Thu. Oct 22nd, 2020

LPM Kompen

Katakan yang Benar Walau itu Getir

Tilik: Melihat Emak-Emak dalam Stereotip

2 min read

Film pendek berjudul Tilik yang viral di masyarakat. (Amyrah)

“Dadi wong sing solutip ngunu loh”, adalah kutipan paling memorable dari film Tilik yang sangat melekat dalam benak saya. Jalan cerita yang sederhana namun relevan dengan kehidupan. Film garapan sutradara Wahyu Agung Prasetyo ini berhasil ditonton lebih dari 21 juta orang dalam waktu dua minggu setelah penayangannya. Film Tilik sebenarnya dirilis pada tahun 2018, namun di-upload ulang di channel YouTube Ravacana Film bertepatan hari kemerdekaan Indonesia  dan berhasil menjadi trending topik jagat maya.

Tokoh Bu Tejo yang nyinyir menjadi sangat ikonik dan membawa Tilik menjadi viral. Tagar, stiker serta meme Bu Tejo bertebaran di berbagai platform media massa karena maraknya film ini. Banyak platform media massa membicarakan dan mendiskusikan film yang naskahnya ditulis oleh Bagus Sumartono ini. Tidak heran jika film ini juga berhasil menyabet Piala Maya pada tahun yang sama film ini diliris.

Rombongan ibu-ibu dalam perjalanan menjenguk  Bu Lurah di Rumah Sakit Kota. (Amyrah)

Bercermin pada judulnya, Tilik yang dalam bahasa Jawa memiliki makna menjenguk. Film ini berpusat pada perjalanan para ibu desa yang menjenguk Bu Lurah di rumah sakit kota menggunakan truk. Selama perjalanan, mereka bergosip mengenai seorang gadis bernama Dian. Paras cantik serta kemapanan finansial di usia muda menjadi alasan dirinya digunjingkan sebagai gadis nakal. Bu Tedjo selalu menyebar gosip berdasarkan informasi dari internet. Namun, Yu Ning selalu membantah dan mengingatkan untuk selalu mengecek kebenaran informasi tersebut. Hal ini yang memicu perbincangan sengit keduanya yang merupakan nyawa dari film ini.

Di awal film saya berpikir bahwa gosip menjadi topik utama film. Hanya saja, setelah menonton hampir setengah film, saya sadar bahwa Tilik ini memanfaatkan stereotip mengenai ibu-ibu yang dikenal tukang gosip dan menggunjingkan segala hal. Stereotip ini yang membuat penonton merasa kesal dengan tiap karakter dan elemen unik dari film ini. Selain itu, terdapat nilai sosial dari adegan penyogokan Bu Tedjo dan Gotrek. Adegan ini menggambarkan bahwa penyogokan sudah wajar dilakukan walaupun seharusnya dihindari.

Tilik juga berhasil mengambarkan perbedaan antara kehidupan masyarakat desa dan kota. Gambaran ini tercermin dari prasangka ibu-ibu terhadap Dian. Masyarakat desa kurang nyaman melihat kebiasaan masyarakat kota yang bekerja hingga pulang larut malam. Selain itu, terlihat jelas perbedaan prinsip mengenai karir wanita. Hal itu tergambar dari gunjingan ibu-ibu bahwa wanita seperti Dian harus segera menikah dan berkeluarga. Berbeda dengan masyarakat kota yang lebih memprioritaskan pencapaian hidup dan pekerjaan daripada urusan menikah.

Dari awal film baik dari segi casting, sinematografi, hingga properti tidak ada yang mengecewakan. Tapi, plot twist di ending film ini saya rasa akan membuat penonton merasa dikhianati. Semua akan berharap bahwa gosip yang dibawakan oleh Bu Tejo hanyalah hoax semata dan tidak akan terbukti. Meskipun demikian, pesan dari film ini tersampaikan dengan baik. Kita tidak bisa sembarang menilai orang. Namun harus pandai menyaring informasi, sehingga tidak termakan informasi yang hiperbola.

(Amyrah Putri Hartanto)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.