Tue. Nov 30th, 2021

LPM Kompen

Katakan yang Benar Walau itu Getir

Mengenal Apa itu Fear of Missing Out

2 min read
Fear of Missing Out yang diakibatkan oleh pengguna media sosial. (Vita)

Ketergantungan mengenai penggunaan media sosial (medsos) menjadi ancaman baru timbulnya fenomena Fear of Missing Out atau yang bisa di-slang menjadi FOMO. Dilansir dari alodokter.com, istilah ini dikemukakan oleh Dr. Andrew K. Przybylski pada tahun 2013 di jurnal penelitiannya yang berjudul Motivational, Emotional, and Behavioral Correlates of Fear of Missing Out. Secara umum, FOMO dapat diartikan sebagai ketakutan akan ketertinggalan. Mengharuskan seseorang untuk selalu up to date pada kanal pemberitaan dan medsos agar tidak ketinggalan informasi. Gangguan perasaan yang harus selalu up to date ini lah yang dikenal dengan FOMO. Di Indonesia sendiri fenomena ini kian marak, contohnya gangguan perasaan ketakutan melewatkan berita terbaru di grup WhatsApp. Ditambah Work from Home (WFH) dan pembelajaran yang dilakukan secara online di masa pandemi, menjadikan gangguan FOMO sangat populer di kalangan generasi milenial.

Sumber perasaan FOMO kebanyakan berasal dari medsos, seperti WhatsApp, Instagram, Twitter, TikTok, dan platform lain yang memberikan persepsi yang keliru bagi penggunanya apabila tidak memakainya dengan bijak. Dilansir dari artikel dkjn.kemenkeu.go.id, beberapa gejala seseorang yang mengalami FOMO yaitu selalu mengecek ponsel pintar, memiliki ketergantungan dengan medsos, selalu ingin tahu kehidupan orang lain dan gosip terbaru, serta sulit menolak ajakan teman walaupun sebenarnya tidak ingin. Tidak hanya itu, terkadang timbul perasaan cemas ketika tidak ada koneksi internet sehingga tidak bisa bermain medsos meskipun hanya dalam waktu yang sebentar. Oleh sebab itu, peluang terkena gangguan FOMO ini patut diwaspadai.

Gangguan FOMO ini cukup memberi kerugian psikis bahkan finansial. Kecemasan yang dialami akibat merasa ketinggalan berita atau warta terbaru dapat memicu gangguan mental. Dikutip dari laman National Center for Health Research, menyebutkan bahwa remaja yang menghabiskan waktu lebih dari lima jam sehari di medsos, 71 persennya lebih berpotensi untuk mengalami gangguan mental. Selain itu, secara finansial seseorang yang mengalami gangguan FOMO suka mengeluarkan uang melebihi kemampuan yang dimiliki dan membeli hal yang sebenarnya tidak penting dengan dalih agar tidak ketinggalan zaman.

Kerugian yang diakibatkan fenomena FOMO ini sebisa mungkin dihindari. Gangguan FOMO ini dapat dicegah dengan beberapa tips dan solusi. Dilansir dari tirto.id, ada beberapa cara untuk mengatasi gangguan ini. Pertama, membatasi penggunaan medsos dengan menahan  diri untuk tidak melihat postingan orang lain dapat mengurangi FOMO sehingga tidak timbul kecemasan akibat kita melewatkan sesuatu hal. Kedua, menerima dan menghargai diri sendiri dengan melakukan ‘selflove’ dan menyadari adanya kekurangan dan kelebihan dalam setiap orang maka perasaan ketinggalan dari orang lain bukanlah suatu kesalahan. Tidak perlu membandingkan diri sendiri dengan orang lain dan tingkatkan rasa bersyukur mengenai hal-hal kecil yang terjadi disekitar. Ketiga, lebih mementingkan sosialisasi di dunia nyata. Saat mengalami kesulitan, lebihbaik mencari bantuan dan dukungan dari orang sekitardi dunia nyata sebab orang-orang di dunia maya belum tentudapat membantu. Maka mulailah berpikir bijak untuk hidup menjadi pribadi baik yang jauh dari FOMO.

(Vita Diah)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.