Kenduri Kebudayaan, Agenda Wajib Tahunan di Polinema

“Doa dan usaha merupakan suatu keseimbangan, sudah ada kepercayaan dan kekuatan dalam do’a masing-masing, tak perlu menarik kepercayaan orang lain.”, Emha Ainun Nadjib (Cak Nun), Kenduri Kebudayaan Polinema(19/01).

Cak Nun menyampaikan materi dalam Kenduri Kebudayaan yang diadakan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Polinema 2018, (19/01)(Fikri).

Pernahkah terpikir bagaimana seorang mahasiswa sebagai agen perubahan Indonesia menyeimbangkan perkembangan zaman dengan kondisi yang ada? Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Politeknik Negeri Malang (Polinema) bekerja sama dengan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Kerohanian Islam Polinema (Rispol) memberikan jawaban atas masalah tersebut melalui Kenduri Kebudayaan Polinema 2018 di Lapangan Mini Soccer Polinema, Jumat(19/01). Kenduri merupakan sebuah tradisi yang ada di Indonesia bahkan jauh sebelum agama masuk ke Indonesia. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kenduri adalah sebuah kebudayaan perjamuan makan untuk memperingati suatu peristiwa. Polinema mengemas kenduri sebagai penyambutan mahasiswa baru setiap tahunnya dengan “Sinau Bareng” atau diskusi yang dipimpin oleh seorang pemateri. Kenduri kebudayaan juga bertujuan untuk menunjukan kepada khalayak umum bahwa Polinema mampu menyelenggarakan event yang dapat memberikan manfaat bagi semua yang hadir dalam kenduri.

Suasana Kenduri saat acara berlangsung  2018, jumat(19/01)(Fikri)

Acara yang mengangkat tema “Tafakur Zaman Untuk Menuju Keseimbangan” ini berlangsung pukul 18.30-24.00 WIB, dengan pemateri Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) dan Kiai Kanjeng. Selain pemaparan materi yang berhubungan dengan tema yang ada, diskusi ini juga memberikan kesempatan bagi seluruh peserta yang hadir untuk bertanya kepada pemateri mengenai permasalahan yang ada. Tidak hanya diskusi, kenduri kebudayaan juga menghadirkan hiburan  alunan musik gamelan dan Dramatic reading ( semacam bedah naskah) bersama Mas Donj dan Pakde Qodam (Pak JoKam) dalam fragmen yang berjudul “Amenangi Zaman Now”. “Alasan kami mengundang Cak Nun setiap tahunnya sebagai pembicara dalam kenduri kebudayaan Polinema, karena Cak Nun adalah seorang budayawan dan dipandang sangat religius, sehingga materi yang disampaikan bisa diterima oleh berbagai kalangan usia, ras, dan agama.” Tutur Wildan Nur Fitra, selaku ketua pelaksana. Dalam kenduri kebudayaan yang bertema keseimbangan, Cak Nun dinilai mampu merangkul mahasiswa dan masyarakat berbagai agama dengan teori-teori dari sudut pandang beliau. Hal inilah yang menjadi latar belakang, mengapa Cak Nun menjadi salah satu daya tarik kenduri kebudayaan Polinema setiap tahunnya. “Dalam permainan ada kesepakatan, aturan main. Begitu juga kita hidup, dulu kita sudah membuat kesepakatan dengan Tuhan,” jelas Joko Kamto saat memberikan simulasi kesepakatan dan keseimbangan di tengah sinau bareng.

Meskipun diguyur hujan, kenduri kebudayaan Polinema diguyur pujian pula. ”acara ini sangat bagus untuk kajian rohani bagi anak-anak muda dan para mahasiswa untuk mencari keseimbangan hidup mereka,” ucap Ibu Yeni, masyarakat dari Batu. Tidak hanya itu, Adi Riswanto, mahasiswa Jurusan Teknik Elektro D4 Jaringan Telekomunikasi Digital (JTD) juga mengungkapkan, “Acara kenduri ini saya rasa sangat penting, karena dengan adanya kenduri ini tidak hanya dari sudut pandang islam, tetapi juga dari sudut pandang agama lain dan budaya jawa.” Meskipun begitu, Adi berharap ada inovasi dari panitia untuk pemateri yang diundang seperti budayawan Sujiwo Tejo. Acara yang masih satu rangkaian dengan kegiatan mentoring ini, tidak hanya memberikan ilmu dari berbagai sudut pandang tetapi juga dapat membuka wawasan yang lebih luas. Dengan begitu, mahasiswa diharapkan mampu mendapatkan pencerahan mengenai keseimbangan dalam kehidupan.

 

(Abid, Fikri, Uswa)

 

 

 

 

Related Posts