Jurnalisme dalam Perspektif Islam

Sumber:hidayatullah.com

Sebuah buku berjudul “Kamus Jurnalistik” karangan Asep Syamsul M.Romli menuliskan, jurnalistik adalah proses atau teknik mencari, mengolah, menulis, dan menyebarluaskan informasi berupa berita (news) dan opini (views) kepada publik melalui media massa. Oleh karena itu, tidak heran jika dunia jurnalistik memiliki kaitan erat dengan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari, baik media cetak maupun elektronik. Hal ini bisa menjadi modal dasar bagi para jurnalis untuk dapat memenuhi tugasnya sebagai pemburu dan penyampai berita. Sejatinya makna sebuah berita yang diangkat oleh seorang jurnalis seharusnya tidak hanya pada batas-batas objektif saja yang menjadi landasan kuat, tapi juga aspek moral dan etika yang harus dimiliki.(sumber:kompasiana.com)

Berbicara mengenai moral dan etika, hal yang biasa dikaitkan adalah keyakinan seseorang terhadap Tuhan. Indonesia sebagai negara majemuk, memiliki berbagai macam keyakinan dengan agama mayoritas Islam. Sampai April 2018 penduduk muslim Indonesia mencapai angka  76%. Maka tidak menutup kemungkinan bahwa beberapa pelaku jurnalistik di Indonesia menganut agama mayoritas tersebut. Tapi sampai saat ini belum ada petunjuk, arahan, ataupun informasi yang mampu menunjukan korelasi antara peran jurnalistik dengan ketentuan syari’ah muamalah yang harus dipegang sebagai seorang muslim. Ketentuan ini merupakan suatu batasan yang harus ditaati oleh seorang jurnalis, agar tujuan mulia yang ada pada kode etik jurnalistik dapat diemban dengan baik. Secara umum UU Pers No.40 Tahun 1999 tentang kode etik jurnalistik, memiliki kesamaaan dengan ajaran atau norma-norma Islam. Namun, sebenarnya dalam Islam tidak mengenal istilah jurnalisme. Tapi dalam Al-qur’an disebutkan dengan beragam kata yang berakar dari kata “Naba” yang disebutkan sebanyak 138 kali. Naba sendiri berarti kabar (berita) yang menjadi salah satu hal penting dalam ajaran Islam (Muchtar, Nurhaya, dkk : 2017)

Sumber:laduni.id

Nurhaya Muchtar, profesor dari Departemen Komunikasi Universitas Pennsylvania, Indiana membuktikan bahwa prinsip dasar islam juga sudah tertanam dalam empat prinsip dasar yang dibentuk oleh Islamic Worldview dalam jurnalisme. Diantaranya, konsep kebenaran (haqq) pembeda antara yang benar dan yang salah. Dalam hal ini seorang jurnalis dituntut untuk mampu memilah antara berita yang patut untuk disampaikan ke khalayak atau tidak. Selanjutnya adalah Tabligh, berarti menyebarkan kebenaran dan kebaikan kepada publik. Dalam hal ini seorang jurnalis memiliki tanggung jawab yang besar dalam menyampaikan berita yang benar. Kemudian Masalahah, yang berarti mencari kebaikan untuk publik. Prinsip ini memberi sandaran pada jurnalis untuk memiliki sikap proaktif dan parsitipatif. Jurnalis diharapkan untuk terlibat dalam wacana publik dan menjadi agen perubahan sosial di masyarakat. Terakhir adalah Wasatiyyah, berarti moderat yang dalam konteks jurnalisme berarti ketidakberpihakan dan keberimbangan atau dengan kata lain keadilan.

Keterkaitan ini tentu mengundang antusiasme untuk menggali lebih dalam wawasan tentang jurnalisme dalam perspektif Islam. Seperti firman Allah SWT. surat al-‘Alaq ayat pertama “Iqra” mengandung makna baca. Dari wahyu tersebut tergambar perintah Allah SWT. kepada manusia untuk terus belajar dan membaca ‘buku’ dunia. Berkaca dari perkembangan zaman, manusia harus mampu menyesuaikan ilmu yang ditularkan dan diterima. Tidak hanya membaca, umat manusia juga harus mampu mengggoreskan pena mengenai pengetahuan (termasuk informasi dan berita) agar dapat dibaca orang lain. Maka sejak awal, Islam telah mengajak manusia untuk mengenalkan baca tulis, kemudian berkembang menjadi media cetak dan media elektronik seperti sekarang.

Hal diatas perlu diingat dan dipelajari kembali oleh kawula muda, para mahasiswa selaku agen perubahan, dan para pers mahasiswa secara khusus. Salah satu mahasiswa Polinema Jurusan Teknik Mesin, Wildan, mengatakan bahwa penting untuk menyandingkan dua persepsi dari sisi agama dan keberitaan. Sering kali pemberitaan yang ada tetap harus dipertimbangkan dari berbagai sisi, termasuk dari sudut pandang agama. Hal tersebut agaknya perlu dilakukan untuk mendapatkan kesimpulan yang benar, tanpa menimbulkan perpecahan dan menimbulkan masalah baru.

(Nur Candra)

Related Posts