Fri. Dec 4th, 2020

LPM Kompen

Katakan yang Benar Walau itu Getir

COVID-19, Hoax, dan Pers

3 min read

Ilustrasi hoax yang menyebar lewat WhatsApp.

(Sumber Gambar: Kompasiana.com)

 

“Hati-hati, jangan lewat daerah A, sudah ada yang positif corona,” pesan ini masuk ke salah satu grup WhatsApp yang saya ikuti. Saya bertanya-tanya, benarkah? Tak lama kemudian, sebuah pesan masuk ke salah satu grup WhatsApp lain yang saya ikuti, “Ternyata berita tentang orang yang positif corona di daerah A adalah hoax, pembuat beritanya telah diamankan polisi.” Saya heran, lantas, informasi manakah yang harus saya percayai?

Fenomena kesimpangsiuran informasi seperti ini acap kali dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kondisi masyarakat yang diliputi rasa takut dengan menyebarnya Corona Virus Disease (COVID)-19 di Indonesia. Sangat disayangkan masih banyak pihak yang memperkeruh suasana dengan membuat hoax.

Munculnya berbagai macam hoax erat kaitannya dengan populernya penggunaan media sosial (medsos) oleh masyarakat Indonesia. Ditemukannya media baru (new media) berwujud internet  mengubah cara orang berkomunikasi. Kelahiran internet juga telah memicu munculnya beragam platform medsos dan sarana pertemanan daring seperti Facebook, Instagram, Twitter, YouTube, WhatsApp, dan bentuk media lain. Namun, kemunculan media baru tersebut tidak didukung dengan kemampuan masyarakat dalam memilah dan menyebarkan informasi secara tepat. Hal ini bisa dilihat dari data Per Rabu, 1 April 2020, Kementrian Komunikasi dan Informasi mencatat ada 405 hoax mengenai COVID-19.

Banyak motif yang digunakan oknum pembuat dan penyebar hoax. Namun, pada kasus hoax tentang COVID-19, saya melihat ada dua motif yang mendominasi. Motif pertama adalah murni ketidaktahuan. Oknum tersebut tidak sadar bahwa hoax yang disebarkan akan berdampak negatif pada masyarakat. Meskipun hoax tersebut berisi anjuran atau tindakan yang positif, hal itu sama sekali tidak dapat dibenarkan. Motif seperti inilah yang sering dijumpai di WhatsApp.

Motif yang kedua, keinginan untuk eksis di media sosial. Beberapa orang berlomba-lomba menjadi viral, termasuk saat pandemi COVID-19 ini. Berbagai cara dilakukan untuk mendapat pengakuan dari masyarakat, termasuk cara yang mbeling. Banyak oknum yang memanfaatkan pandemi ini untuk mengaktualisasikan diri. Salah satunya seperti enam pemuda di Sumbawa. Mereka mengunggah video yang meresahkan masyarakat berjudul “Bahaya! Corona masuk Sumbawa” di YouTube. Mereka mengaku usai bepergian dari Cina. Ternyata, setelah diinvestigasi oleh Polisi, informasi dalam video tersebut adalah bohong.

Melihat kondisi di atas, maka dirasa perlu adanya tindakan untuk menghambat penyebaran hoax. Salah satu cara yang paling efektif adalah peran aktif dari pers. Hal ini dikarenakan pers berhadapan langsung dengan informasi di masyarakat. Pers dituntut untuk memberikan informasi yang kredibel dalam kasus pandemi ini agar tidak menimbulkan kepanikan dan kesimpangsiuran informasi dari masyarakat.

Sayangnya masih terdapat pers yang kurang akurat dalam mewartakan peristiwa. Seperti contohnya berita salah yang mengabarkan seorang mahasiswi Politeknik Negeri Malang yang positif COVID-19. Padahal, menurut Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus, informasi yang salah menyebabkan kebingungan dan menyebarkan ketakutan sehingga menghambat respons terhadap wabah. Hal ini tentunya harus segera diatasi.

Cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi hal tersebut adalah melakukan verifikasi. Saat mendapat berita, wartawan sebaiknya mendatangi lokasi kejadian atau menghubungi pihak yang berwenang. Tentunya wartawan tidak boleh membuat berita hanya berpegang pada informasi dari medsos. Selain itu pers juga harus memandang informasi dari segala sisi serta jujur dalam memberitakan hal yang ada di lapangan.

Sebagai sumber informasi, pers tidak boleh melupakan kewajiban utamanya untuk mengedukasi masyarakat. Tidak hanya dengan memberikan data statistik korban COVID-19, edukasi yang dimaksud juga termasuk meluruskan informasi salah di masyarakat. Di masa pandemi COVID-19  ini, edukasi terhadap masyarakat indonesia mengenai cara untuk menangkal hoax dan bahaya menyebar hoax juga masih terbilang kurang maksimal jika hanya mengandalkan situs yang disediakan pemerintah. Pers juga harus ikut berperan untuk edukasi masyarakat terkait hoax.

Saat ini, banyak platform yang bisa digunakan pers dalam upaya memerangi hoax baik dalam medsos maupun media cetak. Media sosial seperti Facebook, Instagram, dan Twitter dinilai cukup efektif untuk digunakan karena kecepatan penyebaran informasinya. Beberapa pers juga membuat konten khusus untuk memerangi hoax seperti Tempo yang mempunyai konten “Cek Fakta”. Tentunya konten khusus semacam ini perlu diikuti oleh pers lainnya ditengah kebutuhan akan informasi yang benar .

Diharapkan, pers semakin aktif mengedukasi masyarakat di tengah pandemi COVID-19 ini. Peran pers yang aktif bisa menjadi stimulus pemerintah pusat dan daerah untuk turut serta memperbaiki masalah persebaran hoax. Tentunya hal ini juga harus dibarengi dengan kesadaran masyarakat.

 

Sholah Zamzami

 

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.