Tue. Nov 30th, 2021

LPM Kompen

Katakan yang Benar Walau itu Getir

Memakan Banyak Korban, Benarkah Jalan Tol di Indonesia Tidak Aman?

3 min read
Ilustrasi kecelakan di jalan tol Indonesia. (Salsabila)

Menurut World Health Organization (WHO), kecelakaan lalu lintas menempati peringkat ke-8 di dunia sebagai penyebab utama kematian, salah satunya kecelakaan di jalan tol. Beberapa hari yang lalu, media sosial Indonesia dihebohkan dengan kasus kecelakaan yang melibatkan artis di ruas Tol Jombang-Mojokerto kilometer (km) 672.400 pada Kamis (4-11). Pada hari yang sama, Dekan Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM) meninggal dunia akibat insiden kecelakaan di ruas Tol Cipali-Cikampek km 113. Berdasarkan data Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) pada tahun 2019 tercatat 3.735 kecelakaan terjadi di jalan tol. Kasus kecelakaan yang kerap terjadi di jalan tol Indonesia menjadi sebuah tanda tanya besar. Mengapa sering terjadi kecelakaan lalu lintas di jalan tol? Benarkah jalan tol di Indonesia tidak aman?

Dilansir dari laman bpjt.pu.go.id, penyebab sering terjadinya kecelakaan di jalan tol karena dominasi jalan tol yang lurus dan lengang mengakibatkan pengemudi lengah dan terbuai untuk tancap gas. Laju mobil yang terlalu cepat bisa membahayakan pengguna jalan tol. Padahal, Kementerian Perhubungan telah membuat Peraturan Menteri Perhubungan tentang Tata Cara Penetapan Batas Kendaraan pasal 23 ayat 4, bahwa batas kecepatan di jalan tol yaitu 60 hingga 100 km/jam sesuai dengan rambu lalu lintas yang terpasang. Namun, dalam kenyataannya aturan yang ada jarang dipatuhi oleh pengguna jalan tol sehingga pengemudi tidak ragu melaju dengan kecepatan tinggi. Hal tersebut membuktikan lemahnya pengawasan batas kecepatan di jalan tol dapat menjadi penyebab terjadinya kecelakaan.

Potret desain jalan tol yang terbuat dari beton. (sumber: bpjt.pu.go.id)

Muncul beberapa faktor yang dapat ditelusuri sebagai penyebab kecelakaan di jalan tol Indonesia. Pertama, pembuatan jalan tol yang terbuat dari beton menyebabkan kurangnya daya cengkram antara ban mobil dengan permukaan jalan. Akibatnya, mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi dan mengerem mendadak akan mudah tergelincir dan meluncur cukup jauh sebelum berhenti. Kedua, desain jalan tol yang lurus dan panjang cenderung menyebabkan pengemudi kelelahan dan mengantuk. Ketiga, adanya pembatas dinding beton di tengah jalan yang tebal dan kokoh. Hal ini juga bisa berakibat fatal jika pengemudi tidak berhati-hati dan berkonsentrasi saat berkendara. Seharusnya dalam pemilihan pagar pembatas, mediannya berupa rumput dengan lebar minimal 2 x 5 meter dengan kelandaian 5%. Apabila pengemudi mengantuk atau ban mobil pecah saat berkendara akan berhenti dengan selamat di rumput yang landai.

Menurut peneliti Pusat Studi Transportasi dan Logistik (PUSTRAL) Universitas Gadjah Mada (UGM), Iwan Puja Riyadi, perlu adanya konsep desain jalan berkeselamatan yaitu seluruh sistem lalu lintas jalan disesuaikan dengan keterbatasan atau kemampuan manusia sebagai pengguna jalan, tujuannya untuk mencegah terjadinya tabrakan yang melibatkan elemen infrastruktur jalan. Salah satu desain jalan tol yang harus diperhatikan yaitu pada jarak lebih dari 2.500 meter sebaiknya diberi belokan atau tikungan agar pengemudi selalu waspada dan tetap pada kecepatan normal. Lalu, pada pinggir jalan tol diupayakan ada lahan hijau entah berupa perkebunan atau persawahan agar menambah konsentrasi dan tidak mengakibatkan pengemudi mengantuk. Selain itu, pemerintah harus lebih tegas lagi dalam memberi sanksi terhadap peraturan yang dibuat. Pemerintah dapat melakukan tilang pemantauan kecepatan melalui kamera pemantau kecepatan terhadap kendaraan. Pemerintah juga harus terus menggalakkan edukasi ke masyarakat tentang lalu lintas jalan tol dan perlunya kesadaran masyarakat supaya tidak terjadi kecelakaan dalam perjalanan.

(Nabila Permatasari Handoko)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.