Saat Hujan Reda

Ilustrasi : https://i.ytimg.com/vi/J6-sOY_IV30/maxresdefault.jpg

Ilustrasi : https://i.ytimg.com/vi/J6-sOY_IV30/maxresdefault.jpg

Oleh: difshabrina

Editor: Adinda

 

Hhhh… hari ini hujan turun terlalu cepat tapi terasa sangat syahdu untuk sekedar mengundang kisah lama. Ha…. ha…  terkadang aku pun heran mengapa hujan selalu cocok untuk menjadi musik pengiring lamunan masa lalu yang dengan setia berlalu lalang dalam ingatan, ya memang tidak untuk semua orang tetapi itulah yang kini kurasa. Pagi ini hujan memintaku duduk di bangku dekat jendela dan memaksaku menikmati kenangan yang ikut turun bersamanya. Dan tak kusangka guru kimia yang seharusnya mengisi mata pelajaran pertama dengan ribuan teori kimia tak kunjung datang, sepertinya tumpahan liur langit telah menahannya. Deras hujan semakin membawaku larut dalam kenanganku tentangmu, saat kita pertama bertemu. Pagi itu adalah hari pertama kita sebagai siswa baru setelah melewati satu minggu ajaib bersama kakak OSIS.

******************

Di depan pintu gerbang sekolah tertulis dengan jelas “Selamat Datang Murid Baru”, tulisan itu bahkan terlihat dari jarak beberapa meter sebelum memasuki gerbang sekolah. Entah bagaimana reaksi yang harus kuberikan, apakah aku harus bangga? Yang aku tahu aku harus lari karena aku terlambat mengikuti upacara penyambutan murid baru. Aku menuju ke arah kelas hasil pemetaan satu minggu yang lalu, kelas X IPA 1. Tapi, baru saja akan berbelok ke wilayah kelas X seorang guru yang aku yakin adalah petugas kedisiplinan meminta semua siswa yang terlambat langsung berbaris di lapangan. “Langsung aja ke lapangan, masuk barisan belakang,” ucap guru kedisiplinan tersebut.

“Roknya mana mbak?” sapa sebuah suara di samping kiriku. Ya, karena keterlambatanku aku terpaksa berada di barisan belakang, barisan yang diisi oleh para siswi. Tapi tak kusangka akan seperti ini sambutan yang kuterima.

“Tadi malam di rumahku mati lampu, jadi mama ku salah jahit harusnya jahit logo OSIS malah jahit rokku jadi celana,” jawabku tak terlalu menghiraukannya.

Hanya itu pembicaraan diantara kami karena setelahnya upacara kembali khidmat hingga akhir acara. Aku berjalan mengekor teman- teman yang berada di baris depan, namun ada sesuatu yang janggal.

“Lho kelasnya bukan yang itu?” tanyaku pada siswi yang pagi tadi menyapaku, setelah menyadari bahwa kelas X IPA 1 terlewati.

Sesaat dia terlihat bingung, sebelum akhirnya tawanya meledak dan aku yang jadi bingung.

“Hahaha…. makanya mas (sebutan kakak laki – laki dalam bahasa Jawa)  kalau datang lebih pagi. Dari tadi mas tuh baris di barisannya kelas X IPA 4,” jawabnya setelah tawanya mereda. Tapi itu tak berlangsung lama karena setelahnya aku pun langsung menuju ke arah kelasku yang benar tanpa sempat menanyakan namanya.

Beberapa mata pelajaran gabungan ternyata kelasku dijadikan satu dengan kelasnya dan aku kembali bertemu dengannya. Dia pun mengingatku dengan kejadian memalukan itu, sebenarnya hal itu tak terlalu memalukan kalau dia tidak menjadikannya topik terhangat di kelas gabungan.

Tetapi ternyata hal itulah yang menjadi jembatan persahabatanku dengannya. Aku pun akhirnya mengetahui namanya tanpa perlu perkenalan yang terlalu formal, namanya Cheara. Ya, Che dia adalah kamu.

**************

Tak terasa satu jam pelajaran kimia kulalui dengan mengenangmu dalam hujan, Cheara.

Memasuki jam pelajaran kedua, tetap dengan pelajaran kimia. Namun sepertinya guru kimiaku benar- benar takut pada hujan, buktinya sudah lebih dari 45 menit berlalu beliau tak kunjung memberikan ceramahnya tentang bilangan oksidasi.

Oh iya Che, hari ini hari ulang tahunmu kan? Sayang hujan masih ingin bercengkrama dengan bumi, tapi aku janji setelah hujan reda aku akan menemuimu. Seperti janjiku saat itu padamu Che,  setelah hujan reda aku akan menemuimu.

***************

Tahun kedua aku dan kamu sebagai siswa di SMA ini, bukan siswa baru lagi dan aku juga nggak salah kelas lagi. Namun, kali ini kita nggak satu kelas lagi waktu kelas gabungan karena kamu sekarang bukan siswi XI IPA 4, tapi kamu sekarang siswa XI IPA 2. Ya, meski nggak bisa kamu hina lagi waktu kelas gabungan, tapi sekarang kita lebih sering ketemu kelasnya kan dekat.

Setidaknya itu yang aku pikirkan setelah tahu kamu dipindah ke sebelah kelasku. Ternyata aku salah Che, kamu justru jarang kelihatan, sering mengilang gitu aja, apa aku bikin salah Che? Kenapa kamu seolah menghindar dariku? Siapa yang mau dengerin ceritaku? Jawab aku Cheara jangan cuma bungkam!

Terkadang saat mencarimu, aku merasa kehilangan kamu entah kemana, teman – temanku menganggap perasaanku sama kamu lebih dari sahabat. Karena menurut mereka  nggak ada persahabatan antara cewek sama cowok yang bisa meleset dari panahnya Cupid. Aku nggak percaya Che, karena menurutku sikapku yang seperti itu ke kamu cuma bentuk perhatianku sebagai sahabat.

Tapi kali ini aneh Che, karena meski halaman di kalenderku sudah berganti kamu nggak juga kelihatan. Biasanya kamu cuma ngilang sehari atau dua hari aja Che, tapi sekarang udah sebulan. Selama tiga puluh hari itu tak sehari pun aku lupa mengunjungi kelasmu berharap kamu tiba –  tiba muncul mengagetkanku dengan kehebohanmu atau hanya sekedar menyambutku dengan senyuman. Namun, itu hanyalah harapanku karena aku pun tak kunjung menemukanmu. Saat kutanyakan keberadaanmu pada teman terdekatmu di kelas sekalipun, mereka sama sepertimu hanya bungkam. Rumahmu pun seakan tak bertuan saat aku ingin mengujungimu. Tak ada berita siswi pindah sekolah, terus kamu kemana Che?

Entah sudah berapa lama kamu menghilang, tiba- tiba saja seorang temanmu mengantarkan titipan yang dia bilang dari kamu.  Sebuah buku harian. Aku tak menerimanya begitu saja, aku marah Che kenapa kamu nggak kasih langsung? Dan temanmu hanya menjawab, “Tanya sendiri sama Cheara, dia cuma kasih ini. Terserah kamu mau baca apa nggak!”

Akhirnya aku pun menerimanya, dan kuputuskan untuk membacanya di rumah. Aku tertegun saat membacanya, buku itu didominasi oleh tulisan  tentang aku dan kita, hanya satu hal yang menjelaskan tentang kamu, yaitu bahwa kamu merasa nyaman berada di dekatku.

Apa kamu ingat Che? Dulu aku pernah bertanya tentang makna cinta sama kamu, kamu bilang aku bodoh karena menanyakan itu pada seorang remaja yang beranjak dewasa dengan sejuta ego di kepalanya. Namun setelah beberapa saat kamu pun berucap, “Cinta itu saat kita merasa nyaman sama seseorang saat kamu jadi diri kamu sendiri.”

Aku langsung mengingat perkataan teman- temanku yang mengatakan tak ada persahabatan antara adam dan hawa yang tidak luput dari panah dewa asmara. Ternyata selama ini kamu menaruh perasaan lebih padaku. Lalu bagaimana denganku? Apa penyangkalanku selama ini justru karena aku nggak mau kehilangan kamu? Apa mereka benar kalau perhatianku selama ini karena aku punya perasaan lebih sama kamu?

Bodoh… aku memang bodoh Che, aku terlambat menyadarinya. Sekarang aku ingin pergi ke rumahmu dan berteriak aku juga ngerasa nyaman saat dekat kamu Cheara. Namun, hari masih hujan lantas kukirim pesan singkat padamu. Bertulis “Tunggu aku Cheara, setelah hujan reda aku akan menemuimu. Jangan menghilang lagi ya! Setelah hujan reda Che.”

******************

Sama seperti hari itu Che, hari ini pun mendung tak mau mengalah pada matahari, bahkan hingga sepulang sekolah hujan pun masih terkesan enggan untuk meninggalkan bumi. Sesekali titiknya masih menyambangi bumi, tapi kini aku tak peduli karena aku ingin merayakan ulang tahunmu. Meski hujan menyisahkan gerimis aku akan tetap menemuimu.

“Selamat ulang tahun Cheara! Bunga ini buat kamu, aku juga masih punya hadiah lain, aku bacakan ya. Bissmillahirrahmanirrahim Yaa Siin….,” mungkin di mata mereka aku gila karena berbicara dengan batu.

Che, terkadang aku menyesali kebodohanku, kenapa saat aku menyadarinya nisan ini harus memisahkan kita? Tapi mungkin ini juga yang kamu mau. Kamu nggak mau kan kalau aku tahu  kamu sakit keras karena kamu nggak mau aku mencintaimu karena kasihan sama kamu. Atau mungkin kamu juga takut kalau persahabatan kita rusak karena cinta?

Cheara, sekarang hujan benar- benar reda tapi mengapa dia yang mendatangkan kenangan tentangmu enggan membawanya pergi. Cheara aku masih merindukanmu meski hujan telah reda.

Related Posts