Sat. May 8th, 2021

LPM Kompen

Katakan yang Benar Walau itu Getir

Deliberate Practice: Rahasia menjadi Ahli dalam Segala Bidang

5 min read

Identitas Benjamin franklin, terkenalnya.

Benjamin Franklin, salah satu bapak pendiri Amerika Serikat  merupakan ilmuwan, politikus, dan penulis hebat yang diakui dunia. Sebagai penulis, Benjamin Franklin tidak menjadi hebat dalam satu malam. Jauh sebelum itu, dia adalah penulis yang payah. Ketika remaja, Benjamin sering diolok ayahnya karena tulisannya yang buruk. Ia sadar, ejaan dan tata bahasanya bagus, namun payah dalam mengespresikan idenya. Lalu ia memutar otak, mencari metode paling tepat untuk memperbaiki tulisannya.

Suatu hari, ia menemukan artikel yang diterbitkan majalah favoritnya The Spectator. Dia terkesima dengan tulisan di majalah tersebut dan bertekad meningkatkan kemampuan menulisnya. Cara belajar Benjamin cukup unik, yakni:

  • Benjamin remaja mengambil satu artikel sebagai acuan.
  • Lalu untuk setiap kalimat dalam artikel, ia buat sebuah catatan tentang makna kalimat tersebut.
  • Setelahnya ia meninggalkan tulisan dan catatan tersebut selama beberapa hari.
  • Lalu ia menulis ulang artikel dengan kalimatnya sendiri berdasar catatan tersebut dan membandingkan dengan versi aslinya.

Dari metode itu, ia sadar, perbendaharaan katanya sangat miskin. Dia menemukan penyebab mengapa tulisannya buruk sekali. Dengan metode itu, ia menulis ulang puluhan artikel dari berbagai penulis terkenal hingga menemukan gayanya sendiri.

***

Kisah di atas merupakan contoh dari metode latihan yang dibahas dalam buku “Talent is Overrated” karangan Geoff Colvin. Dalam kisah itu, diceritakan Benjamin muda memecah proses latihan menulis menjadi beberapa bagian; dia mengidentifikasi kelemahan, menguji strategi baru untuk setiap bagian, lalu menyatukan semua proses menjadi satu metode pembelajaran yang terintegrasi.

Kini studi tentang latihan, kerja keras, dan bakat semakin berkembang secara ilmiah. Metode latihan layaknya Bejamin ini telah diteliti oleh para ahli dan dinamakan Deliberate Practice.

Apa itu Deliberate Practice?

Deliberate Practice (DP) adalah metode latihan yang terencana dan sistematis dengan tujuan meningkatkan performa dan menguasai suatu bidang. Istilah ini pertama kali diperkenalkan dalam artikel “The Role of Deliberate Practice in the Acquisition of Expert Performance” yang ditulis oleh K. Anders Ericsson, seorang Profesor Psikologi di Florida State University pada Juli 1993. Sebelum sampai pada kesimpulan DP, Ericsson mendedikasikan dirinya untuk meneliti kinerja dan perilaku para expert di berbagai bidang.

Deliberate Practice adalah metode yang berfokus pada latihan yang keras, spesifik, dan berkelanjutan untuk fokus melatih hal yang belum dikuasai. Kesalahan paling umum dalam latihan adalah terlalu fokus pada hal yang sudah dikuasai. Akibatnya adalah lambatnya atau bahkan tidak ada perkembangan signifikan sama sekali. Lebih mudahnya, mari kita analogikan dalam sepak bola:

Johan remaja yang tidak jago bermain sepak bola. Menurutnya dengan banyak bermain sepak bola maka dia akan mahir dengan sendirinya. Namun setelah berkali-kali bermain, dia tidak merasakan perkembangan terhadap kemampuannya. Dia tetap tidak bisa menggiring, mengumpan, dan melakukan shoot dengan bagus. Menurut Ericsson, latihan Johan seperti ini tidak berpengaruh signifikan untuk menjadi Superior Performer, karena hanya melatih permainan tapi tidak dengan teknik yang harus diperbaiki..

Dalam DP, Johan seharusnya memetakan latihan mulai hal mendasar. Pertama, latihan teknik dasar yaitu teknik menggiring bola dan menerima bola, kemudian berlanjut teknik mengumpan. Selanjutnya melatih tendangan dan teknik-tekniknya seperti akurasi, perkenaan, dan kekuatan tendangan. Setiap hasil dan perkembangan dari hari ke hari harus diukur dengan saksama. Nah melatih hal-hal dasar dan memetakan kelemahan secara berulang-ulang  inilah yang dinamakan Deliberate Practice.

Anders Ericsson dalam artikelnya mengenalkan empat elemen DP. Elemen inilah yang membedakan dengan latihan biasa, apa saja kah itu?

  1. Desain latihan dengan tepat

“Practice not makes perfect, perfect practice that makes perfect”

Bukan latihan biasa yang membuat kita berkembang, tapi latihan yang benar, dan latihan yang benar adalah latihan yang terencana.

Michael Jordan pernah berkata:

“Kamu dapat berlatih menembak delapan jam sehari, tetapi jika teknikmu salah, maka kamu akan ahli dalam menembak dengan cara yang salah. Kuasai hal mendasar dan semua level yang kamu lakukan akan meningkat”

Percuma jika kita latihan 10.000 jam tetapi dengan teknik yang salah. Maka performa kalian akan sulit untuk berkembang. Buat rencana latihan. Analisa apa kelemahan dan kesalahan yang sering dilakukan, kenapa kalian selalu gagal? Lalu buat rencana untuk perbaikan. Simak contoh perbandingan desain latihan dari Aubrey Daniels, seorang konsultan Sumber Daya Manusia Profesional.

(Ilustrasi: Arya)

Contoh tersebut menjelaskan perbandingan antara latihan yang terencana dengan yang biasa saja. Dengan perencanaan yang matang, tentu pemain A lah yang lebih baik.

Contoh lain dari Josh Waitzkin, penulis The Art of Learning seorang seniman bela diri yang memegang beberapa medali nasional di Amerika Serikat dan kejuaraan dunia tahun 2004. Di final salah satu kompetisi, ia melihat kelemahannnya. Ketika lawan secara ilegal memukul kepalanya, Waitzkin menjadi marah, kehilangan kendali, dan melupakan strateginya. Setelah itu, ia secara khusus mencari lawan latihan yang mampu bermain kotor. Sehingga ia dapat berlatih mengendalikan emosi saat menghadapi pertarungan yang chaos. “Pemain kotor adalah guru terbaikku,” tulis Waitzkin.

  • Repetisi, ulangi latihan hingga berkali-kali.

Dalam buku The Mindful Athlete karya George Mumford diceritakan jika untuk menjadi penembak three shooter terbaik, Kobe Bryant melakukan 1.300 tembakan three-point setiap hari saat libur.

Aktivitas Deliberate Practice harus dilakukan secara kontinu, berkali-kali, tidak hanya sekali dalam seminggu. Contohnya saat latihan bermain gitar. Ada satu skill yang harus diulang-ulang agar mahir yaitu fingering. Tentu latihannya tidak hanya sekali sehari atau empat kali seminggu, namun membutuhkan repetisi hingga puluhan dan ratusan hingga mahir. Malcolm Gladwall dalam bukunya yang berjudul Outliers: The Story of Succes mengemukakan jika 10.000 jam merupakan jumlah waktu latihan yang dibutuhkan untuk menjadi seorang ahli Namun, bukan berarti latihan hingga ribuan jam tanpa rencana. Seperti Kobe, gunakan 10.000 jam repetisi tersebut dengan Deliberate Practice.

Ini terjadi karena kecenderungan alami otak manusia untuk mengubah perilaku berulang menjadi kebiasaan otomatis. Misalnya, ketika kalian pertama kali belajar mengikat tali sepatu, kalian pasti memperhatikan setiap langkah dalam prosesnya. Tapi setelah sekian lama, otak dapat melakukan langkahnya secara otomatis.

Menurut Dan Coyle dalam bukunya The Talent Code, ketika kita berlatih berulang kali, secara fisiologis otak kita membangun zat yang disebut myelin. Myelin mampu mentransformasikan bagian otak yang sempit (bagian ketrampilan tidak terlatih) menjadi lebih lebar. Perkembangan ini tumbuh seiring skill yang terlatih.

  • Motivasi dan mental yang kuat

Elemen ketiga adalah motivasi dan mental atau dapat diartikan alasan kenapa kalian berjuang. Dalam proses latihan, kalian akan merasa frustasi, kecewa, bosan, dan berbagai kegagalan lainnya. Oleh sebab itu, kalian harus punya motivasi kuat.  Tanpa motivasi yang kuat, maka kalian akan mudah menyerah. Jika kalian memilih keterampilan untuk ditingkatkan dengan DP, pastikan itu adalah sesuatu yang kalian sukai dan ada alasan kuat dibaliknya.

  • Feedback

Perbedaan lain antara latihan biasa dan deliberate practice adalah feedback. Ada dua bentuk paling umum dari feedback yaitu:

Yang pertama dengan cara mengukur. Tes hasil latihan yang selama ini kalian lakukan. Ukur perubahan angka repetisi dari waktu ke waktu. Dari hasil tes, kita bisa tahu apakah kita bertambah baik atau semakin buruk.

Yang kedua adalah coaching. Dengan pelatih maka proses pengawasan latihan akan maksimal. Di banyak kasus, hampir tidak mungkin untuk kita mengukur dan berlatih dengan maksimal secara bersamaan. Pelatih yang baik mampu mengawasi proses latihanmu dan menemukan strategi untuk latihan terbaik.

Deliberate practice bukanlah pil ajaib, tetapi jika kalian fokus dan berkomitmen, maka janji Deliberate Practice cukup memikat: berkembang hingga mencapai level para expert.

(Arya)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.