Tue. Apr 13th, 2021

LPM Kompen

Katakan yang Benar Walau itu Getir

Tebar Pesona Antar Paslon: Beradu Proker, Janji, dan Inovasi

4 min read

Ilustrasi Debat Terbuka Pemira 2020. (Sukma)

Pemungutan suara Pemilihan Raya (Pemira) tengah berlangsung. Sebagai pemilih tentu harus mengenal apa visi dan program masing-masing calon. Sebelumnya, telah dilaksanakan Debat Terbuka pada hari Sabtu (12-12) melalui platform Zoom. Pada debat ini, kedua pasangan calon (paslon) saling beradu ide dan janji untuk menjadi Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Politeknik Negeri Malang (Polinema). Debat kali ini dibagi menjadi  tiga sesi yaitu orasi dan pemaparan visi misi tiap paslon, tanya jawab dengan panelis, dan terakhir tanya jawab dengan mahasiswa umum. Bayu Aji Setia Budi selaku Ketua Pelaksana mengungkapkan dalam sambutannya bahwa debat terbuka bertujuan untuk mengetahui program kerja tiap paslon. “Memperkenalkan sekaligus membranding capres cawapres BEM periode 2021/2022 agar bisa dikenal oleh mahasiswa umum,” jelasnya.

Program-Program yang Dijanjikan

Dalam debat ini kami menyoroti beberapa poin yang membedakan antara kedua calon. Paslon pertama David Orlando dan Firman Rohmandhani memiliki empat inovasi di masa kepemimpinanya, di antaranya 100 hari kerja, Sekolah Pergerakan, pengoptimalan Student Day, dan Summer Camp Organisasi Kemahasiswaan Intra (OKI). “Kami ingin menghimpun mahasiswa untuk menyikapi dan mengawal isuinternal juga eksternal kampus,” ungkap David saat ditanya tentang program Sekolah Pergerakan. Selain itu, mereka juga menekankan untuk membangun hubungan harmonis dan sinergitas antara mahasiswa umum, OKI, serta pimpinan.

Sedangkan Program Kerja dari Paslon kedua, Paramadina Indonesia Junior beserta wakilnya Abdilah Iklasul Amal lebih menyesuaikan terhadap situasi pandemi. Adapun inovasi yang diusung yaitu website BEM Polinema. Menurut penuturan Paramadina, kedepannya website BEM Polinema akan melayani penyebaran informasi, penyerapan aspirasi, advokasi, dan birokrasi. Tak hanya itu, mereka berencana untuk mengadakan Festival Budaya yang nantinya digelar untuk memeriahkan Hari Ulang Tahun Polinema. “Pihak OKI dan mahasiswa umum bisa langsung terlibat dalam pementasan kebudayaan masing-masing daerah,” tambah Abdilah. Program kerja ini ditujukan untuk menekankan fungsi BEM sebagai fasilitator untuk mahasiswa umum.

Arah Gerak, Regulasi PKM, dan Omnibus law

Pada sesi pertanyaan oleh panelis, Bapak Galuh Kartiko, SH., M.Hum. menyoroti masalah internal BEM di tahun sebelumnya. “BEM merupakan penengah ketika terjadi demo, namun bagaimana jika ternyata pihak BEM yang didemo oleh internal BEM sendiri?” Paslon dua menjelaskan, jika nanti kejadian tersebut terulang di masa kepemimpinannya mereka akan memaksimalkan konsolidasi kedua belah pihak. “Kami akan berusaha untuk menggali dan mengkaji data sebanyak-banyaknya yang nanti akan membantu proses konsolidasi kedua pihak,” ungkap Abdilah. Sedangkan paslon satu menekankan pada profesionalisme dan kekeluargaan  untuk menyelesaikan masalah. “OKI adalah wadah untuk pengabdian, oleh karenanya jika terjadi konflik kami ingin menerapkan profesionalisme dan kekeluargaan serta musyawarah mufakat untuk menyelesaikannya,” ungkap David.

Pada sesi tanya jawab dengan mahasiswa umum, terdapat pertanyaan mengenai arah pergerakan mahasiswa yang nantinya akan dibawa oleh kedua paslon dan bagaimana usaha untuk membranding kampus. Dari kedua paslon, kami memantau jika Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) menjadi andalan mereka di sini.

Paslon pertama menanggapi dengan menggerakkan  mahasiswa untuk aktif dan bergerak bersama dengan BEM untuk membentuk iklim demokrasi di Polinema. “Jika hanya kami berdua yg bergerak maka akan kurang. Jika bergerak bersama kami siap untuk menfasilitasi mengaspirasikan pergerakan yg demokratis,” ujar David. Sedangkan untuk branding kampus, mereka menjelaskan akan menempatkan fungsionari di masing-masing aliansi, peningkatan lomba-lomba, dan PKM.

“Kami dan Pihak OKI akan saling berkesinambungan untuk membantu regulasi PKM. Kami wajibkan mahasiswa untuk membuat PKM yang mana bisa digunakan untuk branding Polinema. Bila PKM diregulasi, akan mudah dalam mencari partisipasi. Kami berkolaborasi dengan OKI yang berkaitan, misal Pendidikan dan Penalaran (PP) dan himpunan. Minat dan bakat (mikat) akan kami fasilitasi sehingga dari kampus citra nya baik,” ujar mereka.

Sementara paslon kedua mengungkapkan bahwa mereka akan mengabdi kepada mahasiswa umum, karena menurut mereka mahasiswa adalah agen perubahan. ”Kami benar-benar ingin marwah mahasiswa yang bisa menentukan nasibnya sendiri dan bersuara. Kami di sini sebagai BEM menaungi kawan-kawan berkomitmen menfasilitasi kawan-kawan,” imbuh mereka. Sedangkan untuk branding mereka akan melakukan sosialisasi PKM secara masif.

“Di sana kita bisa berkembang dengan karya-karya lain. Sehingga karya kita bisa dilombakan.. Kami menginginkan adanya pameran bagi kawan-kawan yang mempunyai PKM. Sehingga mahasiswa yang awalnya kurang paham apa itu PKM bisa tumbuh aktif mengikuti PKM,” ujar mereka.

Kemudian  pembahasan berlanjut pada isu kurangnya fasilitas untuk minat bakat mahasiswa di Polinema. David menjelaskan bahwa optimalisasi dan koordinasi dengan teman-teman penting untuk kedepannya. “Nantinya dari kami akan berusaha mengadvokasikan dan merangkul minat bakat tersebut sehingga peningkatan prestasi bisa dinaungi,” ungkapnya. Berbeda dengan paslon 2, Paramadina berencana menggerakkan Kementerian Minat Bakat yang akan membantu mahasiswa untuk mencapai prestasinya. “Kami akan benar-benar menggerakkan instansi terkait. Ketika nanti ada kejelasan dari pimpinan kami bisa memberi informasi bagi kawan-kawan yang ada di komunitas tersebut,” jelas Paramadina.

Setelahnya, terdapat pembahasan mengenai sikap Omnibus Law dari kedua paslon. Dari paslon pertama, mereka mengandalkan program khusus sebagai wadah yaitu sekolah pergerakan dari mereka. “Kementrian kami sudah ada kajian dan massanya, kami ingin meningkatkan bagaimana aksi pencerdasan untuk mahasiswa. Jika ada isu apa dampaknya apa, bakal kita propaganda konsolidasikan sikap kita. Kita tidak ingin asal turun ke jalan, tanpa adanya pengetahuan  tentang aksi yang  terjadi, jadi aksi bakal benar-benar dari hati,” ujar paslon satu.

Sedangkan paslon dua, mengungkapkan akan mengadakan kajian mengenai Omnibus Law dan menjadi koordinator. “Kami ingin mengembalikan marwah mahasiswa mengabdi kepada masyrakat. Kami dari BEM menjadi koordinator bagi kawan-kawan Polinema, menyuarakan pihak terkait Omnibus Law seperti apa,“ ujar mereka

Itulah beberapa isu yang dibahas dalam debat Pemira. Kami harap artikel ini dapat membantu pemilih untuk mengenal mereka dari visi misi ataupun program mereka. Pemilihan akan berakhir dalam beberapa hari lagi. Maka jangan sia-siakan suara kalian dan pilih dengan cerdas.

(Cahaya, Kirana, Sukma)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.