Sat. Oct 24th, 2020

LPM Kompen

Katakan yang Benar Walau itu Getir

Siapa Suruh Jadi Wartawan?

6 min read

Ilustrasi: Agam

“Pokoknya tidak boleh,” ucap ayahnya Yusnaldi.

Matanya tajam menatap Yusnaldi yang kini berlutut di hadapannya.

“Alah, tiga hari saja pak.”

Bapaknya masih bergeming. Kemudian bapaknya membuang pandangan ke jendela. Tidak mempedulikan Yusnaldi yang kian erat memegang kakinya.

“Apakah kau tidak ingat pamanmu?”

Tetapi, Yusnaldi memilih mengendap-endap keluar rumah di malam hari. Membawa apa yang perlu untuk undangan liputan selama tiga hari tersebut. Uang yang tidak seberapa, baju ganti secukupnya, serta peralatan mandi seadanya.

“Kalau kau mau berangkat, semua sudah dibiayai Yus,” kata Pemimpin Redaksi.

Yusnaldi sumringah mendengar ucapan tersebut. Dari sekian banyak wartawan di tempatnya bekerja, dialah yang terpilih. Itulah sebab dia beberapa hari terakhir senyam senyum sendiri saat masuk kantor. Cengar-cengir sendiri saat makan di warung.

Kemudian ia berhasil. Ia keluar rumah lewat jendela kamarnya. Jam menunjukkan pukul dua belas malam. Bapaknya masih tidur.

Sejak ibunya meninggal dua tahun lalu, Yusnaldi hanya tinggal berdua dengan bapaknya. Bapaknya pensiunan pegawai jawatan kereta api. Praktis, Yusnaldi lah yang bisa merawat bapaknya yang sudah semakin tua—yang kesibukannya di rumah hanya menanam sayur mayur.

“Aku ingin merantau ke Jakarta pak.”

“Jangan! wong di sini masih banyak pekerjaan.”

Bapak Yusnaldi kesekian kalinya menolak permintaan anaknya.

“Kalau kamu mau, kamu bapak masukkan ke jawatan kereta api. Banyak teman bapak disana,” sambung bapaknya.

Yusnaldi hanya diam. Pikirannya melayang ke Jakarta. Ia membayangkan bekerja di surat kabar nasional. Kemudian ia membayangkan namanya sebagai wartawan terpampang di situ.

 

“Enak lho, kerjanya cuma mengatur lalu lalang kereta api, atau mungkin bagian loket. Daripada jadi wartawan,” bapaknya menyambung.

Yusnaldi sama sekali tidak tertarik dengan tawaran bapaknya. Ia sibuk dengan pikirannya. Jika ia menulis acara tersebut dengan baik, bisa jadi ia akan dilirik koran nasional. Seperti temannya dulu.

Malam itu cerah ketika Yusnaldi datang ke kantornya dengan sepeda motor.  Seperti biasa, setiap malam kantor selalu ramai dengan hilir mudik kendaraan untuk distribusi surat kabar hari ini.

Jusmadi terlihat mengantuk di depan kantor surat kabar tersebut.

“Akhirnya kau datang juga,” ucap Jusmadi dengan muka lelah. Beberapa kali matanya terpejam pertanda lelah setelah seharian mencari berita ke penjuru kota sampai sore. Malamnya masih di harus kembali ke kantor lagi.

Yusnaldi bukanlah Jusmadi. Yusnaldi menantikan saat-saat ini.

Bus yang membawa rombongan wartawan daerah kemudian datang ke kantor ini untuk menjemput mereka berdua. Bis itu telah berkeliling ke segala penjuru surat kabar sebelum sampai ke kantor Yusnaldi.

Di dalam bus, Jusmadi tidak dapat menahan kantuknya dan tertidur lelap. Sementara, Yusnaldi masih terjaga dan pikirannya sudah kemana-mana.

Harian Rakyat1, Yusnaldi sudah membacanya sejak kelas 4 SD. Koran langganan pemilik toko peracangan yang selalu ia baca sepulang sekolah. Mungkin bacaannya terlalu berat untuk Yusnaldi kecil, tetapi ia tidak mempermasalahkannya.

Sejak itulah ia suka koran. Baginya, koran sangat keren. Lebih banyak ilmu pengetahuan di koran daripada buku sekolah nya. Lama-kelamaan Yusnaldi juga  penasaran bagaimana cara membuat koran.

Hal tersebutlah yang menjadi topik saat Yusnaldi berjumpa dengan pamannya. Ia baru tahu kalau pamannya wartawan di surat kabar tersebut. Ia banyak bertanya ketika pamannya pulang ke kampung–meskipun jarang.

Pernah suatu hari ia diajak main ke Jakarta selama beberapa hari.

“Tidak boleh!” Kedua orang tua yusnaldi kompak menjawab tawaran tersebut.

“Tidak apa-apa Yus, kalau bisa belajar di sekolah. Ikutlah kegiatan jurnalistik disana,” jawab pamannya.

 

Namun, hari ini, ia menginjakkan kaki di Jakarta. Kota itu besar–dengan hiruk pikuk kesibukan manusianya. Yusnaldi terperangah. Kota ini cepat berubah dan segera melupakan revolusi beberapa tahun lalu yang menyebabkan pergolakan besar2—yang menyebabkan sang proklamator lengser.

Besok ia akan meliput peresmian gedung pemerintahan di pusat kota bersama wartawan dari daerah lain. Sementara menunggu besok, para wartawan diinapkan ke hotel yang cukup mewah. Naik turun lantai tidak perlu tangga, ada lift. Peralatan mandi yang dibawanya pun tidak berguna, semua sudah disediakan dari hotel. Pun saat makan malam, para wartawan makan dengan lahapnya.

“Aku tidak pernah makan seenak ini di kampung,” ujar Jusmadi yang berbicara meskipun mulut penuh dengan makanan. Dan akhirnya ia tertidur pulas dengan perut penuh.

“Apakah kehidupan wartawan di Jakarta semakmur ini?” gumam Yusnaldi, ia bingung.

Ia kemudian berpikir, betapa beruntungnya pamannya bisa bekerja menjadi wartawan di Jakarta.

Bagaimana kehidupan wartawan di kota Yusnaldi nan jauh dari Jakarta? Jangankan makan enak, satu hari makan dua kali itu sangat perlu disyukuri. Gaji dibayar tepat waktu pun adalah hal yang langka. Tapi, bagaimana lagi, bagi Yusnaldi menulis adalah hidupnya.

Yusnaldi yakin, dengan menjadi wartawan, ia akan banyak membantu orang memperoleh informasi. Dan dengan menulis pula ia percaya suatu saat akan menjadi intelektual yang bisa bermanfaat bagi banyak orang.

Entah mengapa Yusnaldi kembali teringat pada pamannya–yang entah sekarang tidak diketahui rimbanya bersama korannya. Setelah terakhir kali bertemu saat masih sekolah dasar.

“Kalau jadi wartawan di kota harus hati-hati,” begitu ucap pamannya–yang sampai kini ia sendiri tidak mengetahui maksudnya.

Pagi itu acara peresmian gedung dilakukan dengan besar besaran. Pejabat negara yang biasanya hanya terlihat di layar kaca–oleh wartawan daerah– sekarang bisa nampak dengan kasat mata. Hadir pula aparat dengan pangkat tinggi. Mereka duduk di tenda mewah yang telah disediakan–plus dengan kursi empuknya.

Saat acara, semua telah diatur secara ketat. Para wartawan hanya bisa mengambil gambar dari jauh. Ada tali yang digunakan sebagai pembatas area yang boleh digunakan para wartawan untuk mengambil gambar. Sesi wawancara pun diatur jamnya secara disiplin.

Yusnaldi tidak tertarik dengan sesi foto-foto tersebut.

“Biar kamu saja yang foto-foto, aku mau keliling keliling dulu,” ucapnya kepada Jusmadi

Gedung itu tingginya sepuluh lantai. Dari tampak luar, gedung itu terlihat tidak berdinding. Seperti tersusun dari banyak kaca.

Yusnaldi memandangi gedung tersebut lalu mendongak ke atas. Sampai leher dan dagunya benar benar lurus, saking tingginya. Matanya terbelalak. Terlebih lagi, konon, gedung ini hanya dibangun selama tiga bulan, sejak diumumkan ke publik.

“Berapa banyak uang yang dihabiskan?” gumam Yusnaldi.

“Ini satu milyar.”

Yusnaldi mendengar suara itu di balik gedung. Seakan suara itu yang menjawab gumamannya tadi.

Acara pagi itu hampir saja selesai. Sudah mau masuk ke sesi wawancara. Tetapi, Yusnaldi lebih tertarik melihat dua orang berjas hitam yang mengoper koper ke seseorang berjas putih. Lalu orang berjas putih  menoleh berkali-kali sebelum menerima koper. Tidak ada banyak percakapan dalam peristiwa tersebut.

Ia tidak tahu ada persoalan apa di antara orang orang tersebut. Secara reflek Yusnaldi memotret peristiwa tersebut dari balik tembok tempatnya berdiri dengan kamera sakunya.

Untunglah dalam sesi wawancara ia tidak tertinggal cukup lama. Pun jika ada pernyataan yang terlewat, ia bisa bertanya ke wartawan yang lain. Sambil diselingi basa-basi tentang suka duka menjadi wartawan.

“Cukuplah buat beli makan sama sekolah anak-anak,” begitulah ketika wartawan ibu kota ditanyai tentang gaji.

Sebenarnya Yusnaldi iri. Mau menikah dengan pekerjaan sebagai wartawan memerlukan pemikiran panjang. Akan tetapi dalam prinsipnya, ia menjadi wartawan bukan untuk mendapat gaji besar. Tetapi lagi, kalau gajinya besar kan enak juga.

“Kapan bisa jadi wartawan di Jakarta?” ucap Yusnaldi saat perjalanan pulang di dalam bis. Jusmadi hanya tidur karena kebanyakan makan.

Protokol ketat tersebut ternyata terbawa sampai perjalanan pulang besoknya.

“Mengapa sebelum turun dari bis barang bawaan kami di periksa oleh orang berbaju hitam dahulu?” bisik Yusnaldi kepada Jusmadi.

Tas-tas dibuka, baju-baju wartawan digerayangi. Kamera dan perekam diperiksa isinya.

 

“Kamera Saudara Yusnaldi kami amankan,”

“Mana bisa begitu,” kecam Yusnaldi kepada pria berbaju hitam tersebut.

Yusnaldi kemudian dibawa turun oleh pria berbaju hitam. Para wartawan yang ada di dalam bus hanya diam membeku melihatnya. Jusmadi pula hanya termenung.

Pria itu tinggi besar dan berotot. Yusnaldi dibawanya turun dengan dipiting lehernya.

Malam itu sedikit gerimis ketika terdengar suara rintihan dan tumbukan  di tengah ladang tempat bus tersebut berhenti.

Perlahan mobil sedan mendekat. Lampunya menyilaukan mata. Seorang pria berbaju hitam lain keluar dari mobil tersebut. Diserahkannya kamera Yusnaldi kepada pria berbaju hitam tersebut. Ia melihat sekilas isi di dalam kamera itu.

Pyarr!!

Kamera itu terhempas ke tanah. Tidak cukup seperti itu, pria berbaju hitam menginjak injaknya sampai hancur lebur.

Yusnaldi, untungnya tidak sama hancur leburnya dengan kameranya, dibawa ke dalam mobil sedan. Beberapa kilometer kemudian Yusnaldi dilempar keluar dari mobil sedan ke pinggir jalan. Bajunya dilucuti hingga menyisakan celana pendek.

Antara sadar dan tidak, Yusnaldi melihat bulan yang sedikit bersembunyi di balik awan meretawakan dirinya. Pasti bapaknya juga akan bersikap seperti bulan tersebut ketika ia pulang ke rumah atau mungkin tidak. Untung saja ia tidak tewas.

“Mungkin saja paman mengalami peristiwa serupa, tapi lebih sial,” pikir Yusnaldi

Dalam artian mungkin diceburkan ke danau atau dilempar ke jurang atau dibuang dalam hutan belantara. Akan tetapi, bapaknya Yusnaldi hanya menerka sebatas dipenjara dan sekarang belumlah bebas.

 

Malang, 21 Juli 2020

(Akhsanu)

 

Catatan kaki

  1. Harian Rakyat adalah salah satu media massa Indonesia pada periode 1950-1965
  2. Revolusi pada tahun 1965

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.