Sat. Jun 19th, 2021

LPM Kompen

Katakan yang Benar Walau itu Getir

Kaderisasi Persma itu Sekadar Kulacino

3 min read
Ilustrasi target kaderisasi. (Fadzillah)

Tulisan ini adalah bentuk kontemplasi setelah lebih dari setahun menjadi bagian roda kaderisasi.

“Kamu berani menulis kritis? Siap dengan segala konsekuensinya? Termasuk di-drop out dari kampus?”

Watchdog, kata ‘mereka’ yang membanggakan pers mahasiswa dan haus akan informasi yang tidak ‘abu-abu’. Perisak, bagi mereka pemilik kepentingan golongan, atau durhaka, mungkin demikian anggapan kampus yang telah menjadi tempat lembaga bersarang. Meninggalkan semua bentuk ‘pelabelan’ dari berbagai pihak, pers mahasiswa memegang satu tugas utama, yaitu menyampaikan ‘kebenaran’ yang menurut versi banyak orang memihak kaum tertindas.

Betapa mulia tugas seorang pers mahasiswa di muka dunia ini? Lantas, apa makna tiga pertanyaan di muka? Bagian dari kaderisasi, katanya. Pola kaderisasi menemui titik baru, bukan dengan penempaan fisik melainkan dengan permainan kata-kata sebagai ‘pembentukan mental’. Entah ini kemajuan atau kemerosotan, terlebih tidak semua telinga bisa menerima kalimat yang sekadar kalimat, seperti ‘masih segini saja sudah mengeluh!’, ‘jangan lembek!’, ‘manja kalian!’, dan kalimat lain yang berkedok ‘pembentukan mental’. Membahas tentang tindakan dalam kaderisasi pers mahasiswa, media yang paling mendasar adalah tulisan. Tentu yang dimaksud adalah tulisan orisinal si reporter dengan polesan editor dibantu desain ciamik dari sang ilustrator. Bukan sekadar menjiplak karya orang lain. Sungguh sial ketika pers mahasiswa hanya me-repost tulisan milik orang lain. Bentuk solidaritas katanya, halah basi.

Ilustrasi rutinitas pers mahasiswa. (Fadzillah)

Apa yang dilakukan pers mahasiswa sebagai jurnalis hanya sekumpulan hal yang memuakkan. Diskusi yang seringnya tanpa ujung, mengabarkan ‘kabar angin’, liputan sampai kaki kesemutan, editing artikel sampai kepala pening, atau sekadar membedah film dan buku yang sering berujung pembubaran. Mereka yang mengikuti pers mahasiswa dengan harapan akan mahir fotografi, kepenulisan, atau sekadar fasih berbicara di depan orang banyak. Sungguh hanya akan menjadi harapan jika kegiatan memuakkan tersebut tidak ditelan sebagaimana pil yang masuk ke dalam tubuhmu.

Kegiatan memuakkan itu nantinya akan menjadi lingkungan tempat pers mahasiswa berkembang. Maka bukan hal yang mengejutkan jika kader pers mahasiswa tak sebanyak kader lembaga besar lain di sebuah kampus. Tak cukup sampai di sini, sebuah organisasi harus digerakkan oleh organisator, bukan? Seiring dengan tanggung jawabnya sebagai jurnalis, pers mahasiswa harus mengurus ‘rumahnya’ agar tetap layak disebut sebagai sebuah lembaga. Pembelajaran hal-hal yang sifatnya intangible seperti loyalitas, totalitas, integritas, asas firewall, militansi, dan kepemimpinan dipaksa diturunkan selayaknya hal-hal yang tangible macam meja dan kursi saja. Lantas, untuk apa hal-hal intangible tersebut? Untuk menjaga independesi, menjamin kelangsungan lembaga dan quality control produk, katanya. Sebab independensi penting terlihat secara penampilan sebelum secara kemampuan. Benar, sekali lagi, pers mahasiswa berkecimpung dalam hal memuakkan dan utopis.

Belum beres ‘keruwetan’ di internal sebuah lembaga pers mahasiswa. Datang sebuah ‘treatment’ dari eksternal. Jika masalah pendanaan kampus dan tindak represif entah kapan akan terselesaikan bagi seluruh umat pers mahasiswa. Ada hal yang sepatutnya mendapat perhatian dari pers mahasiswa, minat baca. Mengapa? Berpikirlah, jika tidak ada yang membaca penuh tulisan pers mahasiswa maka fungsi pendidikan, hiburan, informasi, dan kontrol sosial itu tak satupun yang akan terwujud. Pers mahasiswa harus mampu konsisten menjadi produsen tulisan, distributor yang memengaruhi pasar untuk membaca dan konsumen yang haus untuk terus mencari kebenaran berdasarkan data. Jika mereka mengikuti pers mahasiswa hanya untuk menumpang nama atau alasan remeh-temeh lainnya yang merujuk pada popularitas, mundurlah! Popularitas hanya bonus bagi pers mahasiswa. Hidup nyaman dengan banyak waktu luang juga omong kosong. Sebab banyak hal yang mesti dikabarkan, banyak buku yang harus dibedah, banyak kaum tertindas yang harus dibela, dan ada birokrat yang harus diingatkan akan janji kampanyenya.

Berpikir ke depan, jika kulacino hanya bisa dihapus oleh orang atau dilenyapkan oleh waktu. Maka pers mahasiswa adalah sama. Artikelnya bisa dihapus oleh orang atau ditinggalkan karena memang sudah basi. Namun, semoga semangat di tiap awak pers mahasiswa bisa diturunkan dan dikembangkan. Sebagaimana kopi yang menemani pembuatan artikel memuakkan ini. Meninggalkan kulacino dari white coffee yang nyaman di lambung.

(Fadzillah)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.