Situs Sukosewu, Jejak Majapahit di Blitar

Candi di Situs Sukosewu di Desa Sukosewu, Gandusari, Blitar. (Ikfi)

Apakah kamu tahu tentang situs-situs yang ada di Indonesia? Sebelum beranjak tentang situs di Indonesia marilah kita mengenal kata situs terlebih dulu. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) situs adalah daerah temuan benda-benda purbakala. Hal serupa diungkapkan oleh Fatidiyah selaku juru bicara atau juru kunci Situs Sukosewu, “situs yang berada di daerah Desa Sukosewu atau yang lebih dikenal dengan Situs Sukosewu merupakan temuan benda-benda berupa bebatuan mirip candi yang berada di kawasan Desa Sukosewu”.

Situs Sukosewu terletak di Desa Sukosewu, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar. Lebih tepatnya tidak jauh dari Candi Kotes. Luas lahannya mencapai 600 m2 yang  berada di atas gundukan tanah berpasir dan terletak di tengah-tengah area persawahan warga. Keberadaan Situs Sukosewu menjadikan Desa Sukosewu lebih dikenal masyarakat sebagai tempat bersejarah, karena terdapat sebuah peninggalan zaman dulu. “Selain pengunjung lokal, tak jarang pengunjung situs ini juga berasal dari berbagai golongan mahasiswa,” ucap Fatidiyah. Menurut Nova Yunina, salah satu pengunjung mengungkapkan bahwa pengunjung di Situs Sukosewu cukup ramai pada waktu tertentu saja, misalnya pada saat hari libur. Situs Sukosewu merupakan situs kepemilikan negara atau diakui keberadaannya oleh negara. Maka dari itu, situs ini dikelola oleh kantor Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) yang terletak di Trowulan, Mojokerto.

Dalam Situs Sukosewu ini terdapat beberapa bebatuan dengan sebutannya masing-masing. Batu pertama bernama Altar yang merupakan meja pemujaan. Kemudian terdapat pula sebuah fragmen miniatur. Selanjutnya terdapat batu yang disebut lapik, merupakan bawahan dari suatu arca. Kemudian ada batu umpak yang terdiri dari berbagai macam ukuran, berbentuk bundar dan persegi. Batu tersebut merupakan landasan dari suatu bangunan. “Ada sungai atau sumber mata air atau danau berfungsi untuk bersuci sebelum sembahyang atau sebelum naik ke situs,  kalau disini yang diagungkan itu adalah Gunung Kelud di utara, jadi arah sembahyang menghadap ke utara,” penjelasan juru kunci Situs Sukosewu. Beliau juga menambahkan bahwa arah pemujaan agama hindu adalah mengikuti arah gunung, matahari dan laut yang dianggap paling dekat. Selain itu di sekitar situs ini juga banyak ditemukan situs baru namun belum ada penelitian lebih lanjut dan belum dipindah dari tempat penemuannya.

Pintu masuk Situs Sukosewu. (Ikfi)

Situs Sukosewu diperkirakan ada sejak tahun 1984, akan tetapi kemunculannya belum banyak diketahui oleh masyarakat. Situs ini mulai ramai diperbincangkan pada tahun 2016. Situs Sukosewu adalah miniatur candi yang di dalamnya terdapat tiga bagian miniatur yang menggambarkan tingkatan alam.  Pada bagian paling bawah tampak mengilustrasikan alam-alam tak kasat mata. Kemudian pada bagian tengah merupakan gambaran dari alam dunia manusia. Terakhir, yakni bagian paling atas menyatakan alam dan kehidupan Sang Maha Dewa dari agama Hindu kuno. Dari penjelasan ketiga bagian candi Situs Sukosewu ini, dapat terekam jelas bahwa situs ini merupakan peninggalan Kerajaan Hindu. Menurut penuturan juru kuncinya, situs ini merupakan peninggalan Kerajaan Majapahit Pertama di bawah kepemimpinan Raden Wijaya. Pada zaman kerajaan, candi yang berada pada Situs Sukosewu juga menjadi tempat pemujaan agama hindu.

Ditemukannya banyak situs sejarah baru, menandakan bahwa semakin banyak pula harta sejarah yang bisa dipelajari generasi muda Indonesia. Selain belajar, sudah sepatutnya seluruh pengunjung turut menjaga kelestarian setiap peninggalan terdahulu tidak terkecuali Situs Sukosewu ini. Dengan begitu, generasi-generasi selanjutnya tetap dapat mempelajari mengenai sejarah yang ada di Indonesia termasuk Blitar. Pemerintah daerah juga perlu mengembangkan pengelolaan situs yang ada, seperti peningkatan fasilitas di situs tersebut. Selain sebagai daya tarik pengunjung, juga dapat dimaksudkan sebagai peluang bisnis bagi para pedagang. Mari wujudkan Indonesia yang lebih besar dengan tidak melupakan sejarah bangsa.

(Ikfi)

Related Posts