Lewat Secangkir Kopi

Sumber http://capslocknet.com/wp-content/uploads/2015/05/Secangkir-KOPI.jpg
Oleh : difshabrina

Seperti akhir pekan sebelum-sebelumnya, Decco menikmati nuansa ketika sang Mentari menyembunyikan rasa lelah di sisi bumi yang lain. Decco berada di dalam kafe klasik yang menghadirkan suasana hangat. Dia duduk di tempat favoritnya, di meja dekat jendela dengan angle langsung mengarah ke luar kafe.

“Sudah ingin memesan sesuatu, Tuan?” tanya seorang pelayan.

“Ya, seperti biasa.” Jawaban Decco langsung dimengerti oleh pelayan tersebut. Decco memang tidak pernah langsung memesan menu kesukaannya, yaitu secangkir kopi. Ia lebih memilih untuk memandangi lalu lalang para pengguna jalan terlebih dahulu. Selang beberapa saat, secangkir kopi hitam dengan asap yang masih menari di atasnya tersaji di meja Decco.

Sudah hampir satu tahun semenjak Decco memutuskan untuk menetap di kota kecil ini, Decco bersahabat dengan kopi. Baginya, rasa alami kopi selalu membawa aroma khas yang tak pernah gagal mengajak masa lalunya berdansa mesra, dan membiarkan Decco bercengkrama dengan sajak-sajak yang dibuatnya.

Lewat secangkir kopi juga Decco bisa mengingatnya. Seseorang yang dulu pernah mengikatkan harapan padanya dan tanpa seizinnya ikatan itu diputus begitu saja. Orang itu pula yang membawa Decco ke kota ini agar dia dapat menghindarinya, hanya menghindar. Ingin sebenarnya Decco untuk membenci dan melupakannya, tetapi entah mengapa dirinya hanya bisa menghindar.

Sementara itu di bagian kota yang lain ….

Bukan pertama kali matahari terbenam sebelum ia sampai di rumah, seperti akhir pekan ini. Ini adalah pekan ke-12  bagi Jovanda semenjak pertunangannya dibatalkan karena alasan yang tidak masuk akal. Hal itu akhirnya membuat Jovanda memutuskan untuk pergi mencari sesuatu yang dulu pernah ia sia-siakan. Sampai pada suatu ketika salah satu halaman di surat kabar menuntunnya datang ke kota kecil ini.

“Aku pulang …,” sapa Jovanda kepada satu-satunya orang yang mendiami rumah itu bersama dirinya, yaitu Bibi Maryati.

Beliau adalah pengasuh Jovanda sejak Jovanda bayi. Hubungan mereka begitu dekat terutama setelah ibunda Jovanda meninggal dunia beberapa tahun yang lalu. Bibi Maryati selalu mendukung apapun keputusan yang diambil oleh anak asuhnya itu. Seperti yang sekarang terjadi, ketika semua keluarga Jovanda menentang keputusan Jovanda untuk mencari hal yang hilang darinya, Bibi Maryatilah satu- satunya orang yang mendukungnya.

“Selamat datang, Nona! Sebentar, akan saya siapkan kopi untuk Nona,” ucap Bibi Maryati pada Jovanda yang terduduk lelah di sofa ruang tamu.

Sudah menjadi kebiasan pasangan ibu dan anak asuh ini untuk menikmati kopi bersama. Setelah menyiapkan kopi, Bibi Maryati membuka pembicaraan, “Sampai kapan Nona akan mencarinya? Tidakkah Nona merasa lelah?”

“Aku akan mencarinya hingga aku menemukannya. Akan kuikuti semua petunjuk yang mengarah padanya. Jangankan hanya ke kota kecil ini, bahkan jika petunjuk itu membawaku ke ujung dunia aku akan mendatanginya, meskipun pada akhirnya aku tetap tak menemukannya.” Sejenak Jovanda berhenti untuk menikmati aroma yang diantarkan kopi di hadapannya. “Persetan dengan rasa lelahku, bagaimana dengan perasaan pemuda yang pernah kugenggam harapannya dan kemudian kulepaskan begitu saja? Anggap saja ini hukuman untukku karena telah mengecewakan hati seorang pemuda yang baik hati,” sambungnya dengan nada penyesalan.

“Sudahlah, Nona, berhentilah menyalahkan diri,” sanggah Bibi Maryati yang tak mampu mengalihkan sedikitpun perhatian Jovanda dari cangkir kopi, “Seandainya Nona berhasil menemukannya, entah dalam keadaan hidup atau telah tiada, apa yang akan Nona lakukan?” Seketika konsentrasi Jovanda pada aroma kopi buyar.

Keadaan sempat hening, namun dengan menyungging senyuman, Jovanda akhirnya hanya bisa menjawab “Entahlah. Aku tak tahu apa yang akan kulakukan jika bertemu dengannya. Apakah dia masih hidup atau telah tiada? Apakah dia masih menyimpan dendam karena perbuatanku, ataukah dia masih mengutip namaku dalam hati, setidaknya sebagai yang pernah ia cinta? Yang kutahu hingga saat itu tiba, aku hanya bisa mengenangnya lewat secangkir kopi ini.”

Related Posts