Thu. Dec 3rd, 2020

LPM Kompen

Katakan yang Benar Walau itu Getir

The Boy in the Striped Pajamas: Kita Ditakdirkan Bermusuhan

3 min read

(Sumber: Amazon.com)

Film The Boy in the Striped Pajamas merupakan film bergenre war terbaik yang pernah saya lihat. Meskipun berlatar belakang peristiwa perang dunia II, film ini justru mengangkat sisi lain dari peperangan yang mengundang empati para penontonnya. The Boy in the Striped Pajamas adalah film karya Miramax berlatar di kamp konsentrasi kaum Yahudi. Namun bukan penderitaanya yang disoroti, melainkan pertemanan rahasia antara anak seorang pejabat Nazi dengan seorang bocah Yahudi yang mengharukan. Film garapan Mark Herman ini memenangkan beberapa penghargaan seperti Independent Film Awards 2008 pada kategori British Independent Film Award dan Chicago International Film Festival 2008 pada kategori Audience Choice Award.

Kisah berawal ketika Bruno dan keluarganya harus pindah ke pedesaan. Di tempat inilah Bruno bertemu dengan Shmuel. Konflik bermula ketika Bruno dilarang untuk melihat apa yang ada di belakang rumahnya. Namun karena penasaran, ia menyelinap diam-diam dan menemukan kamp yang dikelilingi besi berkawat dengan arus listrik. Ternyata itu adalah kamp konsentrasi kaum Yahudi yang mana semua orang di dalamnya mengenakan piyama bergaris yang menunjukkan identitas mereka sebagai tahanan Yahudi. Di balik pagar besi berkawat, Bruno melihat anak seumurannya bernama Shmuel yang sering menyendiri di dekat pagar kamp. Bruno kemudian menghampiri Shmuel. Lama-kelamaan, Bruno sering menemui Shmuel untuk membawakan makanan, bermain, atau sekadar mengobrol. Akhirnya, dari situlah pertemanan rahasia yang terlarang dimulai.

Didukung oleh casting, sinematografi, soundtrack, hingga property yang baik, film ini mampu membuat penonton ikut terhanyut pada suasana penyikasaan Nazi terhadap kaum Yahudi. Penonton dapat ikut merasakan konflik batin melalui tokoh Ibu Bruno yang tidak menyukai genosida tetapi bertentangan dengan pekerjaan suaminya sebagai tantara Nazi. Selain itu, sudut-sudut pengambilan gambarnya juga terlihat profesional. Keadaan Kota Berlin yang cantik, suasana desa yang rindang, serta kondisi kamp yang gelap, kumuh, dan mencekam disajikan sangat apik. Ditambah lagi pembawaan dialog yang ringan dan mudah dipahami membuat penonton semakin enjoy.

Mengacu pada dialog yang dibawakan, saya jadi ingat di pertengahan film terdapat kalimat yang membuat saya merinding. “Kita seharusnya tidak berteman. Kita ditakdirkan untuk bermusuhan. Kau tahu itu?” mendengar ini saya sangat menyayangkan bahwa mereka yang harusnya belum tahu apa-apa tentang pahitnya kehidupan, harus terlibat dalam kejamnya konflik antara Nazi dan Yahudi.

Di penghujung film saya dihantarkan pada perasaan memilukan. Bruno berhasil menyelinap ke dalam kamp Nazi dengan menggunakan piyama bergaris untuk mencoba memahami kehidupan Shmuel. Pada saat yang sama, terdapat tentara Nazi sedang menata barisan Yahudi. Tak berselang lama, terdengar kalimat “it’s just a shower” dari kerumunan Yahudi. Kalimat tersebut menandakan bahwa penduduk kamp akan digiring ke dalam suatu ruangan. Di ruangan itu terjadi penyiksaan dan genosida terhadap kaum Yahudi. Mirisnya, saat itu Bruno dan Shmuel ikut masuk dalam iringan para tentara. Scene ini membuat saya menangis karena hidup Bruno dan Shmuel harus berakhir tragis demi kesetiakawanan terhadap sahabat.  

Kisah dalam film The Boy in the Striped Pajamas menampilkan nilai sosial yang tinggi. Film ini menunjukkan betapa kejamnya peperangan antara Nazi dan Yahudi hingga anak-anak yang tidak bersalah pun ikut menjadi korban. Terlepas dari cerita mengenai kekejaman tersebut, banyak pelajaran yang bisa diambil tentang arti sebuah pertemanan. Perbedaan Suku, Ras, atau bahkan kalangan tidak bisa menjadi penghalang untuk menjalin hubungan baik dengan siapa pun.

(Cahaya Azizah Briyana)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.