan lingkungan, diwujudkan dengan membawa kembali sampahnya turun dari gunung. Dengan demikian pewarisan keindahan Mahameru terhadap anak cucu dan ekosistemnya tetap terjaga.

(Mery)

 

Related Posts