Mon. May 23rd, 2022

LPM Kompen

Katakan yang Benar Walau itu Getir

Tak Apa Menjadi Berbeda

5 min read
(Ilustrasi: Laras)

Pagi hari yang berembun dengan kabut tipis yang menyelimuti langit. Kupandangi pantulan wajahku dalam cermin. Perkenalkan namaku Jenny, tepat tiga hari yang lalu usiaku menginjak 18 tahun. Dan ya, aku adalah seorang penyandang tunarungu sejak lahir. Setiap hari aku selalu menggunakan alat bantu dengar pemberian nenek sewaktu beliau masih hidup. Hari ini adalah hari pertamaku berkuliah di universitas impianku. Tentu aku patut bangga atas perjuanganku giat belajar selama tiga tahun di bangku Sekolah Menengah Atas. Aku diantar oleh lelaki yang paling hebat dalam hidupku yang selalu kupanggil dengan sebutan “Ayah”. Ayah adalah seseorang yang selalu mendampingiku di mana pun aku berada dan ia menyayangiku lebih dari apa pun.

Mobil yang dikemudikan ayah tidak terasa telah berhenti tepat di depan gedung kampusku. Setelah mendengar bisikan “Semangat” dari ayah, aku mulai melenggang menuju ruang kelasku. “Hai, namamu Jenny, kan?” Tiba-tiba seseorang menyapaku saat aku berjalan ke arah ruang kelas. Tentu saja aku kaget sebab aku belum pernah memperkenalkan diri kepada siapa pun. Seakan menjawab pertanyaan yang ada di kepalaku, perempuan itu lantas tersenyum, “Oh iya, aku lihat nama dan foto profilmu di peserta grup WhatsApp kelas kita.” Aku membatin. Tanpa mengucap satu kata pun, aku hanya melempar senyum dan beranjak pergi. Jujur, aku masih belum memiliki rasa percaya diri untuk bertemu dengan orang baru.

Kelas pertama dimulai dan aku memilih duduk di bangku belakang. Saat aku melihat ke sekitar, semua tampak asyik berbincang satu sama lain. Lalu perhatianku tertuju pada seorang perempuan yang duduk sendirian di pojok dan terlihat sedang merenung. “Eh, tahu enggak anak si buruk rupa yang duduk di bangku pojok itu? mukanya kenapa sih kok aneh banget? sama tangannya kok gitu ya?” ujar Natasya, anak paling menonjol di kelas. Fokusku seketika teralihkan kepada segerombolan anak yang menimpali pertanyaan Natasya. “Aku takut lihat mukanya yang mirip monster,” imbuh Friska si ketua kelas. Aku tak sanggup lagi untuk mendengarnya dan langsung bergegas ke kamar mandi.

Jam menunjukkan pukul tiga sore, menandakan berakhirnya kegiatan perkuliahan hari ini. Aku bergegas keluar ruangan karena ayah sudah menjemputku. Sepanjang perjalanan pulang, tidak ada percakapan apa pun sampai ayah menanyakan pengalaman hari pertamaku berkuliah. “Bagaimana tadi kuliahnya lancar?” tanya ayah. Aku pun terkejut dan menjawab seolah semuanya baik-baik saja. “Lancar kok, yah. Aku tadi juga sudah mengobrol dengan teman-teman. Mereka sangat seru dan asyik,” balasku dengan. “Wah, ayah sangat senang sekali, akhirnya anak ayah bisa membaur dengan yang lainnya,” ujar ayah. Untuk sementara ini aku hanya bisa berbohong agar ayah tidak perlu merasa mencemaskanku.

Hari telah berganti dan kini aku bersiap untuk hari kedua kuliah. Sama seperti hari sebelumnya, aku diantar ayah menuju kampus. Sesampainya di kampus, aku segera bergegas menuju kelas, namun beberapa teman kelasku tiba-tiba menghadangku di depan kelas sambil tertawa terbahak-bahak. “Hai, Jenny. Boleh tanya enggak?” Salah satu dari mereka menghampiriku, “Rahasia kulit sehatmu apa, sih? Pakai produk kosmetik mahal ya? Kamu anak orang kaya?” tanyanya bertubi-tubi. Aku pun terkejut entah apa yang harus kukatakan karena aku bukanlah orang yang normal seperti yang mereka pikirkan. Namun aku sadar, aku tidak selamanya bisa menyembunyikan kekuranganku. “Kok diam saja? Enggak mau ngasih tahu nih?” timpal salah satu dari mereka. Tanpa berpikir panjang, aku menjawabnya dengan bahasa isyarat yang menimbulkan seisi kelas terkejut. “Ternyata kamu bisu? Cantik-cantik kok bisa bisu sih? Pantesan disapa cuma senyum, sekarang semua terbongkar,” cemooh Natasya. Mendengar segala cemoohan yang terucap aku hanya bisa terdiam dan tak sanggup mengatakan apa pun.

Jam terakhir telah usai, aku bergegas keluar menuju gerbang. Ayah sudah menungguku di depan gerbang dengan membawa mobil. Aku masuk mobil tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Di tengah perjalanan, seperti biasa ayah menanyakan kegiatanku selama di kampus, “Bagaimana tadi kuliahnya? Teman-teman masih asyik kan?” Aku menghadap ke luar jendela dan menjawab, “Aku mengantuk, mau tidur dulu.”

Kuliah hari ketiga diawali dengan pembentukan kelompok yang masing-masing beranggotakan dua orang. “Ada yang mau berkelompok sama aku enggak?” teriak Vanesya. Mendengar seruannya, aku mencoba bertanya dengan bahasa isyarat, “Apa kamu mau satu kelompok denganku?” Tidak menunggu lama, Vanesya tertawa terbahak bahak dan menjawab ajakan yang kuberikan, “Kamu ngomong apa sih? aku enggak paham.” Perkataannya sungguh menggores hatiku. Bahkan, sosok seperti ayah dan ibuku sekali pun tak pernah melontarkan kata-kata kasar yang menyakitiku. Saat aku tengah memikirkan ucapan Vanesya, tiba-tiba pundakku ditepuk oleh seseorang, “Jenny, sama aku aja.” Dengan terkejut aku pun menyadari bahwa seseorang tersebut ialah Yorin, perempuan yang duduk dibangku pojok belakang. Aku pun sangat tersentuh melihat kebaikannya. Yorin memang anak yang tampak cuek dan enggan senyum kepada siapapun, tetapi tak kusangka ia mengajakku untuk berkelompok bersama. “Kenapa kamu mau berkelompok denganku?” tanyaku sambil menggunakan bahasa isyarat padanya. Yorin segera menimpaliku, “Maaf aku nggak paham yang kamu katakan, coba kamu tulis disini aja,” ujarnya sambil memberikan kertas kosong dan bolpoin miliknya. Dengan perbuatan sederhananya itu saja sudah cukup membuatku merasa sangat dihargai.

Setelahnya aku dan Yorin melanjutkan berbincang-bincang dan bercanda, meskipun hanya melalui tulisan di kertas. Sampai ketika aku mencoba bertanya mengenai luka di tangannya dan tak butuh waktu lama, Yorin menjelaskan hal itu padaku. “Jadi, dulu ayahku merupakan pengusaha di Korea Selatan. Aku lahir dan besar di sana hingga umur 16 tahun. Namun, saat umurku 15 tahun terjadi sebuah musibah kebakaran di gedung perusahaan. Dan saat itu aku berada di lantai paling atas,” terang Yorin dengan raut wajahnya yang sedih. Sambil memandangi kedua tangannya, ia pun melanjutkan ceritanya. “Kata dokter wajahku harus dioperasi karena luka bakar yang parah dan tangan kiriku patah karena tertimpa bongkahan atap gedung. Kedua orang tuaku setuju dengan arahan dokter untuk melakukan tindakan operasi padaku meskipun hasilnya tentu tidak sesempurna sebelumnya,” jelasnya. “Lalu, bagaimana dengan sekolahmu? Apa kamu baik-baik saja?” tanyaku pada Yorin. “Aku benar-benar sedih karena teman yang kumiliki menjauh dan aku rasa mereka takut dengan keadaanku yang sekarang,” ujar Yorin padaku. Aku terenyuh dengan cerita Yorin dan hatiku ikut merasa sedih mendengarnya. Dari cerita Yorin serta pengalamanku, aku lantas berpikir bagaimana cara agar orang sekitar berhenti memandang kami remeh. Aku dan Yorin saling memandang dan melempar senyum, entah bagaimana bisa kami secara bersamaan memiliki ide untuk membangun komunitas bagi penyandang disabilitas.

Hari demi hari berlalu, keadaan telah berubah. Empat tahun kemudian impianku dengan Yorin tercapai, kami dapat membuat Komunitas Gerakan Disabilitas Bisa (GERDISA) yang diikuti sekitar 7.000 orang. Terlebih nama GERDISA sampai terdengar hingga luar negeri. Aku bersama Yorin telah meluncurkan buku yang berjudul “Disabilitas Bisa Apa?” hingga menjadi best seller di Indonesia. Bahkan kami sempat diberi kesempatan untuk menghadiri acara talk show mengenai komunitas GERDISA. Tentu semua pencapaian yang aku alami tidak lepas dari peran kedua orangtuaku yang telah mendukungku sampai saat ini. Rasa terima kasih selalu aku panjatkan kepada Tuhan, sebab berkat-Nya aku bisa membuktikan bahwa penyandang disabilitas juga memiliki kesempatan yang sama dengan manusia yang normal.

(Laras Wulansari)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.