April 21, 2020

Fenomena Berbagi Buku PDF Bajakan di Tengah Pandemi

5 min read

Penyebaran buku PDF bajakan di tengah pandemik COVID-19. (Sukma)

Sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Peribahasa tersebut sepertinya sesuai dengan keadaan penerbit dan penulis tanah air di tengah pandemi COVID-19 ini. Sudah penjualan terganggu akibat pandemi, ditambah lagi dengan tersebarnya buku bajakan berbentuk Portable Document Format (PDF) di media sosial. Penyebaran buku ini dilakukan secara cuma-cuma oleh masyarakat untuk mengisi waktu luang di rumah selama pandemi, tak terkecuali mahasiswa Politeknik Negeri Malang (Polinema).

Di awal perkuliahan daring, fenomena berbagi buku berbentuk PDF marak terjadi di lingkungan mahasiswa Polinema. Dari pantauan reporter kami, buku yang ditawarkan bermacam-macam, sebagian besar buku dari penulis terkenal dan diminati banyak pembaca. Mulai dari buku best seller karangan Andrea Hirata, Fiersa Besari, Eka Kurniawan hingga buku klasik karya Pramoedya Ananta Toer

Galuh Indah, salah satu mahasiswa Jurusan Teknik Elektro Polinema, mengakui adanya penyebaran buku PDF ini. Ia menjelaskan penyebaran buku tersebut bermula dari story WhatsApp temannya yang berisi ajakan membaca dengan menawarkan buku PDF. Untuk mendapatkannya, dia harus membalas story tersebut dan membuat story dengan perintah yang sama.

“Penyebarannya itu random, tidak hanya teman Jurusan Elektro saja yang saya tahu. Seperti teman Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), himpunan, dan jurusan lain juga ikut menyebarkan, ada yang melalui status dan share di grup,” ujar Galuh saat diwawancara reporter kami, Selasa (07-04).

Screenshoot akun media sosial yang menyebarkan buku PDF bajakan. (Aura)

Galuh mengungkapkan, buku yang ia sebarkan seperti  “La Tahzan”, “Keagungan Pribadi Rasulullah”, beberapa novel karya Tere Liye, dan buku dari penulis lain. Selain melalui story,  terdapat juga penyebaran melalui pesan broadcast di grup WhatsApp.

Pesan broadcast tersebut berisi kumpulan link film, music, games dan buku terkenal. Link tersebut mengarah kepada satu web yang menyediakan unduhan gratis untuk berbagai buku PDF.

Pesan broadcast berisi link buku bajakan.

Namun, penyebaran melalui story ini tidak bertahan lama karena banyak mahasiswa yang mengingatkan legalitas buku yang disebar. “Awalnya tidak tahu kalau ilegal, tahunya karena akhir-akhir ini banyak yang menolak penyebaran buku bajakan melalui story itu,” ujar Galuh

Mahasiswa lain yang mengetahui fenomena ini adalah Vidya Alifia, dari Jurusan Akuntansi Polinema. Ia merasa penyebaran ini terjadi karena kurangnya edukasi mengenai legalitas buku yang tersebar di internet.

“Sangat disayangkan teman-teman ikut menyebarkan, mereka tidak tau apa yang mereka lakukan. Semoga banyak pihak yang mengedukasi bahwa tindakan menyebarkan buku PDF adalah hal yang salah, karena masih banyak teman yang belum mengerti,” ujar Vidya dalam wawancara bersama reporter kami via Whatsapp, Senin (13-04).

Protes Penulis dan Penerbit terhadap Buku Bajakan Versi PDF

Fenomena bagi-bagi buku dalam bentuk PDF juga mendapat respon dari para penulis buku dan penerbit. Mereka menyuarakan protes mereka melalui akun media sosial masing-masing.

Dewi Lestari atau akrab dipanggil ‘Dee’, penulis novel best seller “Perahu Kertas”,  menyesalkan masyarakat yang mengunggah buku PDF ilegal di tengah pandemi COVID-19. Melalui laman Instagram-nya, ia menyerukan untuk berhenti mengunduh PDF bajakan dan penyebarannya.

“Mengunggah PDF ilegal atas karya kami, menyebarkan tautannya, menyilakan orang lain mengunduhnya demi hiburan gratis untuk membunuh waktu, sama dengan merampas hak ekonomi kami,” tulis Dee di laman Instagram-nya.

Sementara itu di Twitter, Boy Candra, juga ikut mengungkapkan kekesalannya. Dalam tweet-nya, ia menjelaskan kondisi penerbit yang penjualannnya terganggu pandemi dan tetap menggaji pegawai, harus ditambah lagi dengan tersebarnya buku PDF bajakan.

“Buat beneran yang enggak tahu, tapi terlanjur pernah nyebar PDF bajakan. Sudah stop sekarang. Jangan Teruskan. Kalau beneran enggak tahu dan stop. Kamu dimaafin, Tapi kalau terus nyebar padahal sudah tahu. Itu hati dan otakmu, sudah dimakan belatung? jadi enggak fungsi lagi,” tegasnya di laman Twitter-nya @dsuperboy.

Boy Candra juga membuat tagar #tolakbukubajakan, sebagai upaya mengurangi tindakan yang merugikan penulis dan penerbit. Dari akun Twitter, Ia berterima kasih kepada seluruh pihak yang menerima dan setuju dengan tagar #tolakbukubajakan.

“Buat yang merasa terganggu dengan gerakan #tolakbukubajakan ini, mungkin kamu memang tidak pas dengan halaman sosial media kami. Silakan tinggalkan halaman kami dengan senang hati. Karena gerakan ini memang sudah fokus kami selama bertahun-tahun,” ujar dia.

Selain penulis, terdapat pula penerbit yang memprotes penyebaran buku bajakan versi PDF ini. Penerbit Mediakita dalam Twitter-nya @mediakita menegaskan pihaknya tak pernah merilis buku secara PDF.  Mereka menjelaskan jika buku digital resmi hanya bisa diakses melalui Google Play.

“Penerbit TIDAK PERNAH mengeluarkan buku versi PDF. Jika kamu menemukannya, maka itu bajakan, ilegal. Yang menyebarkan, juga yang membaca, berarti sudah merampas hak-hak penerbit, penulis, editor, dan semua pekerja perbukuan. Bantu kami tegur orang-orang ini,” tutur Mediakita dalam akun Twitternya.

Pembajakan Buku dan Impactnya terhadap Dunia Literasi

Pembajakan buku dapat mematikan industri penerbitan. Iqbal Aji Daryono, penulis dan eks Juru Bicara Serikat Kaum Buku Yogyakarta, menceritakan bagaimana imbasnya dunia penerbitan yang dibajak dalam esainya yang berjudul “Melawan Mega-Industri Pembajakan Buku”. Ia menjelaskan penerbitan merupakan rangkaian proses yang padat karya. Dalam terbitnya satu judul buku,  ada banyak pihak yang terlibat. Oleh sebab itu, ketika membeli satu buku bajakan, sama saja mendzalimi ratusan jiwa beserta anggota keluarga mereka.

“Mulai dari penulis, editor, pemeriksa aksara, perancang perwajahan isi, perancang sampul, buruh cetak, buruh penata kertas hasil cetakan, operator mesin banding atau jilid, operator mesin potong kertas, operator plastic wrapping, karyawan di gudang perusahaan distribusi, para sopir yang mengirimkan buku ke ratusan toko, hingga karyawan toko-toko buku dan segenap reseller, banyak yang terlibat disini,” tulisnya.

Iqbal mengatakan jika pada akhirnya pembajakan akan berimbas pada masyarakat. Ketika produksi buku mulai redup maka masyarakat pembaca yang akan dirugikan, “Matinya industri buku akibat produk-produk mereka terus dicuri akan menyebabkan hilangnya akses luas atas pengetahuan di masyarakat,” ujar Iqbal.

Selain itu, pembajakan dapat membuat penulis enggan berkarya lagi. Contohnya Andrea Hirata. Ia mengaku sebagian karyanya selalu dibajak, seperti buku dwilogi Padang Bulan yang dibajak dan dijual di emperan setelah dua hari dilaunching.

“Susah payah membuatnya, lebih dari empat tahun untuk riset saja, eh ribuan buku bajakannya berhamburan setelah launching. Pada akhirnya yang terjadi dengan saya ya menunda menulis novel. Orang-orang bertanya, kenapa saya tidak menulis lagi? Saya nulis tapi tak beredar disini,” ujar Andrea dalam salah satu wawancaranya  dengan Liputan 6.

Pembajakan buku dalam bentuk PDF seharusnya mendapat sorotan lebih. Sebenarnya, setiap buku memiliki hak cipta. Pada Pasal 9 ayat 3 Undang-Undang Hak Cipta No. 28 Tahun 2014 menyebutkan, “Setiap orang yang tanpa izin pencipta atau pemegang hak cipta dilarang melakukan penggandaan dan/atau penggunaan secara komersial ciptaan.” Dalam Undang-Undang tersebut dijelaskan hukuman untuk pembajak yaitu penjara paling lama sepuluh tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp4.000.000.000,00 (empat miliar rupiah).

Namun, mengingat banyaknya kasus pembajakan yang terjadi, Undang-Undang Hak Cipta pun seolah dipandang sebelah mata. Pembajakan buku memang sangat merugikan berbagai pihak, seperti penulis yang mogok berkarya; penerbit yang merugi; toko buku hingga masyarakat pembaca. Hal ini menjadi catatan kelam bagi literasi Indonesia. Oleh karena itu, dengan menghentikan pembelian dan penyebaran buku bajakan, sama dengan menyelamatkan dan memajukan literasi di Indonesia.

“Jika Anda pedagang online maupun offline, berhentilah menjual buku bajakan. Jika Anda pembaca buku, berhentilah membeli buku bajakan. Jika Anda aktivis literasi, jangan pernah menyesatkan banyak orang dengan menebar pandangan sempit bahwa membaca buku bajakan merupakan bentuk perjuangan demokratisasi akses pengetahuan,” ujar penulis Iqbal Aji Daryono.

 

(Adinda N, Adinda R, Aura, Sukma)

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.