Sun. Sep 20th, 2020

LPM Kompen

Katakan yang Benar Walau itu Getir

Problematika Kuliah Daring: Sulitnya Memahami Materi dan Tugas Menumpuk

7 min read

Ilustrasi suasana perkuliahan secara daring menggunakan aplikasi Zoom. (Oliv)

Virus bernama Corona Virus Disease (COVID)-19 membawa perubahan besar pada dunia. Demi mencegah perluasan penyebaran COVID-19, Politeknik Negeri Malang (Polinema) memberlakukan kebijakan kuliah daring atau perkuliahan dengan sistem belajar via internet secara jarak jauh dari rumah masing-masing. Kebijakan ini sudah berjalan selama dua bulan terhitung sejak awal penerapannya yaitu 17 Maret 2020.

Banyak mahasiswa yang memberikan respon positif saat kebijakan ini mulai diberlakukan. Bayangan tentang kuliah tanpa harus repot mandi pagi, mengerjakan tugas sambil makan dan tiduran pun terbentuk di kalangan mahasiswa. Namun, setelah kurang lebih dua bulan jalannya kuliah daring. Muncullah berbagai keluhan, mulai dari pemberian tugas yang banyak, materi yang tidak dijelaskan, kuota internet yang memberatkan, jaringan yang tidak stabil, hingga keluhan mahasiswa tingkat akhir. Berikut kami sajikan hasil penelusuran kami terhadap civitas academica Polinema mengenai jalannya perkuliahan daring.

 Pelaksanaan kuliah online selama pandemi COVID -19.  (Sumber: pinterest)

 

Tugas Terlalu Banyak hingga Sulit Paham Materi

Secara teknis, kuliah online dilaksanakan dengan bertatap muka melalui video call dan/atau diskusi melalui WhatsApp group. Aplikasi yang paling banyak digunakan untuk kelas video call adalah Zoom dan Google Meet. Sedangkan untuk pengumpulan dan pemberian tugas melalui Google Classroom, Edmodo, WhatsApp group, Google Drive, E-mail, maupun Learning Management System (LMS) Polinema.

Salah satu dosen Jurusan Teknik Sipil, Nain Dhaniarti Raharjo, S.ST., M.T., menjelaskan bahwa ia menggunakan LMS sebagai penunjang pembelajaran agar tidak memberatkan mahasiswa. Pembelajaran dimulai dengan materi dan video penjelasan materi yang diunggah di LMS. Kemudian mahasiswa bebas mengakses kapanpun materi yang telah diunggah. Di akhir materi, ia selalu menyisipkan tugas dan soal latihan untuk mengukur seberapa jauh pemahaman mahasiswa.

“Jika ada hal yang masih belum dipahami, maka saya persilakan mereka untuk kontak saya. Saya juga menyediakan forum bebas sopan, agar kami bisa berdiskusi. Sehingga goals mata kuliah saya bisa tercapai di kedua belah pihak,” ujar Nain.

Aplikasi perkuliahan online dengan bertatap muka melalui video call. (Sumber : pinterest)

Namun, nyatanya di lapangan tidak semua pembelajaran berjalan selancar seperti yang diterangkan oleh Nain. Selama pelaksanaannya, kuliah daring diselimuti berbagai keluhan dari mahasiswa. Tim Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Kompen telah melakukan survei mengenai jalannya kuliah daring pada mahasiswa Polinema yang diisi oleh 124 responden di 24 Program Studi (Prodi). Hasilnya menunjukkan 57,26 % responden mengalami kesulitan dalam memahami penjelasan dosen. Diikuti keluhan lainnya seperti kesulitan mencari referensi jawaban, dosen yang tidak responsif, koneksi jaringan yang tidak stabil, tugas yang diberikan begitu banyak dan jarang dijelaskan, waktu pembelajaran yang sangat singkat, serta ada beberapa dosen yang memberikan kuliah di luar jadwal (malam hari).

Hasil riset tim Litbang LPM Kompen mengenai kendala saat melakukan pembelajaran online.

(Sumber: tim Riset Litbang LPM Kompen)

Dalam perkuliahan daring, materi kuliah pastinya dituntut untuk tersampaikan dengan baik layaknya kuliah offline. Namun, realitanya masih banyak mahasiswa yang kesulitan memahami apa yang dijelaskan oleh dosen. Terlebih jika dosen hanya memberikan materi berupa modul, tanpa dijelaskan mendetail tentang materinya.

“Kesulitan, karena hanya dijelaskan sedikit dan untuk praktiknya disuruh mencoba sendiri. Untuk mata kuliah tertentu hanya dikasih modul saja itupun modulnya penjelasannya masih kurang jelas,” ujar Nafa Putri Maharani, mahasiswi Prodi D4 Manajemen Pemasaran.

Tidak hanya Nafa, hal serupa juga dirasakan Gilang Cahaya Kencana, mahasiswa Prodi D3 Administrasi Bisnis. Gilang mengeluhkan tugas dari dosen yang banyak dan berat. Deadline tugas juga terlalu mepet sementara materi yang diajarkan belum cukup maksimal.

Dosen memang memberikan tugas untuk mengukur kemampuan mahasiswa dan pengganti kuliah offline. Namun, deadline yang singkat dan menumpuknya tugas mengakibatkan penguasaan materi kurang mendalam.

Seperti halnya yang dirasakan oleh Dewi, mahasiswi Prodi D4 Manajemen Pemasaran, ia mengungkapkan jika dosen kebanyakan memberikan bacaan materi saja sehingga ia cukup kesulitan dalam memahami tugas yang diberikan. Dan beberapa dosen mata kuliah praktik memberikan tugas dengan waktu yang cukup singkat.

“Semoga dosen bisa sedikit mengurangi beban tugas dan menjelaskan secara rinci materi pembelajaran,” ujar Corneza Nabetha, mahasiswi Prodi D3 Manajemen Informatika,

Kondisi pandemi ini memaksa sistem pembelajaran daring diterapkan agar kuliah tetap berjalan. Hambatan seperti pemberian materi yang kurang lancar menjadi masalah kedua pihak, baik dosen dan mahasiswa. Rahmat Wildan, salah satu mahasiswa Prodi D4 Keuangan, mengakui jika diskusi dalam perkuliahan online tidak seluwes saat tatap muka di kampus dan topik bahasannya sangat terbatas. Meskipun begitu, sistem pemberian materi perkuliahan yang diterapkan sudah cukup baik di tengah keterbatasan ini. Kesulitan yang ia rasakan adalah susah mencari referensi materi perkuliahan karena sistem belajar yang berbeda.

“Walaupun di internet ada dalam bentuk blogspot, wordpress, dan sebagainya, tapi bagi saya masih kurang, karena saya terbiasa dijelaskan atau berdiskusi langsung dengan dosen,” imbuhnya.

Selain tugas dan deadline, ada beberapa mata kuliah yang tidak sesuai dengan jadwal yang semestinya. Seperti yang diungkapkan oleh Annisa Maulidul Hidayah Ekhiasan, mahasiswa Prodi D4 Akuntasi Manajemen, ada yang memberi kuliah saat malam hari, ada pula yang diganti saat weekend atau hari libur nasional. Kelas yang tidak sesuai jadwal juga mengakibatkan pemberian tugas menumpuk pada satu waktu.

“Selama kuliah online juga banyak diberi tugas, dan deadline juga mepet. Hari libur sudah dipakai untuk mengerjakan tugas, eh sekarang jadi waktu untuk kuliah juga,” ucap Annisa saat diwawancarai via WhatsApp, Kamis (14-05).

Selain itu, pembelajaran via daring yang fleksibel menyebabkan mudahnya terjadi pelanggaran seperti mahasiswa yang hanya absen dan tidak adanya kuliah sesuai jadwal. Hal ini  diungkapkan Tri Wahyuni, mahasiswi Prodi D3 Teknik Kimia, ia menjelaskan jika terdapat mata kuliah yang pada jadwalnya tidak memberikan materi ataupun tugas, jika ada biasanya hanya berapa minggu sekali. Hal ini mengakibatkan mahasiswa tertinggal banyak materi.

“Juga banyak anak yang memanfaatkan kuliah online ini semata hanya untuk absen saja dan tidak ikut belajar,” ujar Wahyuni.

 

Beban Sinyal Internet dan Kestabilan Jaringan

Selain masalah tugas dan pembelajaran, masalah lain selama perkuliahan online ini adalah sinyal internet. Kondisi jaringan yang berbeda di setiap daerah membuat beberapa mahasiswa tidak bisa tetap berada di jaringan yang stabil.

Hasil riset tim Litbang LPM Kompen menunjukkan bahwa sinyal menjadi kendala teknis terbesar dalam kuliah online.

(Sumber: tim Riset Litbang LPM Kompen)

Reski Yanda Putri, mahasiswi prodi D3 Administrasi Bisnis mengatakan bahwa selama kuliah daring muncul masalah lain yaitu jaringan internet. Dengan kondisi jaringan yang buruk ini banyak mahasiswa yang kesulitan mengumpulkan tugas tepat waktu, tidak dapat menghadiri kelas daring, bahkan tidak dapat mengikuti ujian. Hal serupa dirasakan oleh Arnu Sabilla, mahasiswi Prodi D3 Teknik Kimia, rumahnya yang berada di pelosok membuatnya kesulitan mendapatkan jaringan untuk mengikuti kelas daring.

“Masalah yang sering terjadi itu sinyal sih, karena daerah saya sinyalnya tidak selalu lancar, jadi sangat menghambat proses perkuliahan,” ujar Arnu saat diwawancarai via WhatsApp, Rabu (15-04).

Selain sinyal, kelancaran proses perkuliahan juga bergantung pada kuota internet. Banyaknya aplikasi yang digunakan, mengharuskan mahasiswa memiliki kuota yang banyak. Jenis operator seluler yang berbeda-beda untuk mengakses internet mengakibatkan biaya yang dikeluarkan setiap mahasiswa berbeda. Kebutuhan kuota yang besar menjadi beban finansial tersendiri. Bahkan beberapa mahasiswa, rela keluar rumah atau kos seperti di kafe atau tempat umum lainnya untuk mencari koneksi Wireless Fidelity (Wi-Fi).

Seperti yang dirasakan oleh Tri Wahyuni. Ia menuturkan, dalam kuliah online ini terlalu banyak aplikasi yang digunakan. Ia juga menerangkan bahwa ia pembelajaran tatap muka dengan menggunakan video call menghabiskan banyak kuota. “Saya biasanya menghabiskan kuota kurang lebih 5GB untuk satu minggu,” tuturnya. Namun, permasalahan kuota ini direspon baik oleh pihak Polinema. Dengan adanya kebijakan, pemberian bantuan pulsa berupa saldo LinkAja sebesar Rp300.000,00.

 

Nasib Mahasiswa Akhir di Tengah Pandemi

Susahnya kuliah daring juga berdampak kepada mahasiswa tingkat akhir yang sedang sibuk-sibuknya menyelesaikan tugas akhir mereka. Salah satunya yaitu Monica Septian Harviana Dewi. Ia menuturkan kebijakan kuliah daring ini membuat membuat proses penyelesaian tahap akhir mereka ikut mengalami permasalahan seperti proses tanda tangan yang rumit, pembahasan Praktik Kerja Lapangan (PKL) dan pengumpulan yang tertunda, serta sulitnya melakukan konsultasi.

“Kendalanya yaitu kalau saya pribadi itu penyelesaian laporan PKL saya, jadi sampai saat ini angkatan saya yang PKL nya Bulan Januari sampai Februari itu sebagian besar (90%) laporan PKL nya belum selesai karna terkendala kampus yang melakukan secara online jadi seperti tanda tangan, terus penjilidan pengumpulan itu belum selesai,” ungkapnya saat diwawancarai via WhatsApp, Jumat (17-04).

Konsultasi tugas akhir yang biasanya bertemu dengan dosen di kampus juga menjadi sangat terbatas bahkan tidak bisa. Kalau pun bisa waktu yang tersedia pun sangat terbatas, karena pihak kampus membatasi kegiatan di kampus hanya hingga pukul 11.00 WIB. “Selain itu saya juga tidak bisa pulang ke rumah soalnya kalo saya pulang ke rumah saya tidak bisa konsultasi dengan dosen saya,” ujar Monica.

 

Dosen dan Mahasiswa Harus Saling Bersinergi

Jika dibandingkan antara perkuliahan secara daring atau tatap muka, saat ini memang perkuliahan tatap muka lebih efektif karena diskusi dapat lebih bebas dan tidak adanya permasalahann jaringan. Seperti yang disampaikan Nain Dhaniarti Raharjo, S.ST., M.T. Sebagai dosen, Ia menjelaskan jika memang kondisi seperti ini dosen dan mahasiswa harus saling memahami, tidak bisa menuntut goals yang sama seperti saat perkuliahan daring. “Karena memang fitrahnya, bahasa verbal jauh lebih bisa dipahami dengan jelas jika kita saling berhadapan dan berkumpul secara langsung tanpa ada sekat,” ujarnya.

Nain berharap kedepannya, semua bisa mengikuti perkuliahan daring dengan lancar, dengan  koneksi yang lancar dan terjangkau seluruh mahasiswa, sehingga tidak ada yang kesusahan. “Dosen dengan mahasiswa harus bisa menemukan metode pembelajaran online yang win-win solution (komunikasi dan pembelajaran), sehingga sama sama bisa enjoy dalam perkuliahan online ini,” ujar Nain.

Masalah selama kuliah daring yang telah berjalan selama dua bulan ini tentunya dapat dijadikan bahan evaluasi untuk pelaksanaan kuliah daring selanjutnya. Baik itu dari segi metode pembelajaran ataupun kesiapan mahasiswa dan dosen. Dengan mengevaluasi, maka kekurangan dapat diminimalisir dan pembelajaran dapat berjalan dengan lancar.

 

(Amyrah, Azmi, Oliv, Rika)

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.