Dibalik Kebijakan Baru Pengurangan Jumlah Minggu Kuliah di Polinema

Sumber: bogor.tribunnews.com

Kebijakan Politeknik Negeri Malang (Polinema) dalam mengurangi jumlah minggu tatap muka di kelas pada tahun ajaran 2018/2019 sempat mengejutkan mahasiswa Polinema. Jumlah minggu tatap muka yang sebelumnya berjumlah 18-19 minggu, dikurangi menjadi 16-17 minggu. Lantas apa alasan Polinema mengurangi jumlah minggu tatap muka di kelas? Menurut Supriatna Adhisuwignjo, ST,MT, selaku Pembantu Direktur I, alasan diberlakukannya kebijakan ini adalah untuk mengikuti standar minimal yang diatur dalam Peraturan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2015 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi atau biasa dikenal dengan SN Dikti. Pada Pasal 15 ayat (2) dijelaskan, semester merupakan satuan waktu proses pembelajaran efektif selama paling sedikit 16 (enam belas) minggu, termasuk ujian tengah semester dan ujian akhir semester.

Berkurangnya jumlah minggu tatap muka di kelas dirasa tidak akan berdampak pada penurunan kualitas mahasiswa Polinema. Pasalnya, meskipun jumlah minggu untuk kegiatan perkuliahan berkurang namun jumlah menit per mata kuliah bertambah. Yang sebelumnya kegiatan tatap muka per minggu adalah 45 menit, mulai tahun ajaran 2018/2019 jumlah tersebut akan bertambah menjadi 50 menit. Kebijakan ini juga mengacu pada SN Dikti pada Pasal 17 ayat (1a) yang berisi : Kegiatan tatap muka 50 (lima puluh) menit per minggu per semester. “Yang semula 45 menit itu kami tidak punya dasar hukum penyelenggaraan. Maka di pedoman yang baru nanti sekaligus kami sesuaikan dengan SN Dikti. Cuma yang ini kami tidak melampaui standar minimal. Ini persis sama dengan yang ada di SN Dikti.”, jelas Bapak Supriatna. Sehingga secara global pengurangan jumlah minggu tatap muka di kelas dan penambahan jumlah menit kegiatan tatap muka per minggu tidak akan terpaut jauh. Karena apabila dihitung, total jam selama mahasiswa kuliah dari kelas satu hingga kelas tiga (untuk D3) dan kelas empat untuk D4 (untuk D4) secara total jamnya tidak berkurang secara signifikan. “Sehingga kompensasi yang dua minggu ini dilarikan ke penambahan jam tiap hari itu tadi.” Lanjut beliau.

Dengan berubahnya jumlah minggu tatap muka pada tahun ajaran 2018/2019 akan membawa dampak non-akademis, yaitu penyelenggaraan kuliah yang tidak terlalu jauh dengan perguruan tinggi lain di Kota Malang. Waktu perkuliahan Polinema bisa bersamaan dengan mahasiswa dari perguruan tinggi yang lain. Dengan demikian, apabila ada mahasiswa Polinema yang ingin meningkatkan rasa kebersamaan dan bersinergi dengan mahasiswa dari perguruan tinggi lain melalui aktivitas saat liburan, jadwal mereka tidak bentrok.

Dampak lainnya yang juga tidak luput akibat kebijakan baru ini adalah untuk mahasiswa Polinema yang sedang melaksanakan kegiatan Praktik Kerja Lapangan (PKL) yaitu mahasiswa semester 5 (jenjang D3) dan semester 7 (jenjang D4) Jurusan Teknik Elektro, Jurusan Administrasi Niaga, dan Jurusan Teknik Mesin. Karena kegiatan PKL yang umumnya dimulai pada awal Agustus tersebut akan berakhir sekitar awal September. Itu berarti mahasiswa yang melaksanakan kegiatan PKL akan kehilangan 1-2 minggu kegiatan awal perkuliahan mereka di semester ganjil. Namun pihak Polinema sudah mengantisipasi hal tersebut. Yakni dengan meminta mahasiswa yang sedang melaksanakan PKL untuk mengumpulkan surat tanda diterima PKL ke jurusan atau koordinator PKL, lalu akan dibuatkan surat dispensasi tidak mengikuti kuliah selama tanggal 27 hingga 31 Agustus 2018.

Lalu bagaimana dengan tanggapan Mahasiswa Polinema mengenai kebijakan baru ini? Salah satu mahasiswi Polinema dari Program Studi D4 Teknik Informatika, Syilvia Windy Kharisma Putri, mengaku mendukung kebijakan tersebut dan senang karena jika minggu tatap muka berkurang maka bisa libur lama seperti perguruan tinggi lain. “Tapi waktu tahu menitnya ditambah, itu agak lemas. Karena kegiatan lebih lama di kampus, belum lagi kalau mengerjakan tugas. Tapi menurut saya tidak apa-apa, sih. Setiap kebijakan yang diambil pasti ada kurang lebihnya.” Ucap mahasiswa yang akrab dipanggil Syilvi.

Pendapat Syilvi senada dengan harapan dari Bapak Supriatna. Beliau berharap dengan dijalankannya kebijakan baru yang sesuai dengan ketentuan pemerintah, pelaksanaan pembelajaran atau perkuliahan di Polinema bisa selaras dengan keputusan pemerintah. Apalagi Polinema menyandang status perguruan tinggi negeri sehingga harus patuh dengan peraturan yang ada dari pemerintah.

(Adinda Dwi L.)

Related Posts