Peringati Hari Kebangkitan Nasional, Warga Malang Gelar Aksi Refleksi Cinta Kebangsaan

20 Mei 1908 adalah hari lahirnya organisasi Boedi Utomo. Organisasi Boedi Utomo dinilai identik dengan bangkitnya rasa, semangat persatuan, dan nasionalisme untuk memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia. Sejak 1948, 20 Mei ditetapkan sebagai Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) oleh presiden pertama Indonesia, Bung Karno. Bung Karno menganggap penetapan Harkitnas dapat menghindari perpecahan Indonesia melihat situasi politik yang masih bergejolak di tahun-tahun awal kemerdekaan.

109 tahun berselang, Harkitnas tentu tidak lagi diartikan dengan aksi memperjuangkan kemerdekaan karena Indonesia sudah merdeka. Peringatan Harkitnas lebih ditujukan ke arah mempertahankan kemerdekaan dan rasa persatuan sesuai dengan semboyan Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika, yang berarti berbeda – beda tetapi tetap satu jua.

“Hari Kebangkitan Nasional dapat dimaknai dengan bangkit dari keterpurukan akibat masalah-masalah yang mengancam kesatuan, lalu bersama melawan ketidakadilan,” tukas Nosa, guru SMP dari Panda’an. Hal serupa disampaikan Tri, polisi taman Kota Malang, “Rasa kebangkitan masional dapat diimplentasikan dengan cara menumbuhkan semangat perjuangan generasi penerus bangsa.”

Lima Mahasiswi STIKES Ken Dedes mengikuti aksi Hari Kebangkitan Nasional bertajuk Refleksi Cinta Kebangsaan yang diadakan oleh Aliansi Masyarakat Anak Negeri (AMAN) di Balai Kota Malang, Sabtu(20/05).

Ada berbagai cara untuk memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Salah satunya adalah aksi Refleksi Cinta Kebangsaan yang digelar Aliansi Masyarakat Anak Negeri (AMAN) di Balai Kota Malang, Sabtu (20/05). Aksi ini dihadiri oleh sekitar 500 peserta dari berbagai lapisan masyarakat di mana sebagian besarnya mengenakan kostum merah putih. Peserta aksi tidak diperkenankan membawa atribut partai atau kepentingan politik lainnya. Aksi yang dimulai pukul 15.30 sampai 17.30 WIB ini diisi dengan pembacaan sumpah pemuda, menyanyikan lagu kebangsaan, serta tarian lokal. Inti acara yaitu refleksi tentang Bhinneka Tunggal Ika.

Desy, Ibu Rumah Tangga dari Batu berpendapat bahwa sekarang nasionalisme dan Bhinneka Tunggal Ika mulai luntur. Tidak sedikit orang tua mewariskan sentimen ke anaknya dengan melarangnya berteman karena berbeda. “Tapi di sini saya menyaksikan masyarakat dari berbagai usia, agama, suku, warna kulit, dan profesi berkumpul menyanyikan lagu-lagu nasional. Rasanya, wow banget ya Indonesia ini,” imbuhnya. Mega, mahasiswi Stikes Ken Dedes asli Nusa Tenggara Barat menuturkan, “Semoga Hari Kebangkitan Nasional menjadi momentum agar masyarakat lebih mencintai NKRI. Indonesia tidak dibentuk dari perjuangan satu suku ataupun satu agama, jadi kita harus tetap bersatu. Meski kadang kecewa, tapi kami tidak pernah menyesal mencintai Indonesia.”

(Farida, Diatama)

Related Posts