Mon. Sep 21st, 2020

LPM Kompen

Katakan yang Benar Walau itu Getir

Gara-Gara Pandemi, Proker OKI Harus Beradaptasi

4 min read

Ilustrasi proker OKI Polinema yang ditunda atau dihapus karena pandemi. (Raihanah)

 

Masa pandemi COVID-19 yang terus berlanjut mulai berdampak ke segala sisi, termasuk juga kegiatan Organisasi Kemahasiswaan Intra (OKI) Politeknik Negeri Malang (Polinema). Sejak dikeluarkannya Surat Edaran (SE) direktur bernomor 55/DIR/SE/2020 tentang perpanjangan kuliah daring atau online, para fungsioner OKI harus memutar otak agar program kerja (Proker) mereka tetap berjalan di masa pandemi.

Berdasarkan peraturan Pembantu Direktur III, kegiatan di OKI dilarang dilaksanakan secara langsung. Oleh sebab itu maka pelaksanaan proker pun berubah menjadi bentuk daring. Mulai dari rapat hingga pelaksanaan acara. Setiap organisasi pasti memiliki gaya dan kebijakan yang berbeda. Lantas, bagaimana saja sepak terjang OKI di masa pandemi ini?

Dihapusnya Proker karena Masa Pandemi

Tidak bisa dipungkiri, pandemi menyebabkan banyak proker dari masing-masing OKI harus ditunda atau dihapuskan. Salah satunya pada proker milik Himpunan Mahasiswa Akuntansi (HMA) Polinema. Ketua Umum HMA, Muhammad Afifuddin, mengaku  bahwa ia harus memangkas beberapa proker akibat pandemi. Contohnya pada proker Accounting Fair, dikarenaakan pelaksanaan acara tersebut mengumpulkan massa banyak, dan berisiko terhadap penularan virus, maka terpaksa ditiadakan.

“Kita merencanakan program kerja yang sekiranya bisa dilakukan secara daring dan dimaksimalkan program kerja tersebut. Tetapi jika program kerjanya tidak bisa dilakukan secara online, terpaksa harus kita hapus,” tutur Afif.

Bahkan proker andalan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Olah Raga yakni Proker Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) pun terpaksa ikut dibatalkan. Porseni sendiri telah menjadi ajang mahasiswa Polinema dari berbagai jurusan untuk berkompetisi dalam bidang olahraga dan menyaring atlet-atlet berbakat yang dimiliki Polinema. “Cukup disayangkan karena proker ini menjadi tolak ukur para atlet UKM Olahraga,” ujar Ketua Umum UKM Olah Raga, Yusril Ihza Zulfikar.

Solusi lain selain pembatalan proker, adalah reschedule.  Hal ini dilakukan Radio Kampus Politeknik (PL) FM Polinema. Amar Farrichil, selaku Direktur PL FM memutuskan melakukan rescheduling progress secara signifikan terhadap proker mereka yang tertunda. Ia mengungkapkan, proker pada bulan Agustus sampai bulan Desember kemungkinan bisa jadi dilaksanakan dengan tepat waktu, namun dengan konsepan yang sudah disesuaikan dengan kondisi pandemi.

Wakil Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Besta Alfidi, turut angkat suara terkait kondisi yang terjadi pada kondisi OKI Polinema di masa pandemi. Ia mengatakan bahwa proker yang tidak bisa dilaksanakan bisa diubah menjadi agenda, namun harus mengikuti kebijakan yang dikeluarkan direktur terkait pelaksanaan secara daring.

“Untuk di masa pandemi ini apakah menghambat atau tidak, itu pasti dikarenakan hal seperti ini jarang terjadi. Pada masa sekarang, kami mengubah sistem untuk pengerjaan program kerja ke daring semua, untuk terkait birokrasi yang awalnya offline kami buat online juga,” tegas Besta.

 

Media Online Menjadi Alternatif Pelaksanaan Proker

Masing-masing UKM terus berinovasi agar program kerja mereka tetap bisa terlaksana. Seperti HMA yang berinovasi dengan memanfaatkan platform media online seperti Zoom dan Google Meet untuk melaksanakan acara. Contohnya, pada program kerja tahunan mereka yaitu Accounting Skills dan English Competition. Agar tetap berjalan, mereka mengakali dengan dilaksanakan secara daring. Namun, terdapat kekhawatiran dari teknis pelaksanaannya, seperti cara mendeteksi kecurangan selama lomba.

“Dari HMA sendiri memberikan solusi saat teknis pelaksanaan lomba. Jadi, peserta lomba mengaktifkan kamera dan kedua tangannya kelihatan dari kamera. Itukan sudah termasuk meminimalisir dari kecurangan mengerjakan soal,” ucap Afif.

Kegiatan daring juga menjadi andalan UKM lain, siaran yang biasanya dilakukan oleh UKM PL FM juga mengalami hambatan di masa pandemi COVID-19. Sebagai gantinya, PL FM melaksanakan kegiatan podcast yang diupload setiap hari Selasa, Jumat, dan Sabtu. “Podcast itu sebagai pengganti siaran untuk sementara. Agar crew PL FM sendiri masih bisa berlatih kemampuan speaking-nya meskipun siaran sendiri dalam keadaan off,” jelas Amar.

Pemanfaatan media berbasis daring juga dimanfaatkan oleh UKM Olah Raga. Yusril dan jajarannya memilih seminar online sebagai pengganti proker yang ditiadakan. Langkah ini bertujuan untuk tetap mengembangkan skill para atlet di tengah pandemi ini.

“Kami memberikan tugas untuk membuat video singkat, mengenai kebugaran tubuh hingga tips dan trik mereka melakukan aktivitasnya. Seperti yang basket bisa memberikan video saat menggiring bola dan lain sebagainya,” terang Yusril.

 

Dampak untuk Kaderisasi di Masa Pandemi

Kondisi jalannya proker akibat pandemi memang masih dapat disesuaikan. Namun, keadaan ini membuat proses kaderisasi di OKI menjadi sulit karena tidak dapat bertemu secara langsung. “Akibat pandemi ini selain proker yang tertunda, kami juga terganggu dalam masalah pengkaderan atau regenerasi, dikarenakan berubahnya metode yang awalnya offline menjadi online. Maka kita perlu mengkaji ulang soal metode apa yang tepat pada kondisi yang seperti ini,” ucap Besta.

Komunikasi juga menjadi salah satu faktor kendala yang terjadi selama masa pandemi. Afif mengungkapkan bahwa komunikasi antar anggota selama pelaksanaan proker daring itu penting agar tidak disalahartikan. WhatsApp menjadi media pilihan yang sering digunakan HMA ketika melakukan sharing, sedangkan ketika rapat cenderung memanfaatkan Google Meet.

“Dua platform ini memiliki keunggulan masing-masing, WhatsApp lebih efektif dalam penghematan kuota, tapi kurang efektif dalam penghematan waktu. Sedangkan Google Meet sebaliknya, lebih efektif dalam penghematan waktu, namu kurang efektif dalam penghematan kuota,” jelas Afif.

Menurut Yusril, pada masa pandemi ini keluhan mengenai proker yang tidak berjalan sudah menjadi hal biasa, kebijakan atasan pun tetap sama untuk tetap menjalankan sesuai prosedur kesehatan. Namun, hal lain seperti dampak berkepanjangan terhadap berlangsungnya proker yang tidak terlaksana akan berpengaruh pada generasi periode selanjutnya.

“Pengurus periode selanjutnya akan merasa kebingungan saat diberikan proker yang tidak terlaksana ini, pengalaman pun akan sangat kurang diakibatkan banyak proker tidak terlaksana di periode sebelumnya,” tutup Yusril.

 

(Nuraica, Raihanah, Rika)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.