June 14, 2020

Dugaan Penipuan Kursus Bahasa Inggris di Polinema, Tutor Keluar hingga Mahasiswa Terlantar

7 min read

Screenshoot pembukaan pendaftaran Massive Class di Polinema pada akun Instagram @bempolinema. (Lina)

Pada pertengahan bulan Maret tahun 2020, beredar kabar tentang adanya puluhan mahasiswa Politeknik Negeri Malang (Polinema) yang tertipu karena sudah membayar sejumlah biaya untuk kursus Bahasa Inggris di kampus tetapi tiba-tiba kelas berhenti di tengah jalan. Sudah berbulan-bulan peserta dibuat bertanya-tanya mengenai kejelasan program hasil kerjasama antara Lembaga kursus Bahasa Inggris Themaps.id dengan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Polinema. Hal ini diperkuat dengan ramainya mahasiswa yang menanyakan kejelasan program ini di kolom komentar postingan Instagram @bempolinema tentang program Massive Class.

“Udah berjalan 2 kali pertemuan, tapi tiba-tiba kelasnya gak dilanjutin dan ga ada kabar. Kita udah ribuan kali minta pertanggungjawaban BEM,” ujar Lutfiatun Hasanah sebagai salah satu peserta program ini.

———- —— ——–

Sebelumnya pada bulan Oktober 2019, perwakilan Themaps.id menghubungi BEM Polinema untuk kerjasama membuka program Massive Class di Polinema. Program ini berbentuk kelas kursus pada hari Sabtu dan Minggu bertempat di Gedung Teknik Sipil Polinema. Kelas ini sendiri direncanakan berjalan mulai bulan November 2019 hingga Maret 2020.

Peserta ramai menanyakan kejelasan program Massive Class di kolom komentar Instagram @bempolinema. (Jovita)

Awalnya program ini berjalan lancar dan tidak ada hambatan. Pertemuan pertama berlangsung pada tanggal 17 November 2019. Terdapat kurang lebih 70 mahasiswa Polinema yang mendaftar dan terbagi menjadi tiga kelas, dengan masing-masing kelas berisi maksimal 25 mahasiswa. Namun, selang beberapa waktu, pihak Themaps.id membuka pendaftaran lagi dengan jalur ‘ajak teman’ yang menjanjikan komisi berupa potongan pembayaran. Hal ini dirasa mulai mencurigakan karena komisi yang diberikan dari satu kali ajakan sangatlah banyak.

“Jika kita bisa mengajak satu anak maka akan diberi 75.000 rupiah, berlaku kelipatannya,” ujar peserta program yang enggan disebutkan identitasnya.

Percakapan salah satu mahasiswa Polinema dengan pihak Themaps.id.

 (Sumber: Dokumen Istimewa)

Pada bulan Desember, setelah berjalan enam kali pertemuan, dilakukan break libur akhir semester dan akan dilanjutkan kembali pada awal semester baru. Namun memasuki semester baru, bulan Februari, tetap tidak ada pemberitahuan kapan kelas dilaksanakan kembali. Kemudian satu persatu tutor meninggalkan grup. Ketika ditanya di grup WhatsApp, pihak Themaps.id juga tidak menjawab.

“Di grup kami ada yang memberi kabar bahwa ini itu penipuan. Sebab para tutor saja tidak mendapat fee sama sekali untuk mengajar kami,” ucap Sukma Tegar Rahayu, mahasiswa Jurusan Teknik Elektro Program Studi (Prodi) D3 Teknik Telekomunikasi.

Akhirnya pada 15 Februari 2020, Imam Riyadi, selaku Chief Executive Officer (CEO) Themaps.id mulai memberikan respon, Ia menjelaskan bahwa ada masalah internal dalam Themaps.id. Imam meyakinkan bahwa kelas akan berjalan normal kembali dan hak sertifikat akan didapatkan. “Setiap kampus diselesaikan satu-satu, kalau saya penipu, kelas tidak berjalan sama sekali…,” ujar Imam yang bergabung di grup besar WhatsApp Massive Class.

Kemudian pada tanggal 22 Februari 2020, Imam berujar lagi akan merefund uang semua peserta pada tanggal 31 Maret 2020, baik yang sudah berjalan 50% ataupun belum sama sekali melalui BEM kampus terkait. Ia juga membagikan foto Kartu Tanda Penduduk (KTP)nya sebagai jaminan kepada peserta. “Kalau sekiranya dari tanggal-tanggal tersebut teman-teman tidak dapat kepastian, dipersilakan menempuh jalur hukum, akan saya terima,” ujar Imam.

Namun, hingga waktu yang dijanjikan, tetap tidak ada respon. Maka pada tanggal 24 April 2020 BEM Polinema bersama perwakilan dari kampus lain yang menjadi korban yaitu BEM Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) ASIA Malang, BEM Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), dan BEM Universitas Islam Malang (Unisma) mendatangi Kepolisian Resor Kota (Polresta) Malang untuk membuat laporan. Hasilnya, Polresta Malang mengarahkan masing-masing BEM yang merasa dirugikan untuk membuat surat somasi yang ditujukan kepada CEO Themaps.id.

“Untuk surat somasi, BEM Polinema sepakat dibuatkan oleh BEM Unisma karena mempunyai pemahaman yang lebih mengenai hukum,” ujar Andreas Dharma Adyaksa selaku Wakil Presiden (Wapres) BEM periode 2019/2020 yang membawahi masalah ini di periodenya.

Hingga berita ini diterbitkan, masih tidak ada kabar terbaru mengenai keberadaan Imam dan kejelasan refund yang dijanjikan.

Internal Themaps.id yang Bermasalah Dari Awal

Polinema bukanlah satu satunya korban dari kelas Themaps.id ini. Program serupa juga diadakan di beberapa universitas seperti UMM, Universitas Airlangga, STIE ASIA Malang, dan Universitas Brawijaya. Dari kasus-kasus ini, Themaps.id menggunakan modus yang sama yaitu melakukan kerjasama hanya dengan pihak BEM kampus. Dimana salah satu anggota BEM akan menjadi  person in charge (pic) untuk mengurus kebutuhan fasilitas tutor dan mahasiswa di kampus tersebut.

Selain mahasiswa, ada pula tutor dan staf yang merasa dirugikan oleh Themaps.id. Kami berhasil mendapatkan kontak salah satu tutor yang bekerja di wilayah Jawa Timur, ia meminta namanya dianonimkan kepada kami.

Ia menjelaskan, awalnya merasa baik-baik saja saat bekerjasama dengan Themaps.id. Menurutnya, Themaps tidak terindikasi sebagai penipu, gaji yang dibayarkan kepada tutor pun cukup besar. Namun setelah berjalan dua bulan, tepatnya bulan Desember 2019, pihak Themaps.id tiba-tiba menghilang yang diperkuat dengan tidak dibayarnya gaji pegawai. Hal itu mengakibatkan tutor tidak mau mengajar peserta sehingga kelas harus mandek sampai saat ini bahkan seluruh karyawan sepakat untuk memutus kerjasama dengan Themaps.id. “Themaps terakhir ditinggal kondisinya kacau, jadi udah gak ada staf lagi karena semua mengundurkan diri,” ujarnya.

Menurut tutor tersebut, masalah berhentinya kelas ini disebabkan karena pengelolaan keuangan yang kurang baik. Pasalnya, banyaknya fasilitas yang ditawarkan ke peserta dengan harga yang murah mengakibatkan ketimpangan.

“Padahal dengan peserta bayar cuma segitu itu, untuk menghasilkan semua yang dia janjikan itu gak cukup. Belum bayar staf, tutor, sama hal-hal yang dia janjikan. Kan timpang kalau peserta cuma bayar dikit, terus dia bayar pekerja pake apa,” pungkasnya.

Untuk mendapatkan informasi lebih jelas, kami menghubungi staf pusat Themaps.id bagian hire Sumber Daya Manusia yaitu Anggi. Menurutnya, Themaps.id salah dalam manajemen pembayaran gaji, sehingga banyak gaji tutor yang belum lunas dan pailit. Imam juga menggunakan uang pendaftaran untuk membayar utang dan gaji tutornya. “Tapi kemudian saya tahu nampaknya dia cari uang dari uang pendaftaran. Makanya saya ikhlasin, gapapa sisa gaji saya tidak dibayar daripada dibayar dari uang mahasiswa,” tegasnya.

 

Lenyapnya Uang Mahasiswa Sampai Trauma

Sebenarnya banyak mahasiswa termotivasi untuk mengikuti Massive Class karena biaya murah dan fasilitas yang menarik. Berdasarkan poster yang diupload oleh akun @bempolinema, kelas akan dilaksanakan sebanyak 24 kali pertemuan, dengan feedback mahasiswa akan mendapatkan lima sertifikat. Sertifikat tersebut antara lain Basic Sertifikat, TOEFL Sertifikat LBI Universitas Indonesia, Presentation Skill Sertifikat, Negotiation Skill Sertifikat, dan Communication Skill Sertifikat. Harga yang ditawarkan pun terbilang cukup murah yaitu sebesar 550.000 rupiah dengan dua kali cicilan.

“Yang dijanjikan ini ada empat sertifikat, jadi pastinya saya semangat. Bilangnya nanti juga dikasih modul. Themaps ini juga tergolong murah banget. Kalau di lembaga lain kyak EF itu berjuta-juta untuk tiga bulan,” ujar Sukma.

Lutfiatun Hasanah, mahasiswa Jurusan Akuntansi dari Prodi D3 Akuntansi, juga mengaku dirugikan dari program ini. Sejauh ini, ia belum pernah mengikuti kelas sama sekali, padahal ia sudah membayar 550.000 rupiah. “Sampai sekarang belum direfund, dan semuanya udah bayar penuh. Saya ikhlas kalo emang uangnya gak bisa balik, paling gak ada tindak lanjut permohonan maaf atau klarifikasi, biar gak ada lagi kasus semacam ini nanti,” ujar Lutfi.

Selain kecewa dengan Themaps.id, peserta juga mengeluhkan tidak tanggapnya respon dari BEM. Selama ini, pesan via direct message dan chat grup pun tidak mendapat respon yang jelas. Sampai puncaknya mereka ramai-ramai berkomentar di postingan @bempolinema untuk mencari kejelasan.

“Seenggaknya tolong BEM buat bantu lah untuk melaporkan kejahatan ini, jangan cuma diem aja kayak gini. Sepertinya teman-teman juga berpikir sama, sebab teman-teman waktu suruh komen Instagram itu untuk tanya kejelasan kelasnya gimana, dan kabar refundnya,” keluh Sukma saat diwawancarai via WhatsApp pada Selasa, (26-05).

Selain itu, Sukma kecewa karena BEM bekerja sama dan meminjamkan tempat kursus tanpa mengetahui latar belakang sebuah lembaga. Ia juga menjelaskan bahwa keikutsertaannya dalam program ini membuatnya trauma.“Saya kecewa pol jadi bikin traumatic. Jadi saya bakalan lebih selektif lagi pastinya meskipun ini bawa alamamater pendidikan,” ujar Sukma.

Para mahasiswa yang menjadi korban juga menyayangkan tidak adanya pihak pimpinan yang mengetahui mengenai hal ini. BEM mengaku hanya meminta izin Dosen Pembina Kemahasiswaan (DPK) dan Ketua Jurusan untuk promosi dan penggunaan fasilitas program ini. “Aku kira ini program BEM sudah bilang ke pihak atas juga. Ternyata ngga. Cuman bilang ke pihak sipil aja pinjem gedung,” ujar salah satu partisipan yang enggan disebutkan identitasnya.

Merespon berbagai keluhan dari mahasiswa, Ayun Sonia selaku Menteri Keuangan BEM periode 2018/2019 menjelaskan bahwa program ini memang inovasi mereka sebagai BEM yang memiliki fungsi sebagai fasilitator bagi mahasiswa Polinema. Ia mengungkapkan bahwa BEM tidak ikut sama sekali dalam pengelolaan uang. “Peminjaman kelas memakai nama BEM. Tapi untuk pembayaran dan lainnya tidak melalui BEM sama sekali. Jadi kami hanya sebagai promotor dan fasilitator tempat yang berdasarkan perizinan DPK,” ujarnya.

Mengenai kurangnya tanggapnya respon terhadap mahasiswa, ia menjawab bahwa sebenarnya program ini dipegang oleh pengurus BEM periode 2018/2019 sedangkan admin di Instagram @bempolinema adalah pengurus peiode baru yang kurang tau mengenai persoalan Massive Class Themaps.id ini.

“Grup WhatsApp kenapa tidak merespon karena saya harus ganti nomor WhatsApp dan di grup yang berisi seluruh peserta itu adminnya bukan saya tapi Imam. Jika ada informasi, saya pasti minta tolong titip pesan untuk menyampaikan ulang pesan saya kepada grup,” ujar Ayun

Kasus ini merugikan banyak pihak, mulai dari mahasiswa peserta, tutor, dan BEM. Para peserta banyak yang menyerah dan menerima uangnya hilang karena oknum yang terus berbelit. Saat ini pun, kasus telah dilaporkan kepada kepolisian dan surat somasi sedang dibuat. “Kami juga tidak berharap ada masalah seperti ini, dan kami juga mencoba menyelesaikan masalah ini, tidak kami biarkan begitu saja. Jadi mohon pengertiannya,” ungkap Ayun.

 

(Aura, Jovita, Lina)

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.