Fri. Nov 27th, 2020

LPM Kompen

Katakan yang Benar Walau itu Getir

Lima

4 min read

(Sumber: https://wallpapersafari.com/w/BtaKcf)

 

Mendayung-dayung, aku mendayung. Menuju ke mana yang aku selalu kira tak akan. Sendiri pula aku kini tak peduli. Di pikirku kini hanya mengapa ini bisa terjadi? Jika bukan perihal jebak lentera yang bersamanya, aku akan tetap menatap bunga azalea dan makan kue madu buatannya setiap hari. Sebelum semuanya berubah, hidupku dapat dikatakan lebih dari baik-baik saja. Makan, tidur, mendengar cerita, dan melakukan semuanya semauku-pun aku tetap hidup. Tidak ada satu sedih yang menyebabkan aku merasa ragu untuk melihat awan macam apa yang hadir di hari esok.

Sedikit aku bercerita. Ketika awan berwarna jingga, dahulu selalu bersemi sebuah rona di pipi seorang paling indah. Ketika awan berwarna kelabu, tersedialah sebuah hidangan bersama tehnya di ruang paling depan dalam rumah. Dan, melakukan segala sesuatu bersama di bawah awan berwarna putih yang selalu ada hamper setiap hari. Menyenangkan, mengingatnya membuatku dicumbu cemburu.

Bulan sabit di atas tak lagi tersenyum, sepertinya dia sedang menertawakanku yang sejak tadi bermuka kalut. Namun, apa bulan tak pernah merasa sepi ketika digantikan matahari? Apa mungkin ketika hujan ia ikut menangis? Ah sudahlah, selagi malam panjang sebelum tidur aku mau memakan kue madu yang aku bawa untuk berjaga-jaga. Aku lapar sekali, tapi di tengah ribuan mililiter air ini kan aku hanya membawa sebisaku, bahkan aku mengambil kue-kueku secara tersembunyi. Jadi, aku hanya mecukupkan satu kue untuk perutku. Aku mungkin khawatir kue ini akan habis, tetapi ketika aku menepi mungkin aku akan beralih dan membuang sisa kue sialan ini. Aku tidak akan tahan hidup dibayang masa lalu, terlalu sesak dan menyakitkan. Semoga saja penyakit satu itu bukan salah satu yang akan membuatku lumpuh, atau jika mematikan silakan saja dengan segera.

Mendayung-dayung, aku mendayung. Aku tak tahu mengapa matahari sedang patah hati. Sinarnya membuatku terbakar, seakan menggali lagi ke dalamku supaya aku marah-marah. Hei! Teriakku diteruskan dengan kata-kata umpatan. Aku mulai memaki dari abjad a hingga z yang terulang kurang lebih puluhan kali. Aku mendengar setanpun bertepuk tangan mendengar derunya keluhku, bahkan ini memang dariku, bukan karena hasutannya. Disini aku malah makin bersemangat, karena aku benar dan yakin! para penebar rayu itu memang kotor! Kini aku sudah hampir separuh jalan. Tapi aku kembali lagi, Mendayung-dayungku.

Dayungku sedang kutaruh. Kini aku hanya terdiam memandang kue maduku yang tinggal satu, aku juga ingin melihat dan mencium bunga azalea. Tapi aku benci, jika aku gambarkan rasa ini mungkin kau akan melihat darah berwarna pekat kehitaman disertai serakan batu kecil mirip choco chip. Pelik sekali hidupku ketika dia tiba. Semua gelak tawa dan cerita dunia seisinya tak lagi tertuju padaku. Sibuk membelai-belai sosok itu. Menggelikan.

Jika kau menanyakan, apa ia merindukanku? Mungkin? Mungkin tidak. Sudah dapat dipastikan memang sosok baru itu sempurna, tak ada cela, dia datang bersama pujian dari semua manusia maupun tumbuh-tumbuhan sekaligus Bunga azalea, kesayanganku. Namun, apa kau tidak bertanya pula mengenai kerinduanku padanya? Jelas aku akan mengakui aku ingin memeluknya! Tapi tidak akan, tidak akan semudah itu. Aku akan tetap di sini sekalipun tak mungkin sampai tepi. Biar aku mati membusuk dimakan Elang yang kelak dalam hatinya tertanam semua amarahku. Tapi, aku berharap kau sakiti saja sosok itu, jangan dia. Semoga kau dengar pintaku yang satu ini.

Mendayung-dayung, aku mendayung. Di bawah bintang, aku memegang dadaku. Detaknya masih terasa namun tak bersemangat. Aku kedinginan, lapar, dan tatapanku mulai nanar. Air tak membiarkanku melihat bias rupaku karena sudah malam. Sepertinya aku telah menangis di setiap malam selama satu, dua, tiga hari. Aku tak tahu apakah lebih tersiksa merasa sepi atau merasa iri. Aku selalu benci ramai, tapi aku juga tak mau sepi sendiri. Otakku terasa berputar namun zig-zag. Aku merasa di timur, namun sebenarnya tenggara, atau aku merasa cokelat padahal aku sedang biru.

Berulang kali aku melihat sosok itu bersamanya lagi. Namun, yang selalu aku lihat adalah kaki hingga setengah tubuhnya. Aku berbisik pada mataku yang sedang memandang di dunia khayalku, jangan lihat mukanya, aku tak sanggup. Jika kau tahu, semua anggota tubuhku selalu menuruti perintahku, tuan ego yang ada di dalam hatiku. Mungkin karena itu kau bisa berkata aku adalah pemuja diriku paling fanatik.

Berulang kali aku melihat tangan melambai. Sepertinya aku mulai berhalusinasi. Pagi ini, aku melihat sebuah Kue madu tersembunyi di bawah kendali dayung kiriku. Bagaimana keajaiban ini bisa terjadi. Jelas aku mencari dengan sangat teliti kala kemarin. Apa peri penjaga air mengasihiku? Atau langit memberi berkah karena panggilan perutku? Atau Tuhan masih ingin mengejekku dan membiarkanku tetap hidup?

Aku berputar-putar, namun aku tetap Mendayung-dayung. Kini aku mendayung tanpa henti, seperti gila tapi tak menuju dan tak menepi. Aku merasa lapar lebih dari terakhir kali aku merasa lapar. Aku sudah berhalusinasi, kepalaku berat tak mampu menyangga, mataku hanya melihat titik silau. Aku bingung. Rasanya air membuatku terbang tapi aku di sini membatu. Ku gerakkan satu persatu jariku, hanya telunjuk yang mampu menggambarkan sebuah sudut yang teramat kecil. Dengan hanya tenaga yang aku punya aku berteriak. Ah, ibu!

Mendayung akhirnya aku menepi, lagi. Tapi.. Sejujurnya aku berbohong terlalu banyak. Aku tak sungguh mencari apa itu baru. Aku berulang kali menyerah tak mendayung agar air membawaku kembali. Tidak ada tepi lain selain di sini, rumah dengan taman bunga azalea dan aroma kue madu dari  dapurnya.

Aku kuatkan diri, membuka mata. Yang aku lihat adalah sosok itu. Lucu, itu adalah perasaanku saat ini. Tapi tolong, bantu aku menjelaskan tanpa ada kebohongan lagi, mengapa aku sudah tak merasa benci dan marah? Ke mana semua pergi, lenyap, dan luluh? Seperti jiwaku terguncang namun aku terlahir menjadi tanpa dendam.

Sosok itu tersenyum, betapa berani dia?

Namun, aku juga tersenyum.

Aku mulai bangkit, keluar dari perahuku. Kutinggalkan dua dayungku. Kini aku berjalan, menuju rumah beraroma madu. Dengan lengan kananku yang dibopong ibuku, bersama menggendong adikku di lengan satunya.

 

Alifya

 

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.