Internasionalisasi Mahasiswa, Sudah Siapkah?

“Internasionalisasi bukan westernisasi. Sudah saatnya kita berdiri setara, saling rangkul sebagai sesama warga dunia.” – Dr. Maria Anityasari

Semiloka Internasionalisasi Kampus merupakan acara yang diadakan oleh Kantor Urusan Internasional (KUI) Polinema sebagai langkah awal menuju kampus berstandar internasional. Polinema tengah merintis  dengan harapan Perguruan Tinggi asing mau bekerja sama dengan Polinema. Langkah awal dari Internasionalisasi kampus ini adalah Kepala KUI Polinema ingin melakukan kerja sama dengan Arab Saudi dalam bidang pendidikan dan kemitraan.

Pemateri yang hadir antara lain Dr. Nur Salam selaku Kepala KUI Polinema, Astrini Simajuntak dari Institut Francais Indonesia (IFI) cabang Surabaya, dan Dr. Maria Anityasari dari Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya. Empat mahasiswa ITS yang pernah mengikuti pertukaran pelajar di luar negeri dan volunteer acara-acara internasional. Dipilihnya pemateri dari KUI ITS karena berdasarkan pertimbangan KUI Polinema, ITS sudah berhasil mencapai Internasionalisasi kampus dengan baik dan mahasiswanya pun aktif dalam kancah internasional. Selain itu, perwakilan mahasiswa dari seluruh Organisasi Kemahasiswaan Intra (OKI) Polinema  turut menghadiri acara ini.

Nur Salam menjelaskan, “Polinema sudah mulai menjalankan langkah-langkah yang mendukung program Internasionalisasi Kampus. Di antaranya, Jurusan Teknik Informasi  mengirim perwakilan mahasiswanya untuk program pertukaran pelajar di  Republic Polytechnic of Singapore pada bulan Oktober 2016. Pihak Polinema juga memberikan fasilitas kursus bahasa asing gratis bagi Mahasiswa Polinema, seperti Japan Corner dan Warung Perancis.”

Peserta Semiloka Internasionalisasi Kampus sedang mengerjakan game tebak indeks negara dalam acara Semiloka Internasionalisasi Kampus di Auditorium Gedung AH Polinema, Sabtu (29/04)

Lebih lanjut, ia memaparkan empat tahapan untuk bisa mencapai internasionalisasi. Pertama adalah kesadaran dari setiap dosen dan mahasiswa akan pentingnya internasionalisasi. Kedua, adanya dukungan dalam bentuk nyata dari seluruh dosen dan mahasiswa. Ketiga, adanya kegiatan dan program baik dari UKM maupun dari pihak kampus yang dapat mendukung internasionalisasi kampus. Keempat, realisasi internasionalisasi kampus. “Dari internasionalisasi ini, Polinema dapat lebih dikenal dunia. Apabila kampus telah dikenal, otomatis karir mahasiswa akan lebih lancar,” terang Nur Salam. Ketika ditanya mengenai dampak negatif, ia tidak menjawab.

“Dibutuhkan aksi nyata oleh seluruh civitas akademika demi tercapainya internasionalisasi kampus,” jelas Maria. Mahasiswa aktivis rata-rata memiliki bekal lebih serta dapat berbuat lebih untuk masyarakat melalui kegiatannya. “Generasi muda tidak hanya butuh hard skill, tapi juga soft skill. Soft skill lebih banyak didapatkan di organisasi,” imbuhnya.

Menindaklanjuti rencana perintisan internasionalisasi kampus, pihak KUI Polinema berkata untuk fokus pada internasionalisasi mahasiswa dahulu, terutama dari segi bahasa. Karena itu, di gedung AW (gedung KUI) akan ditambah corner baru untuk bahasa Korea. Rencananya tahun ini Polinema juga akan mengirim salah satu mahasiswanya ke Perancis untuk melanjutkan studi S2.

(Shofi, Nia, Purnita)

Related Posts