Fri. Nov 27th, 2020

LPM Kompen

Katakan yang Benar Walau itu Getir

Objek Bakelit

5 min read

Ilustrasi: Akhsanu

Malam itu, Bakelit menggeber sepeda motor maticnya dengan kecepatan tinggi di jalan kampung. Seorang paruh baya berteriak memaki Bakelit yang sedang lewat. Namun, teriakan tersebut seketika lenyap disapu raungan knalpot. Dalam pikirannya, ia ingin cepat-cepat sampai rumah, entah mengapa.

“Sial, objekan tadi siang gagal,” maki Bakelit dalam hati.

Sesampainya di rumah, Bakelit merebahkan diri di kursi teras rumahnya. Semakin hari, langit malam semakin cerah. Gugusan bintang mulai nampak kembali setelah hilang belasan tahun lalu. Kata orang-orang, ini penyebab berkurangnya aktivitas manusia di luar rumah. Apalagi kalau bukan karena virus corona. Bakelit termenung memandangi bintang. “Andaikan nasibnya kini juga secerah langit malam ini,” gumam Bakelit.

Malam semakin larut, deru knalpot samar-samar terdengar mendekati rumah Bakelit. Kali ini lebih parau. Bakelit hafal, itu suara sepeda motor anak pertamanya. Suara sepeda motor tua miliknya yang ia wariskan kepada Oralit setelah mampu kredit sepeda motor baru. Walaupun kreditnya masih berjalan dan setia membuat kepala Bakelit pusing.

“Kenapa masih pulang malam? Kuliah kan libur?” tanya Bakelit.

“Ada tugas kuliah, banyak,” jawab Oralit sambil menarik napas panjang.

“Kenapa tidak dikerjakan di rumah saja? Banyak virus di luar, begal juga. Bahaya.”

Oralit tidak menjawab, ia lantas masuk ke dalam rumah setelah memarkir sepeda motornya di teras. Bakelit kemudian berdiri dan menghampiri mantan sepeda motornya. Terdengar suara peltikan mesin yang berangsur-angsur dingin. Setelah itu, Bakelit masuk ke dalam rumah juga.

Namun, ketika Bakelit hendak menuju kamarnya. Langkahnya dihadang Oralit.

“Pak, minggu ini aku sudah harus bayar UKT semester depan.”

Seketika suasana hening.

Ucapan yang mengalir secara enteng dari mulut Oralit ternyata terasa berat dalam diri Bakelit. Seakan ingin membuat bapaknya percaya, Oralit menunjukkan surat edaran rektor tentang kenaikan UKT di gawainya. Bakelit hanya menarik nafas panjang lalu mengangguk dengan berat.

Ingin rasanya Bakelit meluapkan kekesalan kepada anak pertamanya yang memegang rekor kuliah terlama di keluarga besarnya, yaitu tiga belas semester. Namun, keinginan itu ia urungkan.

Itu semua akan menjadi bumerang baginya. Bakelit ingat bahwa ia selalu menasehati anak-anaknya agar tidak mudah tersulut emosi. Ia juga kerap mengingatkan untuk senantiasa jujur dalam perkuliahan. Padahal tawaran joki skripsi berdatangan dari segala penjuru yang akan membuat Oralit melenggang lulus seperti kebanyakan temannya. Tentu saja nasehat-nasehat kepada anak-anaknya ia sisipi dengan kesuksesannya menjadi seorang polisi.

“Dulu ayah jadi polisi karena berprestasi di sekolah, jago bela diri tapi tak pernah berkelahi,” tutur Bakelit dengan bangganya.

“Ayah juga cepat naik pangkat dari menjadi anak buah hingga mempunyai banyak anak buah seperti sekarang. Kalian tau? Itu semua karena kejujuran dan ketekunan,” lanjutnya.

Kedua anak laki-lakinya hanya manggut-manggut. Entah karena memang paham atau takut kepada bapaknya yang bercerita sambil setengah melotot.

Sekonyong-konyong Bakelit teringat anak laki-lakinya yang kedua. Sudah tujuh hari ia tidak pulang ke rumah. Dihubungi lewat telepon tidak bisa. SMS tidak dibalas. Sampai Bakelit mengitari kampusnya sebanyak tiga kali tidak nampak pula batang hidungnya.

“Ke kampus, ada urusan sebentar,” pamit Pailit ke bapaknya.

Bakelit masih ingat tujuh hari lalu Pailit dijemput temannya. Perginya Pailit begitu cepat. Tiba-tiba ia sudah meninggalkan rumah dengan temannya yang memakai jaket dengan gambar tangan kiri terkepal di punggungnya.

Sebenarnya tidak satu dua kali Pailit pergi berhari-hari sejak menjadi mahasiswa, melainkan sering. Bakelit dengan segala daya upaya membendung anaknya untuk tidak pergi selama berhari-hari. Potong uang saku, sudah. Mengikutkan Pailit ke bengkel saudaranya agar ada kesibukan, sudah. Namun Pailit tetap saja Pailit yang suka pergi berhari-hari.

“Apakah keperluan organisasi yang kau ikuti sama pentingnya dengan menyelamatkan masa depan  bangsa?” tanya Bakelit heran karena Pailit selalu menyebut alasan organisasi.

“Ya mungkin seperti itu,” jawab Pailit singkat.

Bakelit tidak paham.

***

Bakelit termangu di ruang tamu memikirkan UKT anaknya. Kenaikan UKT anaknya hanya menambah beban pikirannya. Jam menunjukkan pukul satu malam. Dering telepon membuyarkan lamunannya. Martensit, nama yang tertampil di layar gawainya.

“Ndan, ke gerbang pelabuhan sekarang, banyak obyek,” kata orang yang bernama Martensit

“Oke, saya segera merapat.”

Bakelit segera memakai jaket kulitnya yang berwarna hitam. Sejurus kemudian pistol sudah ia sisipkan di pinggangnya. Sekilas ia memandang istrinya yang tertidur lalu bergegas menuju pelabuhan dengan sepeda motor maticnya.

***

Sudah jarang ia berbicara dengan istrinya. Bakelit jarang di rumah. Pergi pagi pulang malam lalu pergi malam pulang pagi lagi. Apalagi saat ada virus corona, kehidupan Bakelit morat-marit. Hal ini menyebabkan Bakelit harus semakin rajin mengobjek di pelabuhan. Jika dulu ngobjek siang saja, sekarang ditambah malam. Kalau perlu sampai pagi.

“Ferit brengsek !!” Maki Bakelit kepada atasannya. Tanpa embel-embel Komandan. Tentunya ia hanya bisa memaki-maki di belakang atasannya.

Bagaimana tidak, adakah ide yang lebih gila yang keluar dari mulut Ferit?  Ya, ini adalah ide yang paling gila, yaitu memotong gaji anggota kepolisian di saat pandemi.

“Ini semua untuk kemanusiaan. Gaji yang dipotong akan didonasikan untuk membantu orang-orang miskin untuk bertahan di saat pandemi corona. Saya harap kawan-kawan maklum,” dalih Ferit saat ide gila itu dilontarkan di apel pagi.

“Apakah aku bukan termasuk manusia yang kesulitan memenuhi kebutuhan hidup di masa pandemi ini?” protes Bakelit di ruang kerja atasannya.

“Anak kami harus tetap sekolah, dapur kami juga harus tetap berasap, debt collector masih suka mengetuk pintu rumah kami.”

“Maaf Pak Bakelit, itu sudah perintah dari atasan saya, dari pusat,” ucap Ferit.

***

Bakelit telah sampai di pelabuhan malam itu. Udara dingin tidak bisa menusuk jaket kulitnya. Ia nyalakan sebatang rokok.

“Kali ini tidak boleh gagal,” gumam Bakelit. Komandan Ferit tidak akan datang untuk inspeksi malam-malam.

Di depan, ada tujuh anak buahnya. Sama-sama berjaket kulit. Tidak nampak tanda-tanda bahwa mereka seorang aparat. Ketujuh anak buah tersebut adalah golongan sakit hati. Sakit hati karena mereka tidak puas dengan putusan pemotongan gaji. Mereka semua mengikuti Bakelit.

“Kumpulkan mereka semuanya,” perintah Bakelit kepada anak buahnya.

Bakelit mengitari pelabuhan yang malam itu banyak truk baru turun dari kapal. Ia mengintip isi truk satu persatu. Kadang ia mengangguk-angguk saat mengetahui isi di dalam truk.

Malam itu cukup dingin untuk membuat para sopir tidak beranjak dari tempatnya. Tetapi tidak untuk menurunkan amarah Bakelit.

“Jadi sekarang mudah, seratus ribu per kepala atau truk kalian menginap di kantor kami,” ucap Bakelit sambil menyembulkan asap rokok ke udara.

Para sopir ketakutan. Mereka berbondong-bondong untuk menyerahkan upeti kepada Bakelit. Sekarang beratus-ratus ribu telah berpindah ke tangan Bakelit dan anak buahnya.

“Aman, tidak ada Ferit,” gumam Bakelit.

Namun, tiba-tiba ada batu beterbangan ke arah Bakelit dan anak buahnya. Mereka dengan cepat menghindar dan mencari sumber lemparan. Para sopir berhamburan dan kemudian masuk ke kendaraannya masing-masing untuk berlindung.

“Lawan preman!” teriak sekelebat bayangan di atas peti kemas disusul lemparan batu yang mengenai kepala Bakelit.

Darah perlahan-lahan mengucur dari kepala Bakelit. Ia mengerang kesakitan. Matanya merah padam.

“Tembaki semua pengacau itu tanpa terkecuali!” titah Bakelit kepada anak buahnya.

Suara tembakan berdesing selama beberapa menit. Azan subuh menjadi pertanda berakhirnya baku tembak yang tidak seimbang itu. Batu melawan peluru.

‘Para pegacau’ yang bejumlah puluhan tersebut kemudian di seret ke hadapan Bakelit. Ada yang masih hidup. Ada yang sudah sekarat. Ada yang sudah hilang nyawanya. Mereka semua memakai jaket dengan gambar tangan kiri terkepal di punggung. Bakelit ingat anaknya.

Bakelit memeriksa satu per satu wajah para pengacau. Ia sorot semua muka pengacau menggunakan senter. Ada satu wajah yang ia kenali. Tidak lain dan tidak bukan adalah Pailit. Pailit hanya berkedip-kedip. Darah mengucur dari kepalanya. Sekejap kemudian ia menutup mata untuk selamanya.

***

Fajar menyingsing diiringi jatuhnya air mata Bakelit. Tidak ketinggalan pula suara raungan yang keras. Anak buah Bakelit hanya terpaku tidak tahu apa yang terjadi.

Darah yang mengucur dari kepala Bakelit belum kering ketika ia menyadari bahwa darah yang diteteskan anaknya lebih mulia daripada darah nya.

(Akhsanu)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.