Fri. Sep 17th, 2021

LPM Kompen

Katakan yang Benar Walau itu Getir

Ingin Menjadi Programmer, Kuliah atau Belajar Autodidak?

3 min read
Ilustrasi seseorang yang bercita-cita menjadi programmer namun bingung mencari jalan untuk mencapainya. (Sukma)

Beberapa perusahaan besar di dunia tidak menerima karyawan berdasarkan latar belakang pendidikannya, seperti Google, Facebook, dan Internet Business Machines (IBM). Dilansir dari inet.detik.com, Head of Government Affairs and Public Policy Google Indonesia, Putri Alam mengungkapkan bahwa Google sejak beberapa tahun lalu tidak mewajibkan pelamar untuk melampirkan ijazah kuliah.  Hal yang sama juga diterapkan oleh Aptavis, sebuah perusahaan di bidang Teknologi Informasi (TI) yang tidak menerima karyawan berdasarkan ijazah, melainkan berdasarkan skill. Dengan perkembangan zaman dan kemajuan teknologi maka kesempatan untuk berkarir di bidang TI semakin terbuka, terutama untuk menjadi programmer. Beberapa perusahaan menganggap bahwa ijazah bukan segalanya untuk bekerja di bidang TI, melainkan skill yang akan menentukan kelayakan untuk bekerja di bidang ini.

Potret belajar autodidak. (Sumber: situsnesia.com)

Alasan-alasan mengapa seseorang tidak harus kuliah untuk menjadi programmer

Menjadi programmer tidak harus menguasai seluruh bidang pemrograman. Berdasarkan codepolitan.com, perusahaan mencari seseorang yang memiliki skill dan pemahaman mengenai bidang pemrograman sesuai kebutuhan perusahaan. Contohnya, saat seseorang memilih menjadi  programmer web bagian front end yang bertugas untuk menata tampak muka web, maka harus memiliki skill serta pemahaman tentang CSS, HTML, JavaScript, dan JQuery. Berbeda dengan programmer web bagian back end yang tugasnya memproses segala kebutuhan data untuk ditampilkan, sehingga harus menguasai Java, Python, atau PHP. Tentu saja kedua hal ini dapat dipelajari terpisah dan tidak harus bersamaan.

Seseorang yang ingin belajar secara autodidak dapat mempelajari materi bahasa pemrograman yang banyak tersedia di internet. Hal tersebut memudahkan seseorang untuk belajar sesuai dengan kebutuhannya. Salah satu contoh penyedia materi pembelajaran bidang TI adalah kanal Youtube Sekolah Koding. Sekolah Koding memberikan video penjelasan bagaimana membuat sebuah website. Selain itu, terdapat website stackoverflow.com yang menyediakan berbagai penyelesaian masalah ketika belajar bahasa pemrograman. Tak hanya itu, terdapat pula website tutorial untuk mempelajari suatu materi bahasa pemrograman, seperti codeacademy.com, w3schools.com, dan sololearn.com.

Saat belajar secara autodidak, seseorang bebas memilih apa saja materi yang ingin dipelajari. Hal ini berbeda dengan kegiatan perkuliahan yang harus belajar secara terstruktur sesuai dengan kurikulum. Kegiatan perkuliahan mewajibkan mahasiswa mempelajari semua materi dalam kurikulum yang belum tentu sesuai dengan minat mahasiswa. Ketika mempelajari semua materi, tentu mahasiswa membutuhkan waktu dan tenaga yang lebih banyak. Padahal dalam dunia kerja tidak semua materi perkuliahan dibutuhkan, tetapi lebih membutuhkan materi yang sesuai dengan bidang yang digeluti. Contohnya, ketika mahasiswa ingin menjadi front end programmer, maka materi back end programmer tidak perlu dipelajari.

Masalah yang dihadapi dalam perkuliahan

Pada kegiatan perkuliahan, mahasiswa dituntut proaktif dalam mempelajari materi yang diberikan. Contohnya, ketika mahasiswa belum memahami materi, beberapa dosen menyarankan untuk mencari materi di internet. Hal tersebut membuat mahasiswa kurang merasakan peran dosen sebagai pendidik yang membantu mahasiswa dalam mempelajari materi perkuliahan. Oleh karena itu, hal tersebut dianggap membuang-buang waktu karena proses yang dilalui sama seperti belajar secara autodidak.

Selain cara dosen dalam mendidik mahasiswa, permasalahan lain yang muncul ketika memilih berkuliah adalah biaya. Berdasarkan renesia.com, biaya yang dikeluarkan setiap semester berkisar Rp4.000.000,00-Rp7.000.000,00. Tentu berbeda dengan belajar secara autodidak yang tidak perlu mengeluarkan biaya pada setiap semester. Namun, seseorang yang tidak berkuliah harus mempersiapkan segala hal secara mandiri, seperti mempersiapkan alat, literatur, dan lingkungan belajar.

Tetapi tidak perlu khawatir, semua permasalahan dapat diatasi. Untuk literatur belajar sudah banyak tersedia di internet. Sementara, perihal alat belajar yaitu laptop yang digunakan untuk praktik juga bisa diatasi dengan menyewa di rental komputer atau menggunakan telepon pintar. Terakhir, lingkungan atau komunitas bisa ditemukan di media sosial, seperti PHP Indonesia, Laravel Indonesia, Android Studio Developer Indonesia, dan lain-lain.

Lalu, apakah kuliah masih diperlukan ketika ingin menjadi programmer? jika dilihat dari data di atas, kuliah dirasa kurang diperlukan untuk menjadi seorang programmer. Cukup belajar secara autodidak karena memang materi pembelajaran mudah didapat. Jadi, dengan pemilihan materi yang tepat, belajar yang tekun, ditambah dengan pemanfaatan penggunaan internet, maka keinginan untuk menjadi programmer dan bekerja tanpa melampirkan ijazah kuliah dapat terwujud.

(Nur Sukma Pandawa)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.