Senyum Renta Pejuang Sampah

Pak Mudin sedang memilah jenis sampah di dalam gerobak tuanya dengan berbekal sabit, beliau sering dipanggil “Bapak Sampah”.

 “Hidup bagi orang miskin harus dijalani apa adanya”

(Sepatu Dahlan, 2012)

Prinsip sederhana yang dipegang teguh oleh Dahlan Iskan, seorang public figure dengan sejuta pesona inilah yang menginspirasi Pak Mudin untuk menjalani kehidupannya. Berbekal sebuah kaos ganti lusuh, gerobak tua, peralatan seadanya, botol air minum ukuran 1,5 L dan nasi bungkus minim lauk, ia mulai menjalankan profesinya sebagai “tukang bersih sampah”. Perjalanan yang dilalui pria asli Nganjuk, Jawa Timur ini mencapai kurang lebih 20 kilometer setiap harinya mulai dari daerah Kepanjen (Jombang) hingga Tunggorono. Tanpa alas kaki yang melindungi kedua kaki rentanya, pria yang umurnya menginjak kepala tujuh ini menembus kasarnya aspal jalanan diiringi panas terik matahari yang tidak enggan bersinar setiap saat. Entah sudah berapa ratus ribu kilometer yang telah dilaluinya sejak tahun 1991 dalam menjalani profesi membanggakan tersebut.

“Panggilan akrab saya adalah ‘Bapak Sampah’. Namun pekerjaan utama saya adalah membersihkan sampah. Lucu, bukan?,” ungkap pria tiga anak ini sambil tersenyum lebar. Walaupun pria berperawakan tinggi dan kurus ini hanya seorang lulusan kelas 6 tingkat Sekolah Dasar (SD), bukan berarti beliau membiarkan buah hatinya bernasib sama seperti dirinya. “Dunia boleh menganggap saya bodoh, tetapi tidak dengan anak saya. Mereka tidak boleh bodoh dan harus menjadi orang yang lebih berguna daripada saya,” katanya sambil menerawang masa lalunya. Hal tersebut beliau buktikan dengan prestasi anak pertama Pak Mudin yang berhasil menjadi seorang apoteker dan kedua anaknya yang lain masih mengenyam bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) dengan peringkat tiga besar di kelas.

Kehidupan keluarga kecil nan sederhana Pak Mudin memang masih bertempat di sebuah rumah berstatus kontrakan dengan ukuran 2×3 m2. Penghasilan yang diterimanya selama ini memang masih belum cukup untuk membeli rumah sendiri. Namun hal ini tidak lantas menyurutkan semangat pria berkumis putih ini untuk berjuang melawan kerasnya kehidupan. Keringat yang membuat uban pria sederhana ini tampak mengkilat menjadi saksi betapa keras dan melelahkan perjuangan yang beliau jalani setiap harinya. “Cukup saya saja yang lelah. Jangan sampai istri saya juga ikut merasakan beban ini dan melalaikan tugasnya untuk merawat anak – anak,” terangnya dengan wajah sayu.

Sejak waktu menunjukkan pukul 06.00 WIB, Pak Mudin sudah memulai pekerjaannya untuk membersihkan tumpukan sampah di setiap rumah. Tidak sekadar membersihkan, sisa sampah yang berserakan di selokan depan rumah juga tidak luput dari pandangannya. Bahkan, rumput liar yang tumbuh di sekitar keranjang sampah tidak dibiarkan untuk tumbuh lebih tinggi dan lebat. Sekitar pukul 17.30 WIB, beliau tiba kembali di “istananya” untuk berkumpul bersama keluarga dan menghabiskan waktu layaknya keluarga lain pada umumnya. “Bapak selalu pulang dengan tersenyum dan sama sekali tidak pernah mengeluhkan tentang betapa penatnya hari yang dilaluinya. Bapak juga tidak pernah melewatkan satu kali pun sholat lima waktunya bahkan ketika bekerja, ungkap Bu Iin, sang istri.

“Kerja itu harus ikhlas karena tidak hanya dilihat manusia tapi juga dipandang sama Gusti Allah. Jangan terlalu banyak mengeluh kepada Pencipta, sudah banyak umat yang mengeluh, jangan ikut-ikutan,” jelas Pak Mudin dengan nada tegas dan mendalam. Rp 15.000 adalah imbalan yang diterimanya per hari dari sampah-sampah yang beliau kumpulkan di setiap rumah. Tentu nominal tersebut tidak dapat dikatakan sebanding dengan derap kaki yang beliau pacu setiap harinya untuk mengantarkan sampah tersebut menuju Tempat Pembuangan Akhir (TPA), bukan? Namun sekali lagi beliau menjawab, “Kerja itu tidak hanya membutuhkan mata yang dapat melihat. Tetapi juga hati yang pasrah mawon (pasrah saja)”.

Tidak jarang penghuni rumah meminta bantuan jasa pertukangan dari Pak Mudin yang memang pernah bekerja sebagai tukang bangunan sebelum menjalani profesi ini. Memperbaiki taman yang rusak, beton yang retak, mengecat pagar bahkan memperbaiki atap yang bocor pun sanggup beliau kerjakan untuk mengumpulkan lembaran rupiah demi mencukupi kebutuhan rumah tangga yang selalu bertambah. Sutejo, salah satu warga Kepanjen mengatakan, “Saya sering sekali meminta tolong pada Pak Mudin untuk mengganti lampu atau menyalakan lampu teras ketika saya pergi. Saya suka cara kerjanya yang cekatan dan hasilnya juga lumayan bagus.”

Matur sembah nuwun (terima kasih yang amat sangat) adalah tiga kata yang beliau selalu ucapkan atas apa saja yang diterima dari orang lain atas pekerjaan yang dilakukan. “Bilang matur nuwun itu kewajiban untuk saya dan keluarga jika mendapat sesuatu dari orang lain. Entah baju bekas atau baru, uang sedikit atau banyak, ataupun pemberian lainnya, saya mengajarkan untuk tidak lupa berterima kasih,” jelas beliau. Nasihat itulah yang melekat di benak Putri Rizki, anak sulung Pak Mudin, “Bapak selalu marah kalau kami menerima barang dengan tangan kiri, lupa mengucapkan terima kasih dan enggan meminta maaf jika bersalah.”

Memang kehidupan ini seringkali menyuguhkan berbagai ironi yang mencengangkan. Seorang yang bekerja keras seakan dia hidup selamanya tidak jarang dikalahkan oleh mereka yang bersantai-santai dengan mengandalkan nasib baiknya. Namun sebenarnya apa yang diminta oleh Sang Pencipta atas kehidupan ini adalah bagaimana bisa menjadi pemeran yang baik dan bernilai di hadapan-Nya. Kelelahan yang dialami saat ini suatu hari akan menjadi berkah yang berharga. Tidak perlu sosok sempurna untuk belajar menjadi pribadi yang lebih baik, karena figur sederhana dengan kerendahan hati dan keikhlasan untuk selalu bersyukur pun dapat menjadi cermin atas kehidupan yang lebih baik layaknya Pak Mudin. (Syanne)

“Hidup adalah sebuah pemberian dan hidup memberikan keistimewaan, kesempatan dan tanggung jawab untuk menjadi seseorang yang lebih baik”

(Tony Robbins)

Related Posts