Tue. Apr 13th, 2021

LPM Kompen

Katakan yang Benar Walau itu Getir

Mencari Jalan Tengah Pelaksanaan Kuliah Praktik Terdampak Pandemi

4 min read

Ilustrasi: Agam

Maju salah, mundur salah. Begitulah kondisi dilematis Politeknik Negeri Malang (Polinema) terkait pelaksanaan kuliah praktik selama pandemi virus COVID-19. Kegiatan praktik yang pada awalnya dilaksanakan secara luring berdasarkan Surat Edaran (SE) Direktur No. 55/DIR/SE/2020 dengan sistem blok, kini diputuskan dilaksanakan secara daring dengan terbitnya SE No. 83/DIR/TU/2020. Sontak hal ini menuai berbagai respon dari mahasiswa, khususnya mahasiswa rumpun rekayasa, hingga menjadi salah satu bahasan dalam Dialog Dosen dan Mahasiswa (Dipam) beberapa minggu lalu.

Isi surat edaran tentang pelaksanaan perkuliahan dan kegiatan kemahasiswaan semester ganjil tahun akademik 2020/2021, Kamis (08-10). (Sumber: Dokumen Istimewa)

Pada Dipam tersebut, Pembantu Direktur (Pudir) 1 Supriatna Adhisuwignjo, ST., MT. menjelaskan pertimbangan Polinema memberlakukan kuliah praktik secara daring adalah kondisi pandemi yang belum kondusif dan kekhawatiran timbulnya cluster baru di Polinema, serta perilaku new normal yang belum menjadi budaya. Saya menyadari masalah kesehatan adalah yang paling utama pada masa ini. Hal tersebut dikarenakan di luar sana banyak orang terjangkit COVID-19dengan penyebarannya yang sangat mudah. Akan tetapi, apakah dengan hambatan tersebut membuat kita menutup mata terhadap problematika vokasi di masa pandemi, khususnya di Polinema?

Dalam Dipam kemarin, Pudir 1 sebagai pemangku kebijakan dalam bidang akademik memperkenalkan empat solusi Polinema dalam menyiasati praktik daring. Solusi tersebut adalah pemberian video demonstrasi atau tutorial oleh dosen kepada mahasiswa, pemberian jobsheet yang mungkin dipraktikkan di rumah, pembelian peralatan secara mandiri, dan penggunaan software simulasi. Jadi menurut beliau, solusi tersebut dapat dipilih salah satu atau beberapa sebagai metode pelaksanaan praktik di masa pandemi. Akan tetapi, apakah solusi tersebut cukup untuk menyiasati kuliah daring di masa pandemi ini?

Jika Pegadaian berani memasang slogan mengatasi masalah tanpa masalah, ke-empat solusi terebut justru menimbulkan masalah baru. Kontrol terhadap tenaga pengajar adalah permasalahan pokok. Polinema harus dapat memastikan bahwa tenaga pengajar benar-benar memakai salah satu dari empat solusi tersebut.

Selain itu, solusi pembelian alat praktik secara mandiri dinilai dapat memberatkan mahasiswa. Beban mahasiswa dan orang tua untuk memikirkan cara membayar Uang Kuliah Tunggal  (UKT) per-semester masih harus ditambah dengan biaya membeli alat praktik. Padahal peralatan praktik ini seharusnya telah disediakan oleh kampus. Alternatif untuk memberikan subsidi akibat pembelian biaya alat praktik secara mandiri patut dipertimbangkan, mengingat selama kuliah daring mahasiswa minim menggunakan fasilitas kampus.

Pelaksanaan praktik secara daring dewasa ini malah terkesan dipaksakan untuk disamaratakan solusinya. Banyak problematika yang perlahan-lahan terungkap dalam pelaksanaan kuliah praktik secara daring. Bagaimana tidak? Jika kita memperhatikan beberapa mata kuliah di beberapa jurusan rumpun rekayasa, banyak yang tidak mungkin dilaksanakan secara daring. Misalkan kita mengambil contoh mata kuliah Teknik Pengelasan di Jurusan Teknik Mesin, peralatan praktiknya sulit dibeli mahasiswa secara mandiri karena harganya tidak terjangkau. Selain itu, pelaksanaan mata kuliah praktik secara daring juga berpotensi menghambat peningkatan keterampilan praktik untuk mahasiswa. Hal tersebut membuat mahasiswa tidak dapat mengasah keterampilan untuk  mengoperasikan suatu alat secara langsung di Polinema.

Pelaksanaan mata kuliah praktik secara daring menurut saya dapat memberikan dampak tidak baik bagi mahasiswa. Dalam jangka pendek, dikhawatirkan terdapat missing link dalam tatanan pembelajaran mata kuliah praktik di Polinema. Saya yakin bahwa rancangan pembelajaran antar semester berkesinambungan, yaitu mata kuliah praktik semester sebelumnya dibutuhkan pada semester berikutnya. Ketidakmaksimalan pelaksanaan mata kuliah praktik pada semester ini menurut saya dapat berdampak pada mata kuliah praktik di semester selanjutnya. Hal ini menimbulkan efek domino.

Dalam jangka panjang, ketidakmaksimalan mahasiswa dalam menempuh kegiatan praktik dapat berdampak pada sertifikasi yang umumnya dilaksanakan pada akhir masa studi. Bagaimana mungkin mahasiswa dapat melewati sertifikasi apabila mereka tidak pernah memegang peralatannya secara langsung? Di sisi lain, akan ada problem dalam link and match antara pendidikan vokasi (dalam hal ini Polinema) dengan industri. Link and match adalah penggalian kompetensi yang dibutuhkan pasar kerja ke depan. Dengan metode praktik secara daring seperti saat ini, apakah dapat mengakomodir kebutuhan industri akan mahasiswa politeknik yang terampil?

Jika diamati lebih jeli lagi, solusi tersebut menurut saya belum menjawab permasalahan yang ada dan hanya solusi jangka pendek saja. Padahal kita tidak pernah tahu kapan berakhirnya pandemi. Mungkin kita tidak bisa mengikuti beberapa politeknik atau universitas lain yang tetap melaksanakan mata kuliah praktik di kampus, seperti Universitas Negeri Malang, Politeknik Negeri Jakarta, Politeknik Negeri Semarang, dll. Tetapi dari Polinema harus ada solusi yang dapat mengatasi problematika kuliah praktik ini.

Pelaksanaan pelatihan selama beberapa minggu untuk pengganti praktik pasca pandemi menurut saya adalah solusi yang cukup tepat. Pelatihan tersebut digunakan untuk mengejar ketertinggalan dan mengasah keterampilan praktik yang kurang maksimal selama pelaksanaan kuliah daring. Lebih bagus lagi, jika hal ini dibarengi dengan sertifikasi. Hal ini dapat direncanakan mulai saat ini dan dikoordinasikan dengan jurusan masing-masing.

Di sisi lain, Polinema harus membuka ruang diskusi seluas luasnya dengan mahasiswa terkait kebijakan kuliah praktik yang terdampak pandemi. Ruang diskusi tersebut dapat berupa dialog antara dosen dan mahasiswa atau kuisioner saran yang membahas tentang masalah ini.  Hal tersebut harus dilakukan karena mahasiswa adalah entitas yang terdampak langsung dengan adanya pandemi. Mahasiswa bukan hanya objek yang hanya diam menanti keputusan, tetapi juga ingin berpendapat menentukan nasibnya.

(Agam)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.