Kupatan, Tradisi Lebaran di Tanah Jawa

Sumber Foto :  istockphoto.com

Idulfitri adalah salah satu hari raya umat Islam. Momen Idulfitri biasa digunakan untuk kembali bersilaturahmi dengan keluarga dan tetangga. Berbicara tentang Idulfitri, masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, tentu tak lepas dari ketupat. Sejarahnya, salah satu dari Wali Songo yaitu Sunan Kalijaga mengenalkan tradisi ketupat. Kemudian, menurut H.J. de Graaf dalam “Malay Annals”, ketupat menjadi simbol perayaan Idulfitri sejak kerajaan Demak di bawah kepemimpinan Raden Patah pada awal abad ke-15.

Ketupat berasal dari kata Ngaku Lepat dan Laku Papat. Ngaku lepat berarti mengakui kesalahan, dan Laku Papat berarti empat tindakan yaitu lebaran, luberan, leburan, laburen. Lebaran menandakan usainya puasa, di mana pintu ampunan telah terbuka lebar. Luberan bermakna melimpah, yang juga mengajak untuk berzakat fitrah menjelang lebaran. Leburan bermakna habis dan melebur. Pada saat lebaran, umat Islam saling memaafkan agar dosa dan kesalahan melebur. Dan laburen berasal dari kata labur atau kapur yang menyimbolkan manusia selalu menjaga kesucian lahir dan batin seperti kapur menjernihkan air.

Ketupat atau kupat adalah anyaman daun kelapa muda (janur) yang diisi dengan beras lalu dimasak. Bentuk ketupat menandakan empat penjuru mata angin, yang bermakna ke mana pun manusia pergi tidak boleh melupakan pacer (kiblat) sebagai arah salat. Anyaman yang rumit menggambarkan kompleksitas manusia dan beragam kesalahannya. Sementara itu, beras dianggap sebagai simbol kesucian dan rasa syukur kepada Allah SWT.

Di kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, Jawa Timur, tradisi lebaran ketupat atau kupatan masih berlangsung hingga sekarang. Kupatan dilakukan seminggu setelah hari lebaran, namun ada beberapa orang yang sudah kupatan sebelum waktu tersebut. Biasanya di setiap rumah terlihat beberapa anggota keluarga menganyam janur dan ibu – ibu memasaknya lengkap dengan sajian pendamping berupa opor. Namun sekarang, masakan pendamping kupat bisa bermacam-macam. Ada yang memasangkannya dengan soto ayam, sayur labu siam, hingga orem-orem. Ketupat tersebut biasanya dibagikan ke tetangga sekitar rumah, yang disebut ater-ater.

Ada satu makanan yang biasa menemani ketupat dalam isi berkat (istilah Jawa untuk nasi yang dibawa pulang). Di kampung biasa disebut lepet, yaitu makanan dari campuran beras ketan dan parutan kelapa yang dibungkus menggunakan janur. Bentuk lepet tidak seperti ketupat, lepet biasanya hanya berbentuk memanjang. Lepet terbagi menjadi dua macam, lepet tanpa kacang dan dengan kacang. Namun, penyajian makan lepet tidak seperti kupat yang dimakan dengan sayur. Lepet bisa dimakan langsung seperti kue.

Ada banyak tradisi yang berkaitan dengan Idulfitri, entah sebelum dan setelah lebaran. Mulai dari prepekan (tradisi belanja bersama-sama di pasar), galak gampil (bersilaturahmi ke tetangga dan saudara), hingga kupatan. Setiap tempat tentu memiliki tradisi yang berbeda untuk merayakan Idulfitri, atau tradisi yang sama namun terdapat ciri khas suatu daerah. Bagaimana tradisi di daerahmu?

(Faridatul Zazilah)

Related Posts