August 1, 2020

Tingginya Penyalahgunaan Narkoba, Pelajar dan Mahasiswa Masih Mendominasi

3 min read

Talkshow online bersama UKM PASTI Polinema dalam rangka peringat Hari Anti Narkotika Internasional.

(Sumber: dokumen istimewa)

Memperingati Hari Anti Narkotika Internasional (HANI) yang jatuh tiap 26 Juli, Unit Kegiatan Mahasiswa Pasukan Anti Narkotika (UKM PASTI) Politeknik Negeri Malang (Polinema) mengadakan talkshow online bertajuk “Sadarkan Masyarakat akan Bahaya Penyalahgunaan Narkoba” pada Jumat, (24-07) pukul 13.50—15.50 WIB melalui aplikasi Zoom. Dalam talkshow yang diikuti oleh lebih dari 150 orang ini terdapat beberapa pembicara, di antaranya Susilo Setiyawan, S.Psi selaku Kepala Seksi Pencegahan dan Pemberdayaan Masyarakat Badan Narkotika Nasional (P2M BNN) Kota Malang, M. Ubay Cik Ditiro selaku Konselor Adiksi Institusi Penerima Wajib Lapor Bahrul Maghfiroh Cinta Indonesia (IPWL BMCI), Ervan Jamaliandi, seorang recovery addict, dan M. Rafie Miedianto selaku Ketua Umum UKM PASTI. Kegiatan tersebut dimoderatori oleh Kinan Embun Matitis, anggota UKM PASTI.

Kegiatan talkshow ini diawali dengan penyampaian materi tentang narkoba dan jenis-jenisnya oleh Andi dan Fairuz, anggota dari UKM PASTI. Kemudian dilanjutkan oleh Susilo Setiyawan, S.Psi.,Kepala Seksi P2M BNN Kota Malang 2020. Setiyawan menjelaskan, di tengah pandemi ini, para pengedar, bandar masih beroperasi dan kasus penyelahgunaan narkoba di Indonesia tidak berkurang. Beliau juga menerangkan, berdasarkan data BNN, pengguna narkotika di Indonesia sudah mencapai 2,3% dari jumlah keseluruhan penduduknya. “2,3% dalam artian berarti sekitar empat juta lebih penduduk. Dan sekitar 40–50 orang meninggal dunia karena penyalahgunaan narkotika,” ungkapnya.

Susilo menambahkan, pada tahun 2019 jumlah pengguna narkoba di Kota Malang sekitar 50 orang. Parahnya, hampir separuh dari penggunanya adalah pelajar. Sementara itu, permintaan rehabilitasi tahun ini lebih sedikit dibandingkan tahun lalu. “Sampai berjalan bulan Juli masih sekitar 30 orang dengan dominasi pelajar dan mahasiswa yang kami layani untuk rehab secara rawat jalan,” tambah Susilo. Ia juga menambahkan, jenis narkoba yang paling sering dikonsumsi adalah double L (LL).

“Tidak ada perubahan signifikan, masih didominasi sabu dan ganja. Hanya saja, untuk pelajar mereka lebih beralih ke double L (LL),” terangnya.

 

Penyebab Penyalahgunaan Narkoba

Narkotika, zat adiktif, dan obat obat berbahaya yang mengancam kehidupan generasi muda.

(Sumber: republika.co.id)

Selanjutnya diskusi membahas mengenai penyebab seseorang menggunakan narkoba oleh Ervan Jamaliandi, salah satu recovery addict.  Ia mengatakan seseorang bisa terjerumus dalam penyalahgunaan narkoba karena faktor lingkungan dan keluarga. “Kadang, pemakai mungkin di lingkungan keluarganya kurang baik, kemudian dia mencari kenyamanan di luar lingkungan keluarganya, namun dengan cara yang salah, bertemu lingkungan yang salah,” jelasnya.

Menanggapi pernyataan Ervan, Ubay Cik Ditiro menambahkan, terdapat tiga aspek penyebab penyalahgunaan narkoba. Ketiga aspek tersebut yaitu waktu, orang, dan tempat yang salah. “Semisal, waktu saya tidak bisa menyelesaikan permasalahan dengan keluarga. Akhirnya, saya bertemu dengan teman yang salah, ia memberikan saran memakai narkoba supaya tenang. Lalu, karena tempat yang salah, akhirnya kami memakai,” imbuhnya.

Ubay juga menerangkan bahwa untuk pemulihan, terdapat empat aspek yang dominan terjadi pada seorang pecandu. Yang pertama fisik. Penggunaan narkoba bisa menyebabkan sakau, sakit bawaan, hingga dual-diagnostic (dua kepribadian) yang bisa sembuh, atau timbul kegilaan. Kedua, pola pikir, kesungguhan untuk ingin berhenti, yang timbul dari diri sendiri. Ketiga, emosi, kebiasaan lama sebagai pecandu. Dan yang terakhir, spiritual yang tidak terkontrol. “Jadi, salah satu tugas kita sebagai konselor atau rehabilitasi narkoba, kita harus bisa merubah mindset/pola pikir mereka. Dengan apa, dengan lewat daily activities, konseling, dan sebagainya secara intens,” tambahnya.

 

Upaya Pemberantasan Narkoba di Indonesia

Dalam mengatasi pemberantasan penyalahgunaan narkoba, IPWL BMCI memiliki program rehabilitasi narkoba dengan menggabungkan antara program visi dan religi. Pada satu bulan pertama, atau 1—2 minggu, pasien masuk dalam program detoksifikasi atau pengeluaran racun dengan degan ijo. Selanjutnya masuk masa primary, sekitar 2—5 bulan. Dan masa re-entry, atau masa enam bulan terakhir, pasien akan menerima bimbingan secara khusus.

BNN sebagai badan yang mempunyai tugas di bidang pencegahan, pemberantasan penyalahgunaan narkoba telah menyediakan berbagai platform digital seperti Sistem Informasi Rehabilitasi Narkoba (SIRENA) dan Rumah Edukasi Anti Narkoba (REAN) yang memuat banyak informasi terkait data penyalahgunaan, jenis-jenis narkoba baru, dan bagaimana mendaftar atau mengikuti rehab di BNN.

Di penghujung diskusi, Rafie, selaku Ketua Umum UKM PASTI, menerangkan jika organisasinya juga mengambil langkah dalam upaya pencegahan, pemberantasan, dan penyalahgunaan narkoba, yaitu dengan penyuluhan ke sekolah, civitas academica Polinema, dan bina desa. Rafie memberikan beberapa tips and trick agar terhindar dari penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba. Di antaranya, melakukan kegiatan pengembangan diri seperti memaksimalkan hobi, pola hidup sehat dengan berolahraga, mencari teman yang tepat, serta mendekatkan diri kepada Tuhan.

 

(Rika Maharani, Shafa Ilona)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.