Fri. Dec 4th, 2020

LPM Kompen

Katakan yang Benar Walau itu Getir

Republik #Jancukers: Negeri Utopia ala Sujiwo Tejo

3 min read

Sampul depan buku Republik #Jancukers. (sumber: goodreads.com)

 

Judul buku                  : Republik #Jancukers

Pengarang                   : Agus Hadi Sudjiwo (Sujiwo Tejo)

Penerbit                       : Penerbit Buku Kompas

Tahun Terbit               : 2012

Tebal Halaman           : 400 halaman

 

“Jika dengan ‘Jancuk’ pun tak sanggup aku menjumpaimu, dengan air mata mana lagi dapat kuketuk pintu hatimu.” Itulah kalimat pertama dalam buku Republik #Jancukers. Cukup romantis untuk buku yang bukan bergenre romance. Republik Jancukers adalah republik utopia yang digagas oleh Sujiwo Tejo, seperti kalimat di balik sampul buku ini “Negeri #Jancukers adalah buah perenungan Sujiwo Tejo, tidak seutopia yang digagas Plato, tetapi ideal seperti yang dicita-citakan para pendiri negeri ini lebih dari 67 tahun yang lalu.” Jadi buku ini bukan novel yang menceritakan tentang Republik Jancukers, melainkan kumpulan esai yang berisi pendapat Sujiwo Tejo tentang isu yang ada di Republik Indonesia. Dalam esainya ia menjelaskan Republik Jancukers, biasanya diawali dengan kalimat “Di Negeri #Jancukers …” dan dilanjut membandingkan dengan Republik Indonesia.

Buku setebal 400 halaman ini, terdiri dari empat belas bab, dan setiap babnya berisi lima sampai tujuh esai. Isu yang dibahas dalam esainya beragam, mulai dari sistem pemerintahan, sampai tingkah laku masyarakat. Interaksi Sujiwo Tejo dengan followernya dalam media sosial Twitter, juga diselipkan di dalamnya. Penggunaan gaya bahasa dalam buku ini cenderung santai, jenaka dan satire, beberapa kata memakai istilah dalam bahasa Jawa, khas gaya bahasa sang Dalang Edan.

Pendapat Sujiwo Tejo dalam menyikapi suatu permasalahan di Indonesia cenderung menggunakan ajaran-ajaran kuno, tetapi masih relevan dan masuk akal. Seperti esai yang berjudul Urakan, ia menuliskan “Urakan berbeda dibanding kurang ajar, Cuk. Kurang ajar bikin enek. Urakan bikin gemes.” Sujiwo Tejo dalam esai tersebut menjelaskan perbedaan antara kurang ajar dan urakan, ia mempresentasikan urakan menggunakan tokoh Bima dalam pewayangan Mahabrata. Ia menceritakan tentang Bima yang selalu berbahasa ngoko kepada Prabu Kresna, tetapi sikap Bima yang urakan malah membuat Kresna gemas dan selalu kangen. Melalui cerita tersebut Sujiwo Tejo mengajak kita untuk tidak bersikap munafik, dan urakan itu salah satu wujud dari ketidakmunafikan. Kita juga diajak waspada dengan orang yang sopan santun, karena semua koruptor termasuk golongan orang yang sopan dan santun.

Beberapa penjelasan tentang Republik Jancukers terdengar unik dan khayal, tapi pesan yang disampaikan realistis atau masuk akal. Seperti kutipan esai yang berjudul Rokok, “Lain pula di Negeri #Jancukers. Di negeri ini semua tempat adalah smoking area sebab asap rokok bisa ngeles dari hidung bukan perokok.” Terdengar khayal bukan? Dalam esai tersebut, Sujiwo Tejo menyadarkan pembaca, bahwa masyarakat Indonesia terlalu masif memusuhi rokok, padahal ada yang lebih perlu dimusuhi, yaitu pejabat yang menghindar dari tanggung jawab, yang ingkar janji dan korupsi.

Seperti satirenya dalam esai ini “Kalau pejabat saja sekarang banyak yang ngeles dari tanggung jawabnya, kenapa tak dapat digagas asap rokok dengan kepiawaian ngeles juga.” Dan masih banyak lagi, pengetahuan yang bisa kita ambil dalam membaca tiap lembar buku ini.

Buku berjudul nyentrik ini memiliki keunikan yang khas dari Sujiwo Tejo, sang seniman sekaligus budayawan. Tiap awalan babnya terdapat satu lirik lagu dari album Mirah Ingsun. Nada dalam lagu tersebut adalah bentuk penyampaian estetik dari Sujiwo Tejo yang dirasa tidak bisa disampaikan melalui tulisan. Lagu tersebut berbahasa Jawa, tetapi juga disediakan terjemahan ke bahasa Inggris dibawah lirik aslinya. Lagu-lagu ini cocok sekali dijadikan background musik saat membaca buku ini.

Dalam membaca buku ini, mungkin sedikit susah bagi pembaca yang tak terbiasa dengan bahasa Jawa, karena beberapa kata menggunakan istilah Jawa seperti ‘matur suwun’, ’cuk’,’ndak’, ‘sampean’, ‘nyelempit-nyelempit’ dan lain-lain. Tiap esai dalam buku ini tidak memiliki keterkaitan satu sama lain, topik pembahasan tiap esai cenderung acak. Di salah satu bab membahas korupsi lalu membahas supporter sepak bola, kemudian membahas takhayul lalu membahas wakil rakyat yang korupsi lagi.

Kesan yang diberikan dari buku ini adalah perasaan takjub dengan gagasan dan satirenya. Buku ini mampu mengungkap kesalahpahaman masyarakat Indonesia, memberikan kesadaran dan sudut pandang baru bagi pembacanya. Buku Republik #Jancukers cocok dijadikan bacaan cepat, apalagi bagi kalian yang sudah terbiasa membaca tulisan dari Sujiwo Tejo. Cocok buat kalian yang merasa buntu dengan keadaan negara yang karut-marut dan bingung untuk bersikap seperti apa. Pemikiran Sujiwo Tejo yang orisinal dan unik bisa dijadikan referensi dalam menyikapi isu-isu di Indonesia. Semua kalangan bisa membaca buku ini, mulai dari rakyat kecil asal tak buta huruf, sampai profesor.

“Tapi tak bisa dibaca oleh siapa pun yang sedang diliputi kemunafikan,” begitu kata Sujiwo Tejo.

 

(Chaidar)

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.