Thu. Dec 3rd, 2020

LPM Kompen

Katakan yang Benar Walau itu Getir

Meninjau DIPAM 2020: Evaluasi Bantuan dan Masalah Kuliah saat Pandemi

4 min read

Pelaksanaan DIPAM 2020 di Auditorium Gedung Sipil Lantai 8 dan disiarkan melalui aplikasi zoom. (Resa)

Dialog Pimpinan dan Mahasiswa (DIPAM) 2020 telah dilaksanakan pada 05 November 2020 secara tatap muka di Auditorium Gedung Sipil Lantai 8 dan daring di aplikasi Zoom. DIPAM yang diadakan setiap tahunnya telah menjadi ajang penyampaian aspirasi mahasiswa kepada pimpinan Politeknik Negeri Malang (Polinema) secara langsung. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) ini dihadiri oleh seluruh civitas academica Polinema dan Program Studi Di luar Kampus Utama (PSDKU) Kediri.

Kuliah Praktik dan Wisuda Tatap Muka saat Pandemi

Persoalan pertama yang dibahas adalah kuliah praktik yang dilaksanakan secara daring. Sholah Zamzami mahasiswa D4 Teknik Mesin Produksi dan Perawatan (TMPP) menanyakan keefektifan praktikum daring dalam membuat mahasiswa menjadi terampil dan dapat memenuhi kebutuhan industri. Ia juga menanyakan alasan Polinema tidak berani melaksanakan kuliah praktik offline seperti kampus lainnya.  Permasalahan ini dijawab oleh Supriatna Adhisuwignjo, ST., MT. selaku Pembantu Direktur (Pudir) I menyampaikan bahwa kondisi pandemi yang belum kondusif dan kekhawatiran timbulnya kluster baru di Polinema serta perilaku new normal yang belum menjadi budaya. “Bukan kita takut mati, tapi lebih baik untuk situasi ini adalah selamat. Kalau kita pilih itu (memaksakan offline) nekat, konyol namanya. Bukan berarti kita tidak paham bahwa poltek itu vokasi, sangat paham kami,” ujar Pudir I.

Pudir I mengakui jika ini keputusan yang terpaksa dan memang praktikum daring tidak bisa menggantikan praktikum luring sepenuhnya. “Strategi yang bisa kita lakukan yaitu demonstrasi, pemberian jobsheet, mahasiswa membeli peralatan secara mandiri, serta menggunakan simulator,” ujar Pudir I.

Lantas hal tersebut ditanggapi lagi oleh Sholah, ia menanyakan tentang adanya penyelarasan materi praktik dari setiap dosen. Ia juga menanyakan tidak adanya subsidi untuk membeli peralatan praktik padahal sudah membayar Uang Kuliah Tunggal (UKT). Namun dari pihak Pudir I hanya menjawab mengenai penyelarasan materi praktik, sedangkan mengenai kejelasan pertanyaan perihal pembelian peralatan secara mandiri tidak ada konfirmasi. “Yang jelas, kami mengimbau dan berharap tidak hanya satu strategi, artinya harus ada kombinasi strategi seperti antara demo dengan simulator atau panduan jobsheet dengan simulator,” ujar Pudir I.

Selanjutnya Toriq Ziyad, salah satu mahasiswa D3 Teknik Mesin mempertanyakan mengenai alasan kampus melaksanakan wisuda secara tatap muka sedangkan pembelajaran masih daring. Drs. Awan Setiawan, MMT., MM. selaku Direktur Polinema menjawab bahwa keputusan mengenai wisuda luring diambil melalui kuisioner yang diisi oleh wisudawan dengan hasil persentase 80% memilih wisuda luring dan 20% wisuda daring. Direktur juga mengatakan, “Wisudawan harus melampirkan bukti negatif rapid test dan pelaksanaan wisuda luring hanya sekitar 1-2 jam dengan 200 wisudawan per hari yang semula sebanyak 1.600 wisudawan per hari,” ujarnya. Menariknya, Toriq menanggapi dengan mengatakan apabila pimpinan juga memberikan kuesioner kepada seluruh mahasiswa mengenai pembelajaran luring, ia yakin mahasiswa juga memilih pembelajaran luring.

Masalah Bantuan Kuota Kemendikbud dan LinkAja

Menginjak pada pembahasan berikutnya, Mohammad Zamzami dari D4 Teknik Kimia Industri menanyakan terkait pemberhentian pemberian saldo LinkAja dan pengalihan pada kuota Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Menanggapi masalah tersebut, Direktur mengatakan bantuan tersebut berhenti karena adanya larangan double funding dari Kemendikbud. Namun bantuan ini akan dievaluasi apabila tidak ada perubahan bantuan selama seminggu ke depan. “Kampus akan melakukan kuesioner evaluasi dan saran mengenai kuota agar bisa dijadikan justifikasi untuk memberikan bantuan saldo LinkAja,” ujar Direktur. Beliau juga menambahkan jika dana LinkAja yang tidak terpakai ini akan dianggarkan untuk kegiatan kemahasiswaan. “Itu hak mahasiswa, silakan dipakai, seperti pengadaan peralatan di UKM atau kegiatan pengabdian masyarakat BKM. Silakan dipakai karena sudah dialokasikan ke mahasiswa, tapi tidak bisa dibagikan ke setiap mahasiswa,” ujar Direktur

Lantas hal ini ditanggapi oleh Ahmad Aufar Ali, mahasiswa jurusan D4 Manajemen Rekayasa Konstruksi, ia mempertanyakan bagaimana kejelasan realisasinya dana LinkAja ini bagi kegiatan kemahasiswaan. Menjawab pertanyaan tersebut, Dr. Eng. Anggit Murdani, ST, M.Eng. selaku Pudir III menerangkan bahwa pengalihan dana dapat berupa pengadaan, perbaikan alat, ataupun pengadaan kegiatan lain yang ada di Organisasi Kemahasiswaan Intra (OKI). Namun pengalihan dana ini akan dikaji ulang karena dinilai tidak merata ke seluruh mahasiswa dan hanya ke organisasi kemahasiswaan. “Dikaji ulang agar merata ke seluruh mahasiswa mahasiswa, seperti kompetisi atau program kreativitas,” ujar Pudir III.

Pembahasan menarik lainnya adalah keadaan PSDKU Kediri. Indah Wulansari, mahasiswa D3 Manajemen Informatika PSDKU Kediri yang menanyakan tentang kejelasan dana pagu kegiatan kemahasiswaan dan panduan proposal yang jelas untuk OKI kampus PSDKU. Pertanyaan tersebut ditanggapi oleh Pudir III bahwa untuk pagu 2020 tidak mungkin untuk segera direalisasikan dan fokus memperisapkan pagu untuk tahun 2021 agar lebih tertata.  Mengenai pengelolaan pedoman akademik, tetap mengacu ke pedoman Polinema dan non-akademik dipegang oleh koordinator PSDKU untuk manajemennya. Lalu, Direktur juga menambahkan, untuk kedepannya akan dilaksanakan DIPAM khusus PSDKU Kediri.

Di tengah masa pandemi COVID-19 seperti sekarang, DIPAM memang masih harus berjalan karena banyak aspirasi dari mahasiswa yang perlu didengar pimpinan. Namun, DIPAM kali ini mendapat banyak keluhan dari mahasiswa. Salah satunya Muhammad Rafie Meidianto mahasiswa D4 TMPP mengenai jalannya acara yang tidak sesuai dengan tata tertib, di mana sesi tanya jawab yang seharusnya urut tiap bidang justru berjalan dengan bebas yang menyebabkan pembahasan tidak merata. Selain itu, keterbatasan waktu juga banyak dikeluhkan mahasiswa. Dari banyaknya keluhan mahasiswa, Dr. Ir. Tundung Subali Patma, MT. selaku Ketua Senat Polinema berharap semoga permasalahan-permasahalahan bisa segera ditindak lanjuti dan seluruh civitas academica bisa saling mengawal.

(Resa Mahendra, Via Febriati)

1 thought on “Meninjau DIPAM 2020: Evaluasi Bantuan dan Masalah Kuliah saat Pandemi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.