Salahkah Masyarakat Mencaci PSSI?

Sumber: Bukalapak.com

Persatuan Sepak bola Seluruh Indonesia (PSSI) berdiri pada tanggal 19 April 1930. PSSI ketika itu menjadi bagian dari perjuangan pemuda-pemuda Indonesia untuk meraih kemerdekaan dari penjajahan Belanda melalui sepak bola. Waktu itu, sepak bola merupakan salah satu alat untuk menyatukan pemuda Indonesia sebagaimana yang diusulkan Ir. Soeratin Sosrosoegondo. Ia adalah salah satu pendiri sekaligus Ketua Umum (Ketum) PSSI yang pertama. Melihat sejarahnya, PSSI idealnya disanjung sebagai organisasi yang menjunjung tinggi semangat nasionalisme. Tetapi sekarang, PSSI justru menjadi salah satu sasaran empuk hujatan masyarakat Indonesia. Sudah hampir dua dekade PSSI menjadi olok-olok masyarakat, khususnya pencinta sepak bola. Puncaknya ketika Federation of International Football Association (FIFA) menghukum PSSI dengan pencabutan sementara keanggotaannya, sehingga Tim Nasional (Timnas) Indonesia tidak bisa berlaga di ajang internasional. Jika sudah seperti ini pihak manakah yang patut disalahkan?

Hukuman yang dijatuhkan pada Indonesia berlangsung sekitar satu tahun. Setelah hukuman terhadap PSSI dicabut, bukan angin segar yang didapatkan masyarakat Indonesia. Bahkan permasalahan internal PSSI tak kunjung selesai. Sejak Kongres PSSI tahun 2016 di Jakarta, banyak keanehan yang terjadi. Salah satunya adalah pencoretan agenda pemutihan sanksi pada lembaga, klub, dan pihak-pihak yang dihukum. Pemutihan klub atau perorangan adalah hukuman berupa pencabutan keanggotaannya dari PSSI. Alasan dijatuhkannya hukuman ini adalah pihak yang dihukum melimpahkan agenda yang masih berlangsung pada musim 2016 pada kepengurusan selanjutnya.

Tidak sampai disitu, agenda pemilihan Ketum juga menimbulkan permasalahan baru. Masyarakat Indonesia sempat menaruh harapan besar pada salah satu legenda sepak bola Indonesia, Kurniawan Dwi Yulianto, yang maju sebagai kandidat. Tapi harapan tersebut sirna karena Edy Rahmayadi menang telak dengan 76 suara dari jumlah total 107 suara. PSSI yang diharapkan akan mengganti para pengurusnya dengan wajah-wajah baru, pun gagal terlaksana. PSSI kembali diisi oleh para pengurus lama, dan bahkan ada beberapa pengurus PSSI yang diberi jabatan ganda.

Sumber: bolalob.com

Belum cukup dengan kepengurusan yang tidak sesuai harapan pencinta sepak bola, masalah baru bermunculan. Salah satunya ketika Liga 1 2017 sebagai divisi teratas liga Indonesia baru dimulai, banyak regulasi aneh terjadi. Diantaranya, pembatasan pemain di atas usia 35 tahun, kewajiban klub memainkan pemain di bawah 23 tahun (U-23),  dan lima pergantian pemain untuk satu klub dalam satu pertandingan yang awalnya hanya tiga. PSSI juga memberikan hukuman yang tak lazim seperti hukuman penonton tanpa atribut, yang hanya ada di Indonesia. Beberapa kejadian kematian suporter pun belum diusut tuntas hingga saat ini. Puncak keanehan Liga 1 terjadi pada akhir musim, ketika Bhayangkara FC melawan Mitra Kukar. Laga tersebut berakhir imbang dengan skor 1-1, namun Bhayangkara FC mendapatkan hadiah tiga poin dari komisi disiplin PSSI. Alasannya adalah Mitra Kukar memainkan pemain yang seharusnya menjalani hukuman larangan dua kali bermain. Segala keanehan tersebut dilengkapi oleh keputusan Edy Rahmayadi yang memilih cuti dari jabatan Ketum PSSI untuk maju pada Pemilihan Gubernur 2018. Ketika PSSI membutuhkan sosok yang bisa memajukan sepak bola nasional, PSSI saat ini justru dipimpin oleh orang yang memiliki ambisi pribadi. Ambisi yang membuatnya rela mengesampingkan tanggung jawab utamanya untuk memajukan sepak bola Indonesia.

Dari serangkaian permasalahan di atas, gejolak di luar lapangan yang diakibatkan PSSI inilah yang dapat menjadi bumbu-bumbu masyarakat Indonesia untuk semakin prihatin kepada PSSI. Sepak bola Indonesia lebih heboh oleh persoalan di luar lapangan ketimbang prestasinya. Prestasi Indonesia yang semakin terjun bebas jelas membuat masyarakat Indonesia semakin gerah. Sebenarnya banyak program dan rencana PSSI yang positif di era sekarang ini. Dimulai dari dibentuknya kurikulum Filosofi sepak bola Indonesia untuk usia dini hingga alur target Indonesia tampil di Piala Dunia 2034. Rencana tersebut menjadi harapan bagi Indonesia memiliki masa depan yang lebih baik. Tetapi banyak permasalahan yang belum terselesaikan di internal PSSI yang membuat nama PSSI semakin buruk di mata masyarakat. Lalu, sampai kapan ini akan terjadi? Tentu hanya PSSI sendiri yang bisa menjawab pertanyaan tersebut. Entah itu melalui prestasi ataupun penunjukan pengurus yang bersih dan benar-benar mempunyai rasa tanggung jawab tinggi terhadap sepak bola Indonesia. Tentunya agar sepak bola Indonesia mampu bersaing di Asia ataupun Dunia.

 

(Nabil Fikri)

Related Posts