Mengenal Bapak Bedah Modern dan Sosok Kimiawan, Al-Zahrawi

Al-Zahrawi Bapak Bedah Modern

(Sumber: www.tumblr.com)

Merasakan sakit bisa menjadi hal yang sangat ditakuti oleh sebagian kecil masyarakat, apalagi ketika dokter sudah mengatakan bahwa satu – satunya jalan untuk kembali pulih adalah dengan tindakan operasi atau bedah. Membayangkannya saja bisa membuat sebagian orang bergidik bahkan menangis. Tindakan medis yang cukup menguji keberanian seseorang ini, membuat penulis tertarik untuk mengungkap siapakah tokoh yang bisa dijadikan teladan. Berikut ini pemaparan siapakah tokoh tersebut, dan pandangannya sendiri tentang dunia bedah.

Sosok dan kiprahnya dalam dunia bedah modern baru terungkap setelah ilmuwan Andalusia (kini Cordoba) Abu Muhammad bin Hazm menjadikannya sebagai salah seorang dokter bedah di Spanyol. “Harta karun” yang diwariskannya bagi dunia kedokteran berupa kitab At-Tasrif liman ‘Ajiza ‘an at-Ta’lif (Metode  Pengobatan), yang membuat namanya semakin menjadi perbincangan di dunia kedokteran. Sedangkan sejarah hidupnya baru diketahui dalam Al-Humaydi’s Jadhwat al Muqtabis, yang baru rampung enam dasa warsa setelah beliau wafat.

Tokoh yang menjadi teladan bagi dunia bedah modern atau bisa disebut dengan Bapak Ilmu Bedah Modern bernama Abu al-Qasim Khalaf Ibn al-Abbas az-Zahrawi, di Eropa dikenal dengan nama El-Zahrawi atau Albucasis. Lahir pada tahun 936 Masehi di Kota al-Zahra pada zaman kerajaan di Andalus, sebuah Kota berjarak 9,6 kilometer dari Cordoba, Spanyol. Al-Zahrawi merupakan keturunan Arab Ansar (Ansar Madinatul Munawwarah) yang berhijrah ke Andalusia dan menetap di Spanyol.

Kisah masa kecilnya tidak banyak diketahui, sebab tanah kelahirannya telah dijarah dan dihancurkan. Selama setengah abad masa hidupnya, Al-Zahrawi mendedikasikan diri dalam dunia kedokteran. Mengobati masyarakat, menimba, mengajarkan, dan mengembangkan ilmu kedokteran utamanya di bidang bedah terus dilakukan hingga akhir hayatnya. Hal ini membuat penulis percaya bahwa sosoknya memiliki rasa kepedulian yang sangat tinggi. Ditambah fakta bahwa Al-Zahrawi lebih memilih untuk merawat korban kecelakaan dan perang daripada melakukan perjalanan seperti yang umum dilakukan oleh ilmuwan muslim.

Kitab At-Tasrif karya Al-Zahrawi

(Sumber: muslim-invention.blogspot.com)

Al-Zahrawi memberikan sumbangsih yang sangat besar bagi dunia kedokteran berupa Kitab At-Tasfir yang terdiri dari 30 jilid. Di dalamnya mengupas secara rinci dan lugas tentang ilmu bedah, kedokteran secara umum dan kosmetik. Ensiklopedia tersebut disempurnakan pada tahun 1000 M yang merupakan hasil dari pengalaman dan pendidikannya selama mendedikasikan diri dalam dunia kedokteran. Kitab ini menjadi rujukan dan buku resmi sekolah kedokteran dan ahli bedah Eropa selama lima abad pada periode abad pertengahan. Di akhir kitabnya, Albucasis menuliskan, “Segala yang aku ketahui, adalah hasil dari pembacaan kitab – kitab dahulu dan dari keinginanku untuk memahaminya dan mengaplikasikan pengetahuan sains ini, kemudian aku lengkapi dengan pemerhatian dan pengalaman dari seluruh hidupku”. Dari kutipan ini, penulis percaya bahwa untuk menjadi tokoh besar dan berpengaruh bagi dunia, seseorang bisa memulainya dengan sesuatu yang kecil dan terus berkembang.

Berkat kejeniusannya, Al-Zahrawi diangkat menjadi dokter istana pada era kekhalifahan Al-Hakam II di Andalusia. Kabar kehebatannya menyebar di seluruh Eropa, membuat banyak anak muda dari penjuru Eropa ingin menimba ilmu kepadanya. Mahaguru Albucasis sangat mencintai murid – muridnya, kesejahteraan siswanya sangat diperhatikan sesuai yang ditulisnya dalam At-Tasfir. Al-Zahrawi senantiasa mengingatkan muridnya untuk membangun hubungan yang baik dengan pasien, karena menurutnya dokter yang baik haruslah melayani pasiennya sebaik mungkin tanpa membedakan status sosialnya. Selain itu, Al-Zahrawi mengingatkan agar para dokter berpegang pada norma dan kode etik kedokteran, yakni tak menggunakan profesi dokter hanya untuk meraup keuntungan materi.

Penulis menemukan fakta lain bahwa, meskipun Albucasis merupakan seorang ahli bedah, beliau tak lantas menganjurkan untuk melakukan pembedahan pada pasiennya. Menurut Ajram, Al-Zahrawi hanya menerapkan pembedahan jika berbagai tahap pencegahan dan pengobatan klinis telah dilakukan. Jadi bisa dikatakan bahwa, pembedahan merupakan tindakan terakhir ketika benar – benar diperlukan.

Tak berhenti sampai di situ, ternyata Al-Zahrawi juga seorang kimiawan. Beliau menjelaskan bahwa penyulingan air mawar dan cuka anggur dapat diperoleh dengan proses distilasi yang sama. Distilasi yaitu proses memanaskan benda cair atau padat hingga berubah menjadi uap yang disalurkan ke dalam bejana yang terpisah, kemudian didinginkan. Al-Zahrawi pun menggunakan proses distilasi dan sublimasi untuk pembuatan obat – obatan. Sebagian dari ikhtisar pengobatannya telah diterbitkan ke dalam bahasa Latin dengan judul “Liber Theorical nec non Practicae as-Saharavil” di Augsburg pada 1519 M.

Al-Zahrawi tutup usia di Kota Cordoba pada tahun 1013 M, dua tahun setelah tanah kelahirannya dijarah dan dihancurkan. Namanya diabadikan menjadi nama sebuah jalan kehormatan yaitu Calle Albucasis. Di jalan tersebut ada sebuah rumah bernomor enam yang dulu merupakan kediaman Al-Zahrawi. Tempat itu kini menjadi cagar budaya yang dilindungi Badan Kepariwisataan Spanyol.

Setelah kepergian tokoh besar dunia ini, penulis berharap agar semangat dalam menjalankan kewajiban sesuai profesinya tetap bertahan di generasi-generasi selanjutnya. Sekali lagi, Al-Zahrawi merupakan contoh nyata bahwa hal – hal besar akan datang jika seseorang tekun dan rajin berusaha.

(Fadzillah)

Related Posts