Tue. Nov 30th, 2021

LPM Kompen

Katakan yang Benar Walau itu Getir

Mengenal People Pleaser: Mementingkan Orang Lain Belum Tentu Baik

3 min read
Seorang people pleasure yang haus pengakuan dan pujian di media sosial. (Alvira)

Apakah kamu orang yang tidak enakan? Sulit untuk mengatakan ‘tidak’ pada orang lain? Bisa jadi kamu adalah seorang  people pleaser. Sebenarnya apa sih people pleaser itu? Dikutip dari Kanal YouTube Greatmind, people pleaser adalah sebutan bagi seseorang yang selalu berusaha melakukan atau mengatakan hal yang menyenangkan untuk orang lain, meski bertentangan dengan apa yang mereka pikirkan atau rasakan. Dorongan untuk selalu menyenangkan orang lain ini muncul karena people pleaser terlalu khawatir terhadap penolakan orang lain. Selain itu, people pleaser memiliki keinginan yang kuat untuk dibutuhkan karena mereka percaya akan lebih mendapatkan kesempatan untuk disayangi orang-orang di sekitarnya.

Beberapa orang tidak menyadari bahwa dirinya adalah people pleaser. Dilansir dari YouTube Greatmind, ciri-ciri seseorang mengalami fenomena people pleaser adalah sebagai berikut:

  • Suka mendahulukan kepentingan orang lain

Seorang people pleaser selalu berusaha menempatkan kepentingan orang lain di atas kepentingannya sendiri agar mereka disukai. People pleaser akan terlihat seperti tidak punya pendirian. People pleaser merupakan orang yang sangat menghindari konflik, hal ini terjadi karena mereka sangat takut untuk dikucilkan. Mereka membentuk dirinya sesuai dengan keinginan dan harapan orang lain. Maka dari itu, people pleaser akan selalu mengiyakan apa pun tanpa mempertimbangkan dan memikirkan perasaannya. People pleaser akan sangat khawatir jika mereka mengatakan “tidak” atau menolak permintaan seseorang. Mereka menganggap menyetujui permintaan seseorang dan mau melakukan apa pun adalah pilihan yang aman.

  • People pleaser tidak terlalu kenal dengan dirinya

People pleaser percaya bahwa mereka akan layak disayangi dan dipedulikan ketika memberikan apa pun pada orang lain. Mereka selalu sibuk mementingkan orang lain sehingga akan sulit untuk mengetahui dan mengenali apa yang mereka inginkan. Selain itu, people pleaser memiliki nilai yang rendah terhadap dirinya sendiri dan menarik harga diri mereka dari pengakuan orang lain.

Dari ciri-ciri di atas, jika hal itu terus dilakukan akan memberi berdampak pada people pleaser sendiri. People pleaser akan mudah dimanfaatkan orang lain karena kendali atas pikiran dan perasaannya sangat minim. Hal ini dapat membuat people pleaser memiliki hidup yang kurang memuaskan, kehilangan jati diri, dan lupa akan tanggung jawabnya terhadap dirinya sendiri.

Dilansir dari scienceofpeople.com,  people pleaser memiliki risiko depresi dan frustrasi karena tumpukan bantahan dalam diri yang mereka pendam dan dapat meluap kapan saja. Seseorang bisa menjadi people pleaser dikarenakan memiliki background pengalaman buruk dalam hidupnya dimasa lampau. Kemungkinan lain mereka dibesarkan oleh figur yang lemah sehingga mereka terbiasa menyembunyikan hal- hal yang tidak enak demi menjaga perasaan orang lain. Selain itu, mereka tidak memiliki ruang untuk mengungkapkan sesuatu yang tidak sejalan dengan orang lain atau mungkin mereka pernah mengalami perundungan dan tidak mampu memberikan pembenaran atas dirinya sendiri. Akhirnya, mereka cenderung memandang perbedaan opini adalah sumber perselisihan yang dapat membuat posisinya terancam.

Lalu, bagaimana seseorang dapat berhenti menjadi people pleaser? People pleaser dapat mulai belajar mengatakan ‘tidak’ dengan sopan dan ramah. People pleaser sebaiknya mulai mencoba untuk bisa mengungkapkan pendapatnya sendiri dimulai dari hal sederhana, serta mengambil sikap untuk suatu hal yang benar–benar diyakini. Membahagiakan orang lain memang dapat membuat kita turut bahagia, namun jika kadarnya berlebihan maka bisa menjadi boomerang bagi diri kita. Memiliki pola pikir yang sehat memang bukan hal yang mudah, terkadang kita perlu memberi ruang untuk mengevaluasi diri sendiri. Sebagai manusia, kita tidak dapat mengendalikan pemikiran orang lain terhadap kita, pemikiran orang lain bukanlah tanggung jawab kita, namun bagaimana kita bersikap itulah yang menjadi poin tolok ukur seberapa bijak diri kita.

(Alvira Dewi, Putri Sabila)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.