Fri. Dec 4th, 2020

LPM Kompen

Katakan yang Benar Walau itu Getir

Menelaah Sistem Pembelajaran New Normal di Polinema

5 min read

Potret pembelajaran luring di dalam kelas.

(Sumber: kompas.com)

Skenario new normal pada bidang pendidikan menjadi topik hangat yang dibahas di Indonesia. Skenario tersebut tentunya cukup mengkhawatirkan bagi pelajar karena masih adanya pandemi Corona Virus Disease (COVID)-19. Apalagi kasusnya semakin meningkat setiap harinya. Hal itu membuat masyarakat terus mendesak pemerintah untuk mengkaji secara matang kebijakan tersebut. Melansir dari artikel Kompas.tv, Muhadjir Effendy, Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan menerangkan bahwa pemerintah masih membahas tatanan new normal yang akan diterapkan pada pelajar.

Menindaklanjuti rencana new normal di bidang pendidikan, Direktur Politeknik Negeri Malang (Polinema), Drs. Awan Setiawan, MMT., MM. mengeluarkan Surat Edaran (SE) Nomor: 46/DIR/TU/2020 tentang penyesuaian sistem pembelajaran dalam tatanan kenormalan baru (new normal). Dalam SE tersebut, dijelaskan bahwa pada semester ganjil 2020/2021 pembelajaran diupayakan tetap menggunakan sistem dalam jaringan (daring) tanpa tatap muka. Pemberian mata kuliah teori dilakukan secara daring mulai 24 Agustus–17 Oktober 2020. Sedangkan untuk mata kuliah praktik yang tidak bisa dilaksanakan secara daring, akan diatur secara teknis oleh Pembantu Direktur (Pudir) Bidang Akademik. “Praktikum bisa dilakukan dengan melaksanakan mata kuliah pengganti berupa satu atau dua kali pertemuan saat keadaan sudah dinyatakan normal,” ujar Supriatna Adhisuwignjo, ST., MT. selaku Pudir Bidang Akademik dalam artikel lpmkompen.com.

Pembelajaran dengan sistem daring yang sudah dijalani juga mendapat keluhan dari mahasiswa, salah satunya karena kendala kuota. Sejumlah mahasiswa mengeluhkan pembatasan provider dan jangkauan akses sehingga kuota tidak dapat dimanfaatkan. Di samping itu, subsidi sebesar Rp300.000,00 pada aplikasi LinkAja hanya untuk bulan Maret hingga Mei. Namun hingga sekarang, pemberian subsidi LinkAja ini tak kunjung diadakan lagi, padahal semester baru akan dimulai pada bulan Agustus.

Ilustrasi pembelajaran daring.

(Sumber: malangtimes.com)

 

Dilansir dari lpmkompen.com, Tim Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Kompen melakukan survey yang menunjukkan sebanyak 57,26 % responden mengalami kesulitan dalam memahami penjelasan dosen. Saya juga mengalami hal tersebut, tak jarang dosen hanya memberikan modul melalui platform pembelajaran lalu mengharuskan semua mahasiswa mengajukan pertanyaan pada kolom komentar. Namun patut disesalkan, dosen hanya menjawab 1–3 pertanyaan. Setelah mengumpulkan tugas, mahasiswa juga tak diberikan feedback apapun, baik dalam bentuk diskusi atau pembahasan tugas. Tak hanya itu, ada salah satu dosen saya yang tak pernah mengajar selama pembelajaran daring diberlakukan. Lalu, apakah bisa mahasiswa memahami materi jika kondisinya seperti ini?

Untuk mengatasi permasalahan di atas, sangat penting bagi dosen agar merancang model pembelajaran yang sistematis. Model pembelajaran yang mengemas secara terstruktur semua aspek pembelajaran seperti, tujuan, materi, proses, serta evaluasi pembelajaran. Dengan adanya model pembelajaran tersebut, akan mempermudah mahasiswa, karena materi tersampaikan dengan tahapan yang jelas dan terdapat evaluasi mengenai pemahaman mahasiswa. Di samping itu, Polinema juga harus memonitor pembelajaran daring secara intens melalui Ketua Jurusan (Kajur) atau Ketua Program Studi (KPS) untuk memastikan semua target pembelajaran tercapai.

Lalu, apakah efektif pelaksanaan mata kuliah praktik dengan sistem daring? Saat pembelajaran daring, belum tentu semua mahasiswa mempunyai alat praktik sendiri, seperti mahasiswa jurusan rekayasa di Polinema yang tidak dapat melakukan praktik secara daring. Keterbatasan alat bagi mahasiswa lah yang membuat mereka kesulitan untuk melakukan praktik secara daring. Oleh karena itu, kampus perlu merancang model pembelajaran praktik yang efektif. Di samping itu, dosen juga harus memiliki kreativitas lebih untuk dapat mengkreasikan pembelajaran, seperti pemberian video tutorial pembelajaran dan penggunaan software simulasi praktikum. Hal tersebut dilakukan guna mempermudah pemahaman materi praktik meskipun penyampaiannya secara daring.

Menurut Wikan Sakarinto, Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi Kementerian Pendidikan Kebudayaan (Kemendikbud) dalam artikel jurnas.com, ia menyebutkan bahwa kebijakan mata kuliah praktik tergantung politeknik masing-masing. Kemendikbud juga berencana untuk memundurkan mata kuliah praktik di perguruan tinggi vokasi. Jika hal itu diterapkan di Polinema, maka mata kuliah praktik bisa ditunda sampai akhir semester atau awal semester berikutnya, bisa dengan dipadatkan menjadi 1–2 kali pertemuan. Dengan diterapkannnya aturan tersebut, kampus tentunya harus mengawasi praktikum dengan perantara dosen dan memastikan mahasiswa mendapatkan semua kompetensi melalui mata kuliah praktik.

Selain melalui pembelajaran daring, new normal sebenarnya bisa dijalankan melalui pembelajaran tatap muka atau luar jaringan (luring). Pembelajaran luring tentu saja akan mempermudah penyampaian mata kuliah, baik teori maupun praktik. Dan jika pemerintah menetapkan pembelajaran secara luring, kampus harus menerapkan berbagai protokol kesehatan secara ketat. Polinema bisa saja menerapkan jadwal masuk kuliah dengan sistem shift yang membagi gelombang jadwal masuk mahasiswa bergantian dan menjadwalkan 3–4 hari per minggu untuk perkuliahan agar memperkecil keramaian. Selain itu, dosen harus bisa mengatur sedemikian rupa bagaimana model pembelajaran yang diterapkan di dalam kelas agar bisa mencegah penyebaran COVID-19. Berkaca dari Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) yang sudah menerapkan praktikum luring sejak 2 Juni 2020, mereka mampu melaksanakan pembelajaran dengan protokol kesehatan yang meliputi, penggunaan masker dan face shield, physical distancing minimal satu meter, rajin cuci tangan, menghindari kerumunan, serta pengecekan suhu tubuh. Melihat hal tersebut, maka Polinema perlu melakukan uji coba penerapan protokol kesehatan agar nantinya pelaksanaannya dapat berjalan optimal.

Perlu dipastikan juga, apakah kampus dapat menyiapkan semua fasilitas untuk menerapkan protokol kesehatan tersebut? Mengingat masih banyak ruang kelas yang sempit, apakah physical distancing dapat berjalan maksimal? Salah satu contoh adalah  sempitnya ruang kelas di Gedung AH yang menyekat satu ruang menjadi dua. Terkait hal itu, tentunya penerapan physical distancing menjadi tidak maksimal. Permasalahan tersebut dapat disiasati dengan pengurangan jumlah mahasiswa per kelas dan sistem shift agar tercipta jarak aman di dalam kelas.

Selain di lingkungan kampus, mahasiswa juga harus menjalankan protokol kesehatan dimanapun ia berada. Percuma jika mahasiswa disiplin saat berada di kampus, namun saat di luar malah semaunya sendiri, seperti nongkrong atau jalan-jalan. Untuk itu, kampus harus melakukan penegasan terhadap protokol kesehatan baik di dalam atau di luar kampus agar tidak terjadi kasus penyebaran COVID-19.

Di sisi lain, pembelajaran luring juga perlu diperhatikan risiko yang akan terjadi. salah satunya adalah kemungkinan penyebaran virus antar mahasiswa. Tentunya tidak semua mahasiswa berasal dari zona hijau, kemungkinan banyak mahasiswa berasal dari zona merah yang tentunya sangat berisiko. Bahkan, mahasiswa yang negatif COVID-19 tidak menjamin mahasiswa tersebut tidak tertular saat perjalanan menuju kampus.  Dilansir dari detik.com, Korea Selatan mengalami lonjakan kasus COVID-19  setelah pemerintah Korea Selatan membuka sekolah pada Rabu, 13 Mei 2020. Kasus dari negeri gingseng tersebut bisa menjadi pertimbangan pemerintah Indonesia ketika akan menerapkan pembelajaran luring. Bagaimanapun juga, kesehatan mahasiswa merupakan prioritas utama.

Dengan adanya skenario kebijakan new normal di bidang pendidikan, saya berpendapat bahwa kampus bisa menerapkan metode pembelajaran campuran. Metode pembelajaran ini memadukan sistem daring dan luring yang berguna untuk meningkatkan hasil pembelajaran. Pada metode ini, dosen mengarahkan mahasiswa mempelajari materi melalui web dan diarahkan mencari sumber lain dari situs-situs yang relevan. Saat tatap muka, mahasiswa dan dosen lebih banyak diskusi atau mempraktikkan temuan materi yang telah dipelajari melalui internet tersebut. Dengan demikian, pembelajaran tetap berjalan lancar dan mendapat capaian yang maksimal meskipun dijalankan di masa pandemi.

 

(Viafeb)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.