Sun. Sep 20th, 2020

LPM Kompen

Katakan yang Benar Walau itu Getir

Potret Masyarakat Miskin di Tengah Wabah: Takut Corona dan Terpaksa Cari Nafkah

5 min read

Pandemi COVID-19 yang menyebabkan turunnya perekonomian Indonesia

(Sumber: kompasiana.com)

Sehari-harinya, setiap jam 07.00 WIB  pagi, Katemi sudah bersiap di depan Sekolah Dasar (SD) Bendosari 1. Dengan sepeda onthel beserta kompornya, ia menjual tempura dan sosis untuk siswa SD. Mendekati jam 11 siang, dagangannya sudah mulai habis dan ia bersiap-siap untuk pulang. Kebiasaan inilah yang dilakukannya setiap hari, hingga akhirnya berhenti ketika pandemi COVID-19 melanda Indonesia.

Jumat malam kemarin (08-05), sehabis berbuka puasa, kami menemui Katemi di rumahnya yang berukuran sekitar 8×6 meter. Terlihat wanita paruh baya ini dengan raut wajah lelahnya tersenyum ramah menyambut kami.

Malam itu, sembari menunggu isya, Katemi menceritakan keluh kesahnya berjualan selama pandemi COVID-19; menghadapi perubahan yang membuat sengsara nasibnya.

Sejak tahun 2000 ia telah bekerja sebagai pedagang sosis dan tempura. Sebelum pandemi COVID-19, SD Bendosari 1, Tulungagung adalah lapak tetapnya. Namun, kebijakan untuk libur sekolah semasa pandemi, memaksanya berjualan keliling dari rumah ke rumah.

Ia mengaku berjualan dengan berkeliling itu lebih susah dan capek. Hasil yang ia peroleh lebih sedikit dibandingkan menetap. Jika biasanya dalam sehari ia bisa mendapatkan 100-200 ribu rupiah, sekarang 100 ribu rupiah pun tak sampai.

“Saya lebih sering rugi karena hasilnya sedikit dan dagangan sering tidak laku, Apalagi saat corona ini lebih sering sepi, banyak gak berani keluar rumah,” tutur Katemi.

Sepeda untuk berdagang tempura dan sosis. (Nabila)

Dengan mimik wajah sedih, Katemi menceritakan langsung tentang kondisinya saat berjualan keliling di tengah pandemi. Dengan sepeda tuanya ia mengayuh keliling ke perumahan hingga beberapa kecamatan.

“Sepeda ini kalau dikayuh berat. Jadi kalau sepi, dagangan jualan panas-panas tidak laku gitu saya sedih dan stress mbak. Nelangsa. Tapi ya gimana lagi harus disyukuri dapatnya berapa aja. Semua pasti ada jalannya dari yang kuasa,” keluhnya.

Ia juga menambahkan, biasanya untung yang ia peroleh masih bisa buat makan, bayar hutang, dan tambahan modal untuk berjualan. Namun sekarang, untung yang ia peroleh hanya bisa untuk membayar hutang, dan tidak bisa buat modal beli sosis.

Layaknya orang-orang lainnya, Katemi juga takut terpapar virus saat berjualan keliling. Ia mengungkapkan ketika berinteraksi dengan pembeli, risiko terpapar virus corona akan lebih tinggi. Katemi hanya bisa mengantisipasi dengan cara cuci tangan dan langsung mandi ketika sampai di rumah. Risiko ini tetap ia ambil karena jika tidak bekerja maka kebutuhan keluarganya tidak terpenuhi.

“Kalau takut, iya takut tapi  kalau saya tidak kerja keluarga saya makan apa? Belum masih harus mikir hutang, biaya hidup sehari-hari kayak listrik gitu,” tutur janda empat anak ini.

Susahnya ekonomi di tengah pandemi COVID-19 juga dirasakan para pekerja jalanan seperti ojek online. Muhammad Abdullah Khafidz, adalah salah satu driver ojek online yang ada di Kota Sidoarjo. Dia sudah menekuni pekerjaan ini sejak tahun 2017 sampai sekarang. Melalui WhatsaApp ia menyampaikan keluh kesahnya. Ia mengaku sejak adanya pandemi ini orderan jadi terganggu dan semakin sepi.

Khafidz mulai bekerja pukul 06.30 WIB hingga pukul 17.00 WIB. Selama jangka waktu itu, dalam sehari ia hanya mendapatkan hasil sekitar Rp50.000-Rp75.000. Biasanya, jika normal dapat 10-15 pelanggan, sekarang pun berkurang drastis hingga hitungan jari.

“Biasanya saya nongkrong atau keliling 15 menitan udah dapet, tapi sekarang udah jarang kayak gitu, pelanggan sepi,” tutur Khafidz.

Ia juga mengungkapkan keresahannya, jika pandemi COVID-19 tidak segera usai maka ia khawatir pemerintah akan mengimbau untuk di rumah saja dan akan diterapkannya peraturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Sidoarjo.

“Kalau PSBB diterapkan, tentu oderan semakin sepi, dan bahkan dengan adanya ini driver gojek dilarang membawa penumpang.  Driver gojek hanya boleh mengantarkan makanan atau barang,” ujar Khafidz.

Dampak ekonomi juga dirasakan oleh Dura, pemilik toko roti donat madu di Banjarmasin Tengah. Usaha yang ia dirikan sejak tahun 2006, membuat ekonominya semakin hari semakin merosot. “Akibat pandemi COVID-19 yang tak kunjung reda, untung yang saya dapatkan semakin hari semakin menurun,”tuturnya.

Tidak hanya itu, Dura juga mengungkapkan keresahan akan kasus perampokan yang akhir-akhir ini meningkat. Ia khawatir akan akan keamanan tokonya karena kebijakan lepasnya napi bisa menimbulkan masalah. “Keputusan presiden terbaru untuk membebaskan narapidana dari penjara ini menjadikan saya jadi lebih khawatir terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, misalnya perampokan,” kata Dura.

 

Bantuan Pemerintah untuk Masyarakat Miskin

Dilansir dari BBC.com, pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2020 diperkirakan akan lebih rendah dari tahun lalu lantaran ekonomi yang lesu akibat wabah virus corona. Hal ini didukung oleh pernyataan dari Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani  yang memperkirakan bahwa pertumbuhan ekonomi akan turun  menjadi  2,3%, bahkan dalam skenario yang lebih buruk bisa mencapai  -0,4%.

Menteri Keungan, Sri Mulyani Indrawati ketika memberikan keterangan kepada media melalui media conference tentang pertumbuhan ekonomi.

(Sumber: kompas.com)

Mengetahui keadaan ekonomi yang terus menerus merosot, Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan bantuan untuk membantu warga ekonomi ke bawah akibat pandemi COVID-19. Bantuan tersebut berupa bantuan sosial, transfer dana desa, penambahan nilai manfaat Kartu Sembako, Program Keluarga Harapan (PKH), dan Program Makanan Pokok/Sembako.

Pemerintah juga memberikan bantuan lain berupa biaya sebesar Rp405 triliun untuk stimulus di bidang kesehatan, jaring keamanan sosial (social safety net), intensif perpajakan dan stimulus Kredit Usaha Rakyat (KUR), restrukturisasi kredit, dan pembiayaan untuk usaha kecil dan menengah.

Salah satu relaksasi lain yang diberikan pemerintah adalah pembebasan biaya listrik untuk 24 juta pelanggan listrik 450 VA selama tiga bulan, dan diskon 50 % untuk tujuh juta pelanggan listrik 900 VA bersubsidi. Meski demikian, masih banyak masyarakat yang berharap bahwa pelanggan listrik 1300 VA juga diberi keringanan karena tidak sedikit pelanggannya yang merupakan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM).

 

Bantuan yang Belum Sepenuhnya Merata

Beberapa bantuan sosial yang sudah diberikan pihak pemerintah Indonesia maupun swasta di tengah pandemi ini sudah dirasakan oleh masyarakat. Khafidz mengaku mendapatkan bantuan sosial dari pemerintah berupa sembako, masker, dan handsanitizer. Tidak hanya itu, Khafidz juga mendapatkan bantuan dari PT Gojek berupa penyemprotan disinfektan, pengecekan suhu tubuh, dan pemberian vitamin.

Sama halnya Katemi. Meskipun tidak memperoleh semua bantuan, tetapi ia bersyukur sudah mendapatkan bantuan berupa subsidi listrik. Dengan bantuan ini, ia hanya membayar setiap bulannya sebesar 5000 rupiah per bulan. Di sisi lain, meskipun sudah mendapatkan bantuan berupa listrik, namun ia berharap pemerintah juga memberikan bantuan lain berupa kebebasan pembayaran hutang atau kredit.

“Saya pernah mendengar dari tetangga sekitar, kalau pemerintah mau membebaskan pembayaran bagi yang hutang atau melakukan pinjaman kredit. Tetapi buktinya sampai sekarang saya masih tetap harus membayar,” ucap Katemi.

Namun lain lagi dengan Dura, ia mengaku kecewa tidak mendapatkan bantuan langsung dari pemerintah dikarenakan masih dianggap mampu. Dura merasa kebijakan yang pemerintah Indonesia lakukan dianggap masih kurang efektif.

“Yang saya ketahui masih banyak warga sekitar sini yang belum mendapatkan bantuan dari Pemerintah Indonesia. Seharusnya pemerintah tidak hanya memperhatikan masyarakat miskin saja, tetapi juga harus memperhatikan masyarakat ekonomi menengah,”ucapnya.

Ekonomi di tengah pandemi tentu menjadi hal yang penting untuk diperhatikan. Dengan bantuan dari pemerintah maupun swasta itulah rakyat terbantu untuk memenuhi kebutuhan mereka. Keputusan-keputusan dan bantuan yang diberikan haruslah sesuai sasaran, tersampaikan dan terealisasikan secara tepat ke masyarakat.

“Harapannya semoga apa yang disampaikan pemerintah tentang bantuan-bantuan segera terealisasikan dan semoga pemerintah lebih tegas lagi dalam mengambil segala keputusan yang berhubungan langsung dengan kondisi perekonomian kita. Selain itu, kita juga berharap supaya kebijakan yang dilakukan pemerintah tidak terlalu merugikan bagi kami rakyat kecil,” tutur Katemi.

 

(Deo, Ega, Ifa, Nabila)

 

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.