Sun. Jan 17th, 2021

LPM Kompen

Katakan yang Benar Walau itu Getir

Di Balik Diperpanjangnya Pemungutan Suara Pemira: dari Ancaman Kompensasi Hingga Malasnya Publikasi

3 min read

Ilustrasi pemungutan suara Capres BEM dan SC DPM Polinema secara daring. (Raihanah)

Pemungutan suara pemilihan raya (pemira) kini sedang berlangsung sejak tanggal 14– 27 Desember 2020. Dalam pemira ini, mahasiswa berkesempatan untuk memilih calon presiden (Capres) dan wakil presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) serta Steering Committee (SC) Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) periode 2020/2021. Seharusnya pemilihan berakhir pada 21 Desember 2020, namun karena jumlah total suara masuk belum memenuhi targetan, pemungutan suara diperpanjang hingga 27 Desember. Bayu Aji Setia Budi selaku Ketua Pelaksana (Kapel) Pemira, mengaku tidak bisa memberitahukan jumlah suara terbaru karena alasan privasi. “Dengan adanya perpanjangan ini, mahasiswa yang belum menggunakan hak suaranya bisa menggunakan kesempatan ini dengan baik,” tutur Bayu.

Pemilihan ini dilakukan secara daring melalui website https://pemira-dpm.online. Untuk login web, mahasiswa perlu memasukkan username dan password berupa Nomor Induk Mahasiswa (NIM) serta tanggal lahir. Selanjutnya, pemilih memasuki beranda dan terdapat kolom untuk memilih pemilihan Capres BEM atau SC DPM. “Untuk SC DPM bisa diakses hanya berdasarkan daerah pemilihan (dapil) dari masing-masing jurusan,” ujar Bayu. Model pemilihan ini juga menuai apresiasi dari pemilih. “Sistem pemungutannya mudah, tidak rumit dan praktis,” ujar Yannuarisma Mega, mahasiswi D4 Keuangan.

Sosialisasi mengenai pemungutan ini telah dilakukan melalui sosial media dan bantuan beberapa pihak, di antaranya himpunan jurusan, Instagram @polinema_campus serta ditampilkan di slider Learning Management System (LMS) Polinema. “Untuk promosi kami bekerjasama dengan HMJ untuk menyebarkan ke kelas-kelasnya,” ujarnya.

Euforia yang Semu

Walaupun begitu, euforia dari pemira 2020 belum terasa begitu meriah di kelas-kelas mahasiswa. Salah satu mahasiswa Nur Taufiq Ardiansyah, dari D4 Manajemen Pemasaran mengungkapkan jika masih banyak yang belum tahu tentang pemira. “Belum memilih, karena pemberitahuan di grup tertimbun pesan lain. Juga gatau milihnya di mana dan kapan calonnya memberitahukan visi dan misinya,” ujar Nur. Hal ini juga dirasakan mahasiswa lain yaitu Yannuarisma Mega dari D4 Keuangan. “Belum pernah ketemu, gak tahu orangnya juga, visi misinya juga online jadi kurang pas,” ujar Mega.  Hal ini menandakan hasil orasi dan debat kemarin yang belum begitu terdampak juga tersosialisasikan.

Berdasarkan pengamatan reporter Kompen, sosialisasi di kelas-kelas memang telah berjalan. Namun, terdapat ketua kelas yang mengaku tidak ada follow up mengenai pemungutan yang diperpanjang bahkan pemberitahuan pemungutan suara yang tidak mereka dapatkan. Akibatnya masih terdapat mahasiswa yang tidak tahu pemungutan diundur atau sudah dimulai. Hal ini dirasakan oleh salah satu ketua kelas Karina Bella dari D4 Jaringan Telekomunikasi Digital (JTD) yang mengaku tidak tahu dan terkejut jika pemungutan sedang berjalan. Karina tidak menerima pemberitahuan dan tidak ada yang mengingatkan lagi tentang hal ini.  Ketua kelas lain, Syamsul Huda dari D4 JTD menuturkan jika pemberitahuan hanya di grup ketua kelas dan tidak ada follow up kabar terbaru.

“Mengenai sosialisasi pemilihan yang diundur, saya kurang tahu, saya tidak mendapat informasi tersebut. Pemberitahuan pemungutan aja udah lama banget, 14 Desember lalu,” ujar Syamsul.

Selain itu, beredarnya tagar #Golput2JamKompensasi di awal masa pemilihan juga mengundang pro dan kontra. Salah satunya Yannuarisma, ia  mengatakan bahwa ia tak setuju dengan diadakannya kompensasi bagi mahasiswa yang tidak memilih atau golongan putih (Golput). “Menurut saya itu haknya orang yang golput, karena bisa dijadikan evaluasi yang golput itu jumlahnya berapa, terus kenapa bisa banyak,” ucapnya.  Berbeda dengan Fajriyah Mayzura Agustin, mahasiswi D3 Manajemen Informatika yang setuju diadakannya kompensasi. “Awalnya saya kira boongan, tapi kalau betulan gapapa sih, agar warga Polinema dapat menyalurkan suaranya secara merata,” ujar Fajriyah.

Namun ternyata, sebenarnya tagar tersebut tidaklah benar. Setelah banyak mendapat protes dari mahasiswa, akhirnya tagar ini dihapus. Bayu Aji beralasan jika itu hanya sebagai cara mem-branding pemira. “Karena memang ada mahasiswa yang memprotes, tagar golput kompen dua jam itu dihapus dan kita sudah upload pamflet beserta caption terbaru yang ada di Instagram pemira,” sanggahnya.

Berakhirnya pemilihan hanya tinggal menghitung hari. Sosialisasi yang masif dan pengecekan harus segera dilakukan kembali untuk mencapai target pemilih. Tidak adanya follow up atau sosialisasi ulang dalam tiga minggu pemungutan, akan menyebabkan mahasiswa lupa dan pemberitahuan pemira semakin terpendam.

(Raihanah, Salsabila, Shanti)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.