Menilik Konsumsi Fosil dan Deforestasi di Indonesia

Manusia adalah makhluk paling sempurna yang diciptakan oleh Sang Maha Kuasa. Salah satu tugas manusia yang paling mulia adalah untuk menjaga kelestarian alam semesta. Namun sayangnya seiring perkembangan zaman, tugas manusia yang sesungguhnya dikalahkan oleh sifat serakah untuk menguntungkan diri sendiri. Sudah banyak contoh perilaku manusia yang berpotensi merusak bumi. Salah satu tindakan manusia yang dianggap wajar namun berpotensi paling besar merusak lingkungan adalah kegiatan yang mampu meningkatkan pemanasan global. Apa saja kegiatan yang dapat meningkatkan pemanasan global?

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah kendaraan di Indonesia pada tahun 2018 mencapai 111.571.239, dimana seluruhnya menggunakan bahan bakar fosil. Peningkatan jumlah alat transportasi yang pesat tentunya berbanding lurus dengan konsumsi bahan bakar fosil. Salah satu bahan bakar fosil yang sering dipakai adalah batu bara. Bahan bakar satu ini juga merupakan salah satu komoditas energi yang banyak tersedia di Indonesia. Mengutip dari databook.co.id produksi batu bara di Indonesia meningkat hingga angka produksi 461 juta ton batu bara pada tahun 2017. Sampai tahun 2015 saja, produksi batubara Indonesia telah mencapai 127 miliar ton dan lebih dari 75% produksi tersebut diekspor ke luar negeri. Padahal cadangan batubara Indonesia hanya 6,3% dari total cadangan batubara dunia(weforum.org). Jika penggunaan bahan bakar fosil semakin tidak terkendali, maka bukan tidak mungkin pemanasan global yang diakibatkan asap kendaraan bermotor dan industri pengolah batu bara akan terus meningkat. Tidak hanya itu, penggunaan bahan bakar berlebih dapat memicu terjadinya hujan asam.

https://bisakimia.com/2018/07/27/memahami-bahan-bakar-fosil/

Penyebab lain dari pemanasan global yang cukup mengkhawatirkan adalah maraknya pembukaan lahan perhutanan. Dari kondisi tersebut para peneliti dari Duke University, Amerika Serikat, dan International Institute for Applied Systems Analysis, Austria, menemukan fakta bahwa ekspansi perkebunan kelapa sawit di Indonesia terjadi pada tingkat rata-rata 450.000 hektare per tahunnya. Hal ini menyebabkan terjadinya deforestasi lahan yang mencapai angka rata-rata 117.000 hektar setiap tahunnya. Deforestasi adalah sebuah proses  pengalihan hutan alam dengan cara penebangan untuk diambil kayunya atau mengubah peruntukan lahan hutan menjadi non-hutan(FOA:1990, WorldBank:1990). Jika ditotal Indonesia telah kehilangan hutan seluas 2.340.000 hektar akibat pembukaan perkebunan kelapa sawit dalam kurun waktu 20 tahun(kumparan.com). Apabila Deforestasi semakin meningkat, maka kualitas lingkungan akan semakin menurun dan lebih mudah memicu terjadinya bencana alam termasuk kekurangan air di musim kemarau.

http://www.pikiran-rakyat.com/nasional/2016/08/23/pembalakan-liar-rugikan-negara-rp-2764-triliun-378071

Dengan adanya sebab akibat diatas, sudah seharusnya manusia mulai berbenah. Dampak dari perilaku manusia bisa saja tidak terasa secara langsung bagi manusia itu sendiri. Namun sangat terasa dan berpengaruh bagi makhluk hidup lain. Sebagai agen perubahan, generasi muda diharapkan menjadi titik tumpu untuk mampu menyadarkan sekitar. Menjaga dan melerestarikan lingkungan memang tidak mudah, Langkah awal yang baik untuk menularkan perubahan untuk kelestarian alam adalah bermula dari diri sendiri. Diantaranya membuang menggunakan kendaraan secara efisien, menghemat air dan listrik, dan terus menggalakan kegiatan peduli lingkungan. Marilah berubah bersama agar generasi selanjutnya dapat menikmati energi dan sumber daya alam di bumi. Semoga bermanfaat. Salam go green.

(Faisal)

Related Posts