Pesan Dibalik Los Bagados De Los Pencos

Pementasan drama Los Bagados De Los Pencos oleh Teater Kutu UKM Seni Theatrisic. (Resa)

Seni pertunjukan memiliki berbagai pengertian dari beberapa seniman di Indonesia. Menurut Sapardi Djoko Damono, seni pertunjukan merupakan cabang seni yang memiliki 3 unsur yakni sutradara, pemain dan penonton. Salah satu seni pertunjukan yang rutin diadakan di Politeknik Negeri Malang (Polinema) adalah pentas tunggal. Sajian seni oleh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Seni Theatrisic Polinema ini hanya mempertontonkan satu pertunjukan, yaitu sandiwara saja. Pentas tunggal ini merupakan salah satu kegiatan dari serangkaian program kerja UKM Seni Theatrisic dalam memeriahkan anniversary yang ke-18. Pentas tunggal tahun 2018 ini mengangkat naskah drama yang diadaptasi dari naskah karya W.S Rendra dan disutradarai oleh Eka Pratitis berjudul “Los Bagados De Los Pencos”. Kegiatan ini bertujuan untuk memotivasi anak muda zaman sekarang untuk menjadi anak muda yang baik dan berguna bagi nusa dan bangsa. Selain itu pentas tunggal ini juga bertujuan untuk memperkenalkan UKM Seni Theatrisic kepada masyarakat luas khususnya mahasiswa baru Polinema.

Los Bagados De Los Pencos berartikan kemakmuran dan kedamaian. Naskah yang ditulis W.S Rendra di masa orde baru ini berkisahkan tentang kesetaraan hak yang diinginkan penghuni Rumah Sakit Jiwa (RSJ). Dalam RSJ tersebut dipimpin oleh seorang dokter yang penuntut dan perfeksionis bernama Dr. Rendra. Menurut sinopsis ceritanya, drama ini merupakan sebuah sandiwara yang tidak terasa keadilannya. Menurut ketua pelaksana, Deni Arifani Nafis, menjelaskan bahwa latar belakang pemilihan nahkah Los Bagados De Los Pencos adalah karena naskah tersebut dinilai sangat cocok dengan tema kegiatan. Dalam pentas tunggal kali ini, Dr. Rendra perannya digantikan oleh Dr. Sandra yang diperankan oleh Latifah. Azwar adalah sosok yang penurut, selalu beusaha bersikap baik terhadap atasannya. Sosok Azwar diperankan oleh Indra Mahardhika. Peran lain dalam pentas ini adalah Mayon yang dimainkan oleh Guntur Gedhe, Bu Dedot yang dimainkan oleh Wike Widiawati, dan sosok Emha yang dimainkan oleh Julian Adam. Sandiwara ini diiringi dengan musikalisasi puisi yang dibacakan oleh Ahmad Nurudin Subqi. Seluruh pemain, pembaca musikalisasi puisi, dan pemain musik pengiring merupakan anggota UKM Seni Theatrisic Polinema.

Teater Kutu dalam  pementasan Los Bagados De Los Pencos, di Graha Theater Polinema. (Resa).

Tiruan realitas pada masa orde baru tergambar jelas pada naskah drama Los Bagados de Los Pencos karya W.S Rendra. Kejelasan tersebut nampak pada tokoh-tokoh yang dihadirkan dalam naskah. Tokoh Dokter Sandra sebenarnya adalah presiden negara Indonesia pada masa Orde Baru yang tidak lain Presiden Soeharto. Tokoh Azwar sebenarnya adalah wakil presiden negara Indonesia pada masa Orde Baru yang tidak lain B.J. Habibie. Penghuni rumah sakit jiwa adalah warga negara Indonesia. Linus Suryadi, Mayon Edi Sutrisno, Emha Ainun Najisun, dan Dedot Muradin adalah para mahasiswa yang mempelopori demonstrasi memprotes kebijakan pemerintah Orde Baru dengan menentang berbagai praktek Korupsi, Kolusi, Nepotisme (KKN). Bahkan bisa jadi mereka adalah para mahasiswa Trisakti yang tewas ketika melakukan demonstrasi (Elang Mulya Lesmana, Hery Hartanto, Hendriawan Sie, dan Hafidhin Royan).

Deni Arifani, selaku ketua pelaksana mengatakan, “Untuk Pementasan Tunggal tahun ini dirasa sangat hebat karna pesan yang ingin disampaikan oleh pemain tersampaikan dengan baik, diketahui dari cara penonton menghayati pementasan, dan antusiasnya terhadap pementasan tersebut”. Dengan antusias penonton yang cukup tinggi tersebut diharapkan pementasan tunggal di tahun-tahun selanjutnya dapat terulang bahkan lebih baik. “Semoga kesuksesan pementasan tunggal tahun ini dapat terulang di tahun-tahun selanjutnya bahkan harus lebih baik lagi agar bisa memotivasi dan membangkitkan semangat juang Pemuda Indonesia dalam mengembangkan bakat dan kreativitas”, tutup Deni.

(Mirna, Resa, Wahyu)

Related Posts