Sat. Oct 24th, 2020

LPM Kompen

Katakan yang Benar Walau itu Getir

Seberapa Efektif Masker Kain Mencegah Penyebaran COVID-19?

5 min read

Penggunaan masker selama pandemi COVID-19. (Salsabila)

Masker menjadi barang yang dicari-cari di masa pandemi COVID-19 ini. Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 telah mewajibkan penggunaan masker untuk warga yang keluar rumah dan mengimbau masyarakat menggunakan masker kain daripada masker bedah. Kini masker kain juga semakin digemari masyarakat karena penggunaannya yang praktis dan harganya yang terjangkau.

Namun dibalik itu, Seberapa efektifkah masker kain mampu menggantikan masker bedah untuk mencegah COVID-19?

Sebelum itu, mari memahami bagaimana masker bekerja terlebih dahulu. Dokter sekaligus Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, dr. Rimbun, M.SI, mengatakan penggunaan masker sangat efektif untuk mencegah penularan COVID-19. Dikarenakan virus ini dapat menyebar melalui droplet (percikan air liur) dan airborne (partikel udara), maka masker berperan efektif mencegah masuknya partikel virus dengan menutupi mulut dan hidung.

Pada orang yang sakit, masker berfungsi menghambat penyebaran droplet yang mengandung virus dan pada orang yang sehat, masker berfungsi membantu mem-filter udara yg masuk ke pernapasan kita,” ujar dr.Rimbun saat diwawancarai via WhatsApp, Senin (20-04).

Namun, tidak sembarang masker dapat digunakan di masyarakat. Jenis masker tergantung kebutuhan pengguna, terdapat masker yang dibedakan antara tenaga medis dan masyarakat umum.

“Untuk masyarakat luas, cukup menggunakan masker kain. Sedangkan untuk tenaga medis lini depan, masker yang digunakan adalah masker medis,” jelas dr. Rimbun.

Jenis masker yang bisa digunakan untuk mencegah COVID-19. (Salsabilla)

Ia menjelaskan jika masker bedah dikhususkan oleh tenaga medis untuk menangani pasien yang sakit, tetapi sakitnya masih beragam, dan kontaknya tidak terlalu lama. Masker bedah memiliki kemampuan memfiltrasi zat atau partikel berukuran PM 2.5-10. Contohnya masker medis tiga lapis dan masker KN-94.

Selanjutnya mengenai masker N95, masker ini memiliki kemampuan memfilter zat atau partikel berukuran lebih tinggi, yaitu P.M 0.3. Masker ini dikhususkan bagi tenaga medis yang kesehariannya merawat pasien terkonfirmasi COVID-19 atau Pasien Dalam Pengawasan (PDP).

“Terlebih dokter spesialis yang melakukan tindakan pada PDP, seperti memasang pipa ke saluran napas (pipa endotrakeal), dan tindakan invasif lain pada pasien COVID-19. Merekalah yang harus menggunakan masker N-95,” ujarnya.

Sedangkan masker berbahan kain sangat dianjurkan untuk masyarakat. Hal ini bertujuan menghindari terjadinya kelangkaan masker bedah. Bahan yang mudah dicari serta cara pembuatannya yang tidak sulit menjadi alasan lain mengapa pemerintah mengimbau masyarakat untuk menggunakan masker kain.

Seperti yang dikatakan oleh Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, Prof. Wiku Adisasmito, ia mengimbau masyarakat umum untuk menggunakan masker kain tiga lapis saat terpaksa berpergian ke luar rumah.

“Masker kain yang digunakan sebaiknya memiliki tiga lapisan sehingga lebih efektif menangkal droplet. Masker tersebut dapat dibuat sendiri dengan dijahit secara manual atau menggunakan mesin,” terang Wiku.

Setiap jenis masker memiliki tingkat keefektifan berbeda-beda. Masker kain tidak memiliki perlindungan layaknya masker bedah atau masker N95. Namun menurut Wiku, masker kain bisa memiliki keefektifan virus hingga 70 persen.

“Sesuai hasil penelitian, masker kain dapat menangkal virus sebesar 70 persen,” kata Wiku melalui tayangan Youtube Badan Nasional Penanggualangan Bencana (BNPB) Indonesia, Minggu, (05-04).

Dokter sekaligus Kepala Departemen Ilmu Kesehatan THT Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) Universitas Gadjah Mada, Dr. dr. Bambang Udji Djoko Rianto, Sp.THT (K)., M.Kes. melalui laman ugm.ac.id menjelaskan bahwa penggunaan masker kain kurang efektif dalam mencegah penularan COVID-19 bahkan perlindungannya hanya tiga persen saja.

Pada penelitian yang diterbitkan pada jurnal BMJ Open (2015) berjudul A Cluster Randomise Trial of Cloth Masks Compared with Medical Masks in Healthcare Workers, dr. Bambang menjelaskan terdapat perbedaan yang sangat signifikan antara penggunaan masker bedah dan masker kain dalam mencegah infeksi saluran pernafasan maupun infeksi virus.

”Hasilnya sangat luar biasa, ternyata orang yang pakai masker kain kemungkinan menderita infeksi saluran nafas dan infeksi virus tiga belas kali lebih besar dibandingkan dengan yang memakai masker bedah. Ini kan bahaya sekali,” ujarnya.

Lagi, ia menjelaskan COVID-19 memiliki ukuran 0,125 mikrometer atau 125 nanometer. Di sisi lain, masker kain tidak memiliki kerapatan yang cukup dalam menyaring partikel sekecil itu.

Namun, ia mengatakan masker ini dapat menjadi alternatif terakhir jika masker bedah sulit didapat. Sama seperti Wiku, ia menyarankan masyarakat untuk melapisi masker kain hingga tiga lapis agar dapat meningkatkan kemampuan filtrasi masker.

“Memang sampai sekarang belum ada riset yang meneliti efektivitas penggunaan masker kain tiga lapis ini. Namun, logikanya kan lebih rapat jadi bisa lebih memproteksi dari infeksi virus,” ujarnya.

 

Pemakaian Masker Kain yang Benar di Masyarakat

Kini masker kain pun mudah dijumpai di berbagai platform e-commerce dengan harga terjangkau.

Screenshot masker kain yang dijual secara online. (Salsabila)

Akan tetapi, masker kain tidak bisa digunakan sembarangan. Hal ini dikarenakan pada masker kain masih memungkinkan untuk terjadi kebocoran lubang yang membuat virus atau bakteri tetap dapat masuk. Dr. Rimbun menerangkan masker kain minimal terdiri dua lapis dan tidak berbahan kain yang tipis, tali masker jangan terlalu ketat dan longgar, serta sedapat mungkin tahan air. Masker harus bisa dibedakan antara bagian luar dan dalam, dapat dengan warna atau jahitan yang berbeda.

“Untuk masyarakat luas, cukup menggunakan masker kain tiga lapis dengan diberi lapisan tambahan seperti tissue atau tissue basah yg dikeringkan,” ujar dr.Rimbun.

Selanjutnya, dr. Rimbun juga menekankan agar pemakaian masker tidak sembarangan. Tindakan sering menyentuh bagian luar masker dan jika melepas tanpa menaruh di tempat yang aman dapat menimbulkan kontaminasi virus.

“Sering melepas masker, lalu memakai lagi, apalagi posisi terbalik antara dalam dan luar, masker yang terlalu longgar dan hanya menutup mulut, serta pemakaian yang berulang kali dengan cara dibalik merupakan penggunaan yang salah sehingga tidak bermanfaat untuk melindungi dari virus,” ujarnya

Berbeda dengan masker bedah yang hanya sekali pakai, masker kain dapat dibersihkan dengan cara direndam dengan detergent dan dipakai lagi. Hal ini bertujuan agar kotoran bahkan virus yang menempel di masker dapat bersih dengan maksimal.

“Setelah dilepas, rendam masker dengan dengan air sabun dulu baru dicuci. Jangan lupa untuk menjemurnya dibawah sinar matahari,” terang Mia Ruwandari, Paramedis Rumah Sakit Unipdu Medika Jombang saat diwawancarai via WhatsApp, Senin (20-04).

 

Memakai Masker Saja Tidak Cukup

Di sisi lain, Dr. Izzaatul Abadiyah, seorang Company Doctor atau Dokter Pemeriksa Kesehatan Tenaga Kerja menjelaskan, Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) dapat menjadi boomerang jika salah memakainya. Dr. Izza menjelaskan pemakaian berlebihan dan tidak dengan perilaku yang tepat akan membahayakan pemakai.

Ia mengambil contoh seseorang yang menggunakan sarung tangan steril atau handscoon lalu memegang benda yang terkontaminasi virus. Setelahnya ia memegang masker dengan sarung tangan tersebut. Ketika tangannya atau handscoon yang terkontaminasi  menyentuh area mata atau bagian masker, maka ini juga menjadi penyebab menularnya virus.

“Jadi yang perlu ditekankan adalah virus ini bisa masuk melalui saluran napas, bisa juga mukosa (lapisan kulit dalam). Sehingga cara paling efektif adalah hand hygiene atau praktik cuci tangan. Penggunaan masker efektif ketika kita berada di area keramaian atau digunakan oleh orang yang sakit dan para tenaga medis,” ujar dr. Izza. saat diwawancarai via WhatsApp, Selasa (21-04).

Penggunaan masker kain memang menjadi alternatif untuk sekarang. Namun, masker kain saja tanpa tambahan tiga lapis akan percuma karena tidak menyaring partikel virus yang sangat kecil. Selain itu, pemakaian masker harus dilengkapi dengan tindakan lain seperti cuci tangan teratur, menjaga  etika bersin dan batuk, lalu penerapan physical distancing karena virus masih dapat menular melalui benda yang kita sentuh.

 

(Salsabila, Shafa, Sinta P, Yurischa)

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.