Tradisi Mudik Lebaran bagi Perantau

Para pemudik mulai memadati stasiun Pasar Senen. (Sumber: tribunnews.com)

Mudik identik dengan tradisi pulang ke kampung halaman menjelang hari raya besar keagamaan. Idulfitri adalah hari raya terbesar di Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Setelah berpuasa selama satu bulan penuh, umat Islam pun merayakan hari kemenangan. Karena itu, mudik lebaran menjadi momen pelepas rindu, menyambung tali persaudaraan, dan saling bermaaf-maafan secara langsung.

Tradisi ini ditunggu oleh para perantau. “Saya sangat antusias menyambut mudik lebaran, apalagi ini Ramadan pertama saya di perantauan dan merasakan jauh dari keluarga,” ungkap Fadhel, mahasiswa jurusan Teknik Elektro Polinema. Jauh-jauh hari Fadhel telah memesan tiket pesawat melalui aplikasi online untuk mengantisipasi kehabisan tiket mudik menuju kampung halamannya di Gorontalo. Risiko lain yang dapat menimpa calon pemudik adalah melonjaknya harga sejumlah tiket alat transportasi mendekati hari raya.

Sebagian calon pemudik mengejar momen agar bisa menunaikan salat Idulfitri di kampung halaman. Sayang tak semua orang bisa merasakannya. Contohnya adalah Arza, mahasiswa jurusan Teknik Sipil Polinema yang berasal dari Bekasi, “Lebaran kali ini jadi kurang berkesan. Jadwal libur dari kampus yang terlalu mendekati hari raya membuat saya melaksanakan sholat Idulfitri di kota Malang. Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, tahun ini tiket mudik yang berhasil saya dapatkan yaitu sehari setelah lebaran.”

Ada juga orang-orang yang tidak mudik. Sebagian dari mereka tidak memiliki kampung halaman alias keluarga besar mereka tinggal di daerah yang sama. Sebagian lagi adalah orang yang menganggap mudik hanyalah serangkaian aktivitas lajur sosial yang tak wajib dijalani. Mereka lebih memilih tinggal di kota dan menikmati lenggangnya suasana tanpa kemacetan, karena kota tengah ditinggalkan sebagian penduduknya. Orang-orang yang tidak mudik menghabiskan waktu dengan pergi ke tempat wisata atau sekadar berkumpul dengan keluarga di rumah.

Mudik bukan sebagai ajang gengsi di kampung halaman, melainkan sebagai salah satu bentuk pelampiasan rindu akan rumah. Selama mudik, orang-orang lebih memilih untuk rehat dari rutinitas sehari-hari. Manusia membutuhkan jeda untuk sejenak menikmati apapun itu, layaknya hujan yang reda di sore hari. Bukankah kehidupan seperti itu, pada akhirnya manusia akan dipertemukan dengan kepulangannya yang hakiki.

(Khalid)

Related Posts