Cari Tahu Seputar Korea melalui Joint Seminar Internasional Korea – Indonesia

Lola Ayu Istifiani, S.Gz, M.S saat menyampaikan materi seputar kuliah dan beasiswa di Korsel, Selasa (19-10). (Arya)

Pada tanggal 19 November 2019, Korea Corner di bawah naungan Kantor Urusan Internasional (KUI) Politeknik Negeri Malang (Polinema), menyelengarakan Joint Seminar Internasional Indonesia – Korea yang bertempat di Auditorium Gedung Sipil lantai 8, Polinema. Mengusung tema “Studying and Getting a Job in Korea”, seminar ini menjawab tentang kebutuhan seputar beasiswa kuliah maupun prosedur bekerja secara legal di Korea,  khususnya Korea Selatan (Korsel). Deni Pratama, selaku Ketua Umum Korea Corner sekaligus  Ketua Pelaksana (Kapel), menuturkan bahwa sasaran seminar merupakan masyarakat umum. Hal ini dikarenakan beasiswa yang dijelaskan oleh narasumber dapat ditujukan untuk jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA) hingga jenjang Sarjana. Selain mahasiswa Polinema,  acara ini juga dihadiri mahasiswa dari beberapa universitas lain, seperti Universitas Brawijaya, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, Universitas Muhammadiyah Malang, Universitas Islam Malang dan Universitas Negeri Malang. Tiket yang terjual  sejumlah 306 tiket  dengan total peserta yang hadir sekitar 290 peserta.

Seminar ini dimulai sekitar pukul 07.30 WIB. Diawali penampilan Taekwondo dan Pencak Silat dari mahasiswa Polinema, yang bermakna perpaduan dua budaya antara Indonesia dan Korsel. Dilanjutkan penampilan solo dance dari Scarlet Moe yang merupakan anggota dari Korea Corner. Hal menarik dari acara ini adalah interaksi bahasa Korea antara MC, pemateri dan peserta seminar. MC membuka acara menggunakan bahasa Korea yang disambut gelak tawa dan tepuk tangan meriah dari peserta. Acara inti dari seminar ini ialah penjelasan materi yang dibawakan oleh tiga narasumber yang diundang.  Pembahasan antar materi  dimoderatori Siti Sunariyah, S.Pd, seorang dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya.

Opening seminar dengan  solo dance dari Scarlet Moe yang berhasil menarik perhatian peserta, Selasa (19-11). (Arya)

Materi pertama membahas tentang beasiswa dan kuliah di Korsel. Materi tersebut disampaikan Lola Ayu Istifiani, S.Gz, M.S, selaku mahasiswa penerima beasiswa Korean Government Scholarship Program (KGSP) yang menempuh S2  di  Korsel. Ia mengambil jurusan Kiner Food and Nutrition Chemistry  di Universitas Daegu Daehakgyo. Lola menceritakan mengenai pengalamannya mendapatkan beasiswa dan tes bahasa yang diikutinya untuk melanjutkan kuliah di Korsel. Ia juga menyampaikan alasan memilih Korsel sebagai tempat menempuh S2. Pertimbangannya mulai dari sistem edukasi,  budaya, keamanan serta ketertiban di negara gingseng tersebut. Selama tiga tahun ia di Korsel, untuk mendapatkan pekerjaan di sana menurutnya juga cukup mudah. Syaratnya, pelamar kerja harus menguasai bahasa Korea dan Inggris. “Untuk tahun pertama di Korea hanya difokuskan pada pembelajaran bahasa Korea dan tidak boleh bolos sama sekali. Sedangkan untuk dua tahun berikutnya barulah memulai studi S2,” imbuh Lola. Beasiswa yang diberikan KGSP   meliputi semua kebutuhan studi atau full scholarship. Beasiswa ini dapat ditelisik lebih dalam dengan mengakses di www.studyinkorea.go.kr/.

Selanjutnya, materi kedua tentang prosedur bekerja di Korsel secara legal, yang disampaikan Sengguruh Nilowardrono, SE, M.Si, pemilik Hana Education, sebuah lembaga pelatihan kursus bahasa Korea. Ia membahas tentang prosedur dan badan legal yang membantu warga Indonesia untuk bekerja di Korsel. Badan legal tersebut yakni Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI). “Syarat untuk menjadi pekerja yang legal di Korsel cukup mudah. Asal pekerja mau mematuhi peraturan dan memiliki persyaratan lain yang dibutuhkan,” jelasnya.

Suasana peserta seminar tengah fokus mendengarkan penjelasan dari narasumber yang menyampaikan materi, (19-11). (Arya)

Pemateri terakhir yakni Terry Chang, SE., M.Pd, selaku Curriculum Coordinator Indonesia & Korean Culture Study (IKCS) Jakarta, yang menyampaikan materi tentang pendidikan dan budaya di Korsel. Ia menjelaskan seputar pendidikan di Korsel yang meliputi beasiswa, lingkungan, keamanan, sosial dan budaya. Selain itu,  ia juga menjelaskan beberapa beasiswa studi kuliah lanjut di Korsel, seperti beasiswa KGSP dan IKCS. Terry juga memaparkan jurusan – jurusan yang dibutuhkan di Korsel, serta memperkenalkan beberapa universitas yang populer di Korsel.  Penekanan untuk mengusai Test of Proficiency in Korean (TOPIK) juga berulangkali ia singgung agar bisa berkuliah dan bekerja di Korsel. Tes TOPIK sendiri adalah tes kemampuan Bahasa Korea yang diadakan di Indonesia dua kali dalam satu tahun. Tes ini bertujuan sebagai sertifikasi bagi mahasiswa yang ingin berkuliah, bekerja atau migrasi di Korsel.

Dari tiga materi utama yang disampaikan, terlihat peserta sangat antusias. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya pertanyaan yang diajukan.  Salah satu peserta, Shavira Angelina Al Maghfira, mahasiswa D4 Teknik Elektro, menuturkan dengan mengikuti seminar ini lebih menyadari bahwa terdapat banyak peluang untuk belajar ke luar negeri. “Acaranya bagus namun untuk moderator alangkah baiknya lebih interaktif. Untuk pergantian pemateri setidaknya ada hiburan yang diberikan kepada peserta,” imbuhnya.

Terlepas dari suksesnya acara, tentu masih terdapat kendala. Deni Pratama, menuturkan bahwa kendala yang riskan terdapat pada susunan acara, yakni dalam hal pemateri. “Karena pematerinya jauh dari Jakarta dan Surabaya, mereka kesulitan menyesuaikan waktunya,” imbuh Deni. Kendala lain yakni dalam hal menghadapi mahasiswa yang komplain mengenai surat perizinan untuk mengikuti seminar. Menanggapi kendala tersebut, Kapel berharap untuk seminar selanjutnya persiapan lebih dipercepat dua bulan sebelum acara. “Selain itu, diharapkan ke depannya lebih meningkatkan persiapan dalam segi publikasi, acara, pemateri, serta dekorasi,” pungkasnya.

(Annisa, Arya, Firda)

 

Related Posts