SECERCAH UTOPIA, ASA DAN FAKTA

sumber: lenna-fx.deviantart.com

Oleh: Daychan

.

.

.

Pada akhirnya, cinta pun terisak akan bengisnya suratan hidup.

10-07-2017

Talia adalah seorang yang muda, sembrono dan punya jiwa yang bebas. Mahasiswa Jurusan Akuntansi ini baru saja pulang setelah mendapatkan tanda tangan dari dosen pembimbing terkait skripsi. Senyum sumringah nampak jelas di garis wajahnya yang lembut.

Senandung ringan mengudara seiring dengan langkah kaki gadis tersebut menyusuri kompleks. Sudah tidak ada riuh rendah yang biasanya terdengar di jalanan—waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Meskipun begitu Talia tetap berjalan seakan tidak ada ancaman bahaya yang menyerangnya.

Yang sayangnya ada.

Terkesiap, Talia memandang dua sosok garang yang tiba-tiba muncul di depannya. Panik menjalar ke seluruh tubuhnya, membangkitkan sel-sel otot kaki untuk segera beranjak lebih cepat dari tempat. Talia berlari tidak tentu serta memegangi tasnya erat. Rambut hitamnya berkibar dan satu tangan yang bebas mencengkeram rok hitamnya.

Beberapa menit berlari, Talia berhenti sejenak sembari mengatur napas. Ditolehkannya arah pandang ke belakang, untuk menyadari bahwa dua penjahat itu masih berlari ke arahnya. Tepat saat Talia akan melanjutkan acara kaburnya, sebuah hantaman keras dari belakang mengenai kepalanya.

Alhamdulillah, sudah sadar!”

Talia terbangun dengan lemah. Mata cokelatnya memandang sayu pada sosok laki-laki yang sepertinya sedang menopangnya.

“Kau tidak apa-apa? Ya jelas apa-apa lah, bodoh! Duh! Akan kuantar ke UGD terdekat ya!” ujar pria tersebut seraya memapah Talia masuk ke dalam mobil.

“Skripsi …” gumam Talia meraba-raba tubuhnya. “Skripsi …” gumamnya lagi dan menyadari bahwa tas yang digenggam erat selama ini hilang.

“SKRIPSIIIII ….!!!”

Pria tersebut hanya diam tanpa kata melihat raungan ganas Talia. Namun sesaat setelah Talia duduk di kursi penumpang, gadis itu meronta keluar.

“Kau siapa?!” Talia bertanya setelah berhasil keluar dan bersandar di samping mobil.

“Telat sekali reaksimu,” katanya terkekeh.

Talia memegangi kepalanya. “Aku … skripsi … hilang … kepalaku … ugh ….”

“Aku baru saja menemukanmu tergeletak di bahu jalan. Sempat terpikir kalau kau hantu, tapi pikiran tersebut aku urungkan dan memutuskan untuk menolongmu,” cerita pria itu tertawa ringan. “Lagipula, siapa yang tidak takut ada seorang wanita dengan darah di kepalanya, berbaring tidak sadarkan diri di pinggir jalan?”

Pandangan Talia berpendar pada sosok berambut jabrik di depannya. Manik matanya tajam, rahang kokohnya terlihat jelas. Tingginya di atas rata-rata pria pada umumnya, dan Talia yakin ada tubuh sixpack yang terhalang kemeja putih tersebut.

Karena tidak ada reaksi, pemuda itu melanjutkan, “ayo, kuantar kau ke rumah sakit. Di ujung jalan ini sudah jalan utama, dan ada rumah sakit besar di situ.”

“Terima kasih atas tawarannya. Di ujung sana, kan? Aku bisa berjalan sendiri,” sahut Talia menampik tangan kekar yang merengkuh bahu ringkihnya. Pemuda itu tertawa ringan dan memasukkan tangannya dalam jeans.

“Wah, wah. Dalam keadaan seperti ini masih saja jual mahal.”

“Bukan begitu. Aku hanya tidak ingin terkurung dalam mobil stranger yang bisa menyerangku kapan saja,” Talia tersenyum kecut. “Lagipula tidak ada jaminan kau benar-benar mengantarku ke sana. Aku bahkan tidak tahu namamu.”

Tergelak, pria itu menyodorkan tangannya. “Iwan. Iwanza Rahman,” jawabnya seakan pertanyaan tersebut adalah yang paling penting dibandingkan ucapan yang lain. Senyumnya merekah hangat dan mata cokelatnya berbinar lebar.

Talia adalah seorang yang muda, sembrono dan punya jiwa yang bebas. Dan mungkin dengan tambahan rasa terpesona, gadis tersebut membiarkan dirinya dibimbing masuk kembali dalam mobil.

??-??-????

Sang surya singgah sementara di Kota Malang. Halimun pagi yang menyelimuti membuat suasana menjadi sejuk dan ringan. Burung-burung melagu indah mengusik ketenangan—menemani damai pagi ini.

“Sudah siap mengikuti interview PT. Alakazam?”

Talia yang baru saja memasang sabuk pengaman mobil, komat-kamit sebentar lalu mengepalkan tangannya ke udara.

“Kali ini tidak akan gagal,” ucapnya kemudian sambil menunjukkan senyum cerah.

“Itu baru Taliaku sayang.”

“Iwan! Jangan rusak rambutku!” jerit Talia berusaha menjauh dari sentuhan tangan Iwan di atas kepalanya.

Iwan tertawa renyah mendapati kekasihnya kembali membuka tas make-up sembari menggerutu. Matanya memandang dengan lembut namun posesif.

“Kau tahu, Wan? Sebenarnya aku sangat berterima kasih padamu,” gumam Talia menundukkan kepalanya. Iwan menautkan kedua alisnya heran namun masih menunggu kelanjutannya. Beberapa menit berlalu dan gadis molek tersebut masih belum membuka mulutnya kembali.

Iwan mendekati Talia untuk mendapati gadis itu terisak kecil. Dengan reflek Iwan merangkum pipinya dengan lembut, mengangkat kepalanya hingga kedua pasang netra tersebut bertemu.

Disisirnya lembut rambut hitam legam tersebut dan direngkuhnya badan kecil yang bergetar pelan. “Tidak apa-apa. Aku selalu di sini, Talia.”

“Ini bukan tidak apa-apa,” protes Talia. “Aku tidak pantas untukmu, Wan. Aku sudah tiga tahun menganggur. Tiga tahun! Sarjana pengangguran!”

“….”

“Aku hanya akan menjadi halangan bagimu. Apa yang akan media katakan jika Iwanza Rahman, seorang penyanyi yang sedang naik daun, berpacaran dengan seorang pengangguran?”

“Mereka tidak akan tahu,” ujar Iwan menenangkan.

“Lagipula karirmu akan hancur jika media tahu kau berpacaran,” sergah Talia.

“Manajemen akan melindungi sepenuhnya jika terjadi apa-apa.”

“Tapi—”

“TALIA!”

“….”

“Talia dengarkan aku,” pinta Iwan lembut. Talia hanya merespon dengan mendongakkan kepalanya, melihat nanar Iwan melalui pandangan keruhnya.

“Aku mencintaimu. Aku akan selalu ada di sampingmu. Tidak peduli kata orang, dan meskipun orang tuamu tidak menyetujui, aku akan di sini bersamamu.”

Seakan terpana dengan kata-kata tulus dari Iwan, likuid bening yang muncul di sudut mata Talia mengalir semakin deras. Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk saling memagut bibir satu sama lain.

10-07-2027

Perlahan kedua mata itu terbuka. Dilihatnya sayu sosok Iwan yang hampir tertidur sambil memegangi tangannya.

“I-Iwan?” tanyanya lirih.

Ekspresi sumringah seketika terlukis dalam raut wajah pemuda itu.

“Kau suka sekali ya membuat orang lain khawatir,” desah Iwan. Meskipun mulutnya mengutarakan makian, tidak dipungkiri matanya sangat merah dan terlihat lelah.

“Apa yang terjadi? Di mana … aku?”

“Talia sayang, kau menjadi korban penabrakan. Supir truk bajingan itu rupanya kurang tidur namun tetap melaju di atas 120 km/h, tanpa memerhatikan lampu merah. Kau tidak kunjung bangun selama beberapa jam, kaki kananmu retak dan jari tanganmu hampir patah. Aku sekarang benar-benar marah padamu karena kau harusnya pulang bersamaku, tapi kau menolaknya.”

Talia mengusap air mata yang menggenang dan mengancam jatuh dari manik cokelat Iwan. Talia sangat bersyukur punya kekasih yang marah padanya bahkan di saat seperti ini. Laki-laki yang sungguh-sungguh peduli, pada semua momen hidupnya. Senang, sedih, bahagia, konyol, aneh, depresi, canda tawanya telah Iwan saksikan dan pemuda itu masih mau bersamanya.

I love you.”

Iwan memandang Talia selama beberapa saat sebelum menciumnya seringan kapas. Pemuda itu menghela napas panjang dan sudut-sudut bibirnya naik perlahan. “I love you too.” Kembali dia tautkan tangannya dengan pelan. “Kita akan merayakan anniversary setelah kau keluar dari rumah sakit, ya? Aku ingin tetap ada. Pokoknya. Harus.”

Talia mengangguk lambat dan berusaha tersenyum, namun tidak berhasil. Entah kenapa tiba-tiba sosok Iwan terbelah menjadi dua. Semakin lama pandangannya semakin kabur tanpa alasan yang jelas. Talia menautkan kedua alisnya, mencoba fokus pada kekasihnya.

“Kau masih pusing, ya. Tidurlah,” ucap Iwan lembut sembari mengecup dahi Talia.

Dan Talia pun tertidur.

??-??-????

Talia masih tidak percaya dengan pemandangan yang ada di depannya.

Iwan, dengan kemeja putih yang dilinting selengan dan jeans casual yang biasa dia pakai. Berdiri di depan rumahnya. Membawa sebuket bunga mawar merah yang merona.

Well, itu hal yang biasa dilakukan Iwan ketika dia menghampiri Talia untuk mengajak jalan-jalan. Namun yang tidak habis dipikir adalah kata-kata yang mencuat setelah mereka saling sapa dan cium.

“Iwan, kau serius?”

Iwan mengangkat kedua bahunya dan terkesan tidak ambil pusing. “Kenapa tidak? Aku cinta kamu, kamu cinta aku.”

“….”

Gadis berparas jelita tersebut menundukkan kepalanya sesaat. Dipandangnya mawar merekah di dekapannya dalam-dalam. Pikirannya tidak bisa ditebak.

Melihat itu, Iwan menggaruk kepalanya ringan. Kedua insan itu jatuh dalam kesunyian selama beberapa saat, sebelum akhirnya pemuda jabrik itu mengawali percakapan kembali.

“Aku … yah, aku pikir ini jalan yang terbaik. Kita sudah lima tahun menjadi sepasang kekasih, dan ini bukan hal yang disebut terlalu terburu-buru. Aku tidak ingin perjuangan kita selama ini sia-sia.”

Iwan menggigit bibirnya pelan. “Kita berdua sama-sama punya situasi yang menahan satu sama lain. Aku dengan manajemenku, dan kau dengan orang tuamu. Tapi, sungguh, aku benar-benar mencintaimu, Talia.”

Keheningan masih terhenyak.

“… Tapi kalau kau memang belum berkenan, tidak apa-apa,” gumam Iwan rendah. Pemuda itu berbalik dan berjalan menuju mobilnya sesaat sebelum kedua tangan lembut menariknya dalam sebuah pelukan.

“… Aku mau!”

Pupil Iwan mengecil kaget.

Talia memeluknya erat. Sangat erat.

“Aku mau, Iwan,” ucap Talia sesenggukan. “Aku mau kawin lari denganmu,” lanjutnya tersenyum lebar dan menyapu bibir Iwan mesra.

11-07-2027

Suara pintu terbuka menggema di suasana rumah sakit yang sepi nan damai. Dari langkah kakinya, Talia tahu itu bukan langkah gagah Iwan.

“Siapa?”

“Halo, sayang.”

Talia menoleh cepat sebelum memutar matanya bosan.

“Bagaimana kabarmu?” tanya wanita paruh baya tersebut duduk di samping tempat tidur Talia.

“Baik,” jawab Talia cuek. Matanya lebih memilih menerawang jauh di luar jendela daripada melihat sosok di sampingnya. Tidak sedetik pun Talia menolehkan arah pandangnya walaupun waktu sudah berjalan cukup lama.

Menghela napas, wanita ringkih itu bangkit dan mulai membenahi barang-barang Talia. Mengganti air vas bunga, menata buah-buahan yang dibelikannya untuk Talia, mencuci pispot.

“Aku beli snack kentang kesukaanmu. Sekarang harganya naik, kau tahu?” sosok itu mencoba untuk mencairkan suasana suntuk yang ada di ruangan VVIP tersebut. “Ah, dan jelly rasa cokelat favoritmu. Sebenarnya dokter memeringatkan untuk memerhatikan kadar gula dalam tubuhmu, tapi makanlah ini, sekali-kali—”

“Ya, Ibu. Aku paham. Terima kasih. Silakan letakkan di meja,” potong Talia dengan nada datar.

Sang ibu hanya terdiam dan kembali duduk. Suasana nyenyat merasuk cukup lama.

Obrolan singkat memang sempat mengudara selama beberapa saat. Namun karena aura Talia terkesan sangat tidak welcome, percakapan itu terhenti di suatu waktu.

Manik mata keibuan itu memandang anaknya sedih.

“Talia sayang, kau masih memikirkan … Iwan?”

“….”

“Sayang, … besok teman Ibu mau menjengukmu. Dan teman Ibu itu punya anak yang seumuran denganmu—”

“Cukup, Ibu.”

“Hanya sekadar ingin kenal,” repet Ibu berbaju kurang rapi tersebut—tidak ada ibu yang punya waktu mengurusi dirinya sendiri ketika anaknya tertimpa musibah. “Mungkin, mungkin saja anak teman Ibu ini lebih baik daripada Iwan—”

“Ibu,” sanggah Talia memegang kepalanya sakit. “Jangan mulai ini lagi.”

“Talia ….”

Gadis itu memandang langit-langit rumah sakit dengan pandangan kosong. “Aku tidak perlu apa-apa lagi. Hidupku sudah sempurna—”

“HIDUPMU HANCUR, NAK!”

Talia berpaling dan akhirnya menatap mata ibunya secara langsung. Wajahnya pucat kaku dan pandangannya sedingin es. Sadar akan bentakannya yang mungkin sedikit kasar, sang ibu meminta maaf menenangkan Talia.

“Talia sayangku, aku adalah ibumu. Aku tahu segala sesuatu tentangmu dan kau benar-benar butuh pertolongan,” ujarnya.

“Keluar!” teriak Talia dingin.

02-10-2027

“Saudari Miftalia Putri?”

Gadis yang ditegur itu tidak mengindahkan sapaan psikiater muda di depannya. Pandangannya lurus menerawang jendela yang berada tepat di belakang pria tersebut.

“Yah, saya tahu saya tidak seganteng kekasih Anda, tapi setidaknya perhatikan saya,” kelakar psikiater tersebut tersenyum simpul.

Talia memicingkan matanya sesaat. “Tidak ada hal yang dapat didiskusikan dengan Anda, Tuan.”

“Oh, banyak hal, sebenarnya,” tukasnya. Ditariknya lengan Talia cepat dan pria itu berbisik, “lihat ibumu di sana, menunggumu dengan cemas. Beliau meminta saya untuk mengubah pola pikir Anda, tapi sebenarnya bisa saja Anda yang mengubah pola pikirnya. Bagaimana?”

Talia memandang ibunya selama beberapa saat sebelum melepaskan paksa tangan psikiater itu dari lengannya. Tatapan tajam dan penuh interogasi menguar dari mata cantik Talia.

“Langkah pertama, ceritakan dulu pada saya,” ucap sang psikiater mencondongkan badannya, tanda bahwa dia sangat tertarik.

Talia bergeming selama beberapa menit, hanya memandang psikiater tersebut dengan tatapan kosong. Pikirannya kemelut akan perasaan yang menghujam hatinya. Namun pada akhirnya dia menutup matanya dan menghela napas.

“Namanya Iwanza Rahman,” Talia memulai ceritanya ragu-ragu. “Seorang penyanyi yang sedang hits.”

Mata sang Psikiater berbinar lebar. “Wah, hebat sekali. Senang ya punya kekasih keren.”

“Keren, sangat keren. Yaaah, tapi ada senang dan tidaknya.”

“Dan itu adalah?”

“Manajemen yang menaunginya tidak memperbolehkan untuk berpacaran. Orang tua saya sebenarnya juga tidak mengizinkan untuk berpacaran dengan dia.”

Tawa satir Talia menggema di seluruh ruangan sebelum dia melanjutkan ceritanya dengan suara yang lebih keras dan gurat wajah bahagia. “Tapi kami bukanlah anak-anak yang patuh pada aturan. Kami tetap menjalin hubungan selama lima tahun dan memutuskan untuk kawin lari!”

“Saya bisa merasakan kekuatan cinta di sini,” komentar psikiater sambil meraba-raba udara di sekitarnya.

Talia tertawa kecil melihatnya. “Iwan adalah orang yang tidak malu menunjukkan perasaannya. Marah, sedih, tertawa, senang, bahagia, bingung, apa pun itu. Dia juga sabar, perhatian, penyayang ….”

“Sepertinya Anda benar-benar mencintai Iwan.”

“Saya sangat mencintainya.”

11-07-2017

Ketika Talia tersadar, pemandangan yang dia lihat adalah ibunya yang menangis di sampingnya dan seorang dokter.

“Eh?” Merasa tidak beres, gadis berwajah pucat tersebut langsung terduduk dari tidurnya. Kepalanya sangat pusing dan butuh waktu beberapa lama untuk menenangkan dirinya.

“Syukurlah, sayang,” rintih ibunya sembari memeluk erat. Talia masih belum bisa mencerna apa yang sebenarnya sudah terjadi pada dirinya.

“Aku kenapa lagi, bu? Di mana Iwan?” tanya Talia bertubi-tubi.

Sejenak Talia berhenti bergerak dan memroses semua yang ada di dalam pikirannya. Matanya mendadak terbeliak. Badannya seketika kaku dan tangannya memukul-mukul dadanya.

“Anak Anda sedang mengalami shock. Saya akan panggil suster untuk meminta obat penenang—”

“Tidak, tidak! Tunggu dulu! Di mana Iwan?!” jerit Talia berusaha berdiri dan mengitari seluruh bagian kamar rumah sakit tersebut.

“Iwan ….” ucap Ibunya menggantung.

“Iwan?! Di mana Iwan?! Iwan!!!”

02-10-2030

“Talia sayang ….”

Suara sesenggukan mengudara di kamar rumah sakit tersebut. Talia membuka matanya perlahan dan tersenyum kecil.

“Iwan,” panggil Talia lirih.

“Kau bodoh atau apa?” cerca Iwan mengusap air matanya. “Kau sudah tidak sayang dengan dirimu lagi? Kau sudah tidak sayang denganku?”

Gadis—yang sekarang lebih tepat disebut dengan wanita itu membelai lembut pipi mulus Iwan, dan menariknya dekat padanya. Dikecupnya halus, sembari menenangkan Iwan bahwa dirinya tidak apa-apa.

“Talia, kenapa kau melakukan hal seperti ini? Apa kau tidak bahagia denganku?” tanya Iwan memandang manik cokelat itu lurus.

“Aku … bahagia. Aku sangat bahagia denganmu,” jawab Talia menatap nanar pria di depannya.

Iwan merengkuh badan lemah Talia erat. Diciumnya pelan rambut hitam yang menjuntai panjang nan indah. Tubuh kedua insan tersebut terdiam lama dalam posisi tersebut.

“Iwan ….”

Melepaskan pelukannya, Iwan menatap Talia.

“Iwan … apakah kau mencintaiku?”

Terhenyak sebentar, Iwan mendekatkan dirinya sampai dahi mereka bertautan. “Kau bodoh ya? Kau benar-benar bodoh,” isaknya. Sejurus kemudian air mata Iwan jatuh mengalir ke pipi Talia. “Tentu saja aku mencintaimu! Kau segalanya bagiku!”

02-11-2030

“Jadi, err ….”

“Ya.”

“Hidupmu benar-benar sempurna jika ada seorang Iwan di sampingmu?”

Talia mengangguk pelan.

“Tidak bisa digantikan dengan sosok yang lain?” tanya psikiater itu hati-hati. “Kau tahu, jumlah populasi pria di dunia ini—”

“Tidak. Hanya Iwan yang mampu melengkapi puzzle kehidupan saya.”

Psikiater tersebut menggigit bibir bawahnya. “… benar-benar tidak bisa digantikan, ya.”

“Tidak bisa,” sergah Talia cepat. Sesaat kemudian dia menjatuhkan punggungnya kembali ke sandaran kursi sembari tertawa satir. Tawanya begitu sumbang hingga menyayat hati setiap orang yang mendengarnya.

“Meskipun dia tidak nyata, dia tidak akan tergantikan di hidup saya.”

11-07-2017

“MAKSUDMU APA ITU TIDAK NYATA?!” teriak Talia sampai suaranya hampir habis. Dia bergulat dengan dokter dan beberapa suster yang memaksanya untuk tetap tidur di ranjang rumah sakit.

“Saudari Miftalia, saya harap Anda tetap tenang—”

“TENANG BAGAIMANA? IWAN ITU NYATA! DIA PACAR SAYA! BULAN DEPAN KAMI MENIKAH!”

“Anda mengalami pendarahan yang cukup fatal di bagian kepala akibat serangan benda tumpul. Untungnya seorang tukang sate menemukan Anda dan segera membawa Anda ke UGD,” jelas dokter tersebut. “Anda tidak sadarkan diri hanya selama dua jam. Hal-hal yang Anda utarakan tadi mungkin adalah halusinasi nyata atau mimpi akibat terlukanya Lobus Occipital dan trauma yang mungkin Anda alami saat ini.”

Likuid bening jatuh di pipi Talia bak air terjun. Tubuhnya semakin lama semakin melemah karena beberapa saat yang lalu seorang suster berhasil menyuntikkan obat penenang padanya. Namun hati dan mentalnya masih tidak bisa tenang akan kenyataan seperti ini.

“Enam tahun, dokter! Saya mengenal dengan Iwan dan akhirnya menikah!” tangis parau Talia semakin menjadi-jadi. Tubuhnya sudah tidak menunjukkan perlawanan, dan hanya mampu tergolek lemah.

“Maaf, nak,” ucap dokter itu dengan iba. “Semua itu tidak pernah terjadi.”

02-11-2030

Talia memandang psikiater di depannya. Tiga tahun yang lalu dia pernah mengunjungi tempat ini, dengan kursi yang sama, dan dengan orang yang sama.

Menyedihkan.

“Mau menceritakan secara runtut agar saya mampu lebih memahami Anda?” Psikiater tersebut menawarkan sembari memasang senyum yang lembut.

Talia menghela napas panjang.

“Fenomena-fenomena itu terjadi ketika saya mengalami luka berat. Ketika kepala saya terhantam sesuatu. Ketika saya tertabrak truk. Iwan muncul di hadapan saya,” tutur Talia pelan. “Enam tahun pada kasus pertama, dan lima tahun pada kasus kedua.”

“Semuanya benar-benar terasa nyata?”

“Sangat nyata, dokter. Saya mampu menceritakan apa saja yang sudah terjadi secara detail selama sebelas tahun saya bersamanya. Iwan terasa nyata. Dia ada di depan saya. Dia memeluk saya. Dia mencium dan membelai saya.”

“Walaupun sebenarnya dia tidak nyata?”

“Dia tidak nyata.”

Keheningan sejenak menyeruak ruangan.

“Anda mengakui bahwa Iwan tidak pernah ada,” psikiater itu mencondongkan badannya ke depan dan mengatupkan kedua tangan. “Namun Anda masih tetap mencintainya.”

“Saya ingin selalu bersamanya.”

“Itu sebabnya Anda meminum obat pembasmi serangga sebanyak satu liter? Untuk menemui Iwan?”

Talia tertawa pahit. “Efek dari satu liter itupun, saya hanya mampu bertemu dengannya selama beberapa jam. Sepertinya memang harus di saat nyawa saya benar-benar terancam.”

“….”

“… Saya tidak mencoba untuk bunuh diri,” bela Talia, meskipun suaranya sangat pelan dan tidak percaya diri. “Saya hanya ingin ….”

Denting jam dinding terdengar sangat keras. Menit demi menit berlalu terundungi dengan kesunyian tiada tara.

“Saudari Miftalia,” ucap Psikiater dengan lembut. “Saya yakin Anda punya orang-orang yang menganggap Anda berharga. Keluarga, teman, kolega … Anda tidak ingin mereka khawatir, bukan? Anda punya hidup yang harus dipertanggung jawabkan.”

“Ya, saya tahu itu. Sejak awal saya sudah tahu. Anda tidak perlu mengkhotbahi saya.”

“Meskipun begitu, Anda masih menolak untuk melupakannya?”

Talia menunduk. Dia memandang sayu kedua tangannya yang bertautan lemah. Wajahnya pucat, sangat pucat. Air mata seakan sudah bosan untuk keluar dari mata lentik dan sembab tersebut, namun tetap saja tidak terelakkan.

“Melupakan apa, dokter?” ucap Talia bergetar. Kendati air matanya yang lagi-lagi jatuh, wanita itu memandang sang psikiater dengan tajam dan tawa lebar. “Bagaimana caranya untuk bisa melupakan sesuatu yang tidak ada? Dia tidak hidup, dia juga tidak mati. Dia hanya nyata, bagi saya. Dan bagaimana saya bisa melanjutkan hidup dengan bahagia ketika mungkin saja ada suatu kesempatan untuk bisa bertemu dengannya lagi?”

Psikiater itu terdiam.

31-12-2030

Hitam pekat menjalari langit. Tidak ada bintang, tidak ada apa pun yang menjadi cahaya kecil bagi malam ini. Hawa dingin begitu menusuk kulit, tembus hingga ke dalam tulang-tulang rapuh dalam tubuh. Sesekali angin menyapa pelan untuk mengajak pohon-pohon itu menari.

Sesosok wanita ringkih memandang lamat-lamat hiruk pikuk kota Malang melalui balkon apartemennya. Mata cokelatnya redup, sangat kontras dengan lampu-lampu yang berpendar di bawah sana. Rambut hitamnya terhempas, namun sang empunya tidak peduli untuk sekadar merapikannya.

Bahkan dengan hidupnya.

“Iwan,” panggil wanita itu entah pada siapa.

Wajahnya muram, bibirnya pucat. Tidak ada tanda-tanda kehidupan yang terasa di sosok lemah ini. Tangannya yang kurus kering itu menggapai-gapai udara dingin di depannya.

Wanita itu menoleh sebentar untuk menemukan ibunya tengah tertidur di kursi perapian. Sejurus kemudian, dia tersenyum tipis.

“Akhirnya,” gumamnya. Matanya sekonyong-konyong berbinar lebar memandang langit. “Iwan, tunggu aku. Aku akan segera menemuimu,” lanjutnya seraya menaiki pagar balkon.

Catatan Penulis:

Saya membaca sebuah cerita dari forum AskReddit (forum perbincangan segala topik, namun Anda harus memakai VPN alias ganti IP untuk menuju situs tersebut karena masuk internet positif).

Dari situs asli Reddit:

https://www.reddit.com/r/AskReddit/comments/oc7rc/have_you_ever_felt_a_deep_personal_connection_to/

Ada yang menulisnya ulang di blogspot (Anda tidak perlu mengganti IP, namun ini hanya penggalan ceritanya bukan forum diskusinya. Saya lebih menyarankan untuk ke situs aslinya saja):

https://protiguous.blogspot.co.id/2014/05/temptotosssoon-comments-on-have-you.html

Ada seorang pria bercerita bahwa walaupun dia hanya tidak sadar selama beberapa menit setelah tertabrak, dia mengaku telah hidup selama sepuluh tahun pada waktu dia tidak sadar. Dia sudah punya istri dan dua anak. Setelah menyadari bahwa itu tidak nyata, dia mengalami depresi yang cukup dalam selama tiga tahun.

Cerita ini menarik perhatian banyak orang. Saya pun menelusuri, dan secara medis memang ada istilah dimethyltryptamine (https://bramardianto.com/fakta-tentang-dmt-dan-kesadaran-ilahi.html).

Terlepas dari benar atau tidaknya cerita tersebut, saya melihatnya dari sisi sastra dan mengagumi cerita ini.

Terima kasih telah membaca.

 

Related Posts